
Kamar Azka
Mami Atika dan Gracya sedang menemani Dyah yang masih terlihatan syok dengan kabar yang dia dengar.
" Kamu sahabatnya Dyah" kata mami Atika. " Ya nyonya saya Gracya sahabat sekaligus teman satu kelas" kata Gracya, mami Atika tersenyum.
" Kamu manggil saya tante saja karena Dyah akan menjadi menantu kami" mami Atika tersenyum di balas senyuman oleh Gracya.
Mami Atika mengelus rambut Dyah yang tertidur. " Kamu disini saja nunggu Dyah tante mau keluar dulu" kata mami Atika, Gracya menanggukan kepalanya.
Mami Atika keluar dari kamar Azka ketika dia turun Fathan memanggilnya.
" Nyonya" kata Fathan. " Fathan, sudah mandi " kata mami Atika, Fathan menanggukan kepalanya.
" Mulai hari ini kamu jangan panggil saya mami seperti Azka, karena kakakmu akan menikah dengan Azka" kata mami Atika. Fathan tersenyum bahagia dan menanggukan kepalanya.
" Fathan, kakakmu ada di dalam kamar Azka temuilah dia" kata mami Atika, Azka tersenyum dan mencium tangan mami Atika.
Mami Atika turun tangga menemui mereka di ruang tamu.
" Nenek, kakek" kata Aquira dari arah taman samping rumahnya. Mereka saling memandang bagaimana harus mengatakannya tentang keadaan Dyah.
" Papi sudah pulang" kata Aquira, duduk di pangkuan Azka, Azka tersenyum dan mencium kening putrinya.
" Papi ayo kita jemput bunda ke kampusnya dan kita bisa bermain bersama di mall" kata Ira, dengan tak sabarnya, Azka tersenyum pahit dan mengelus rambutnya.
" Ira sini sama nenek" kata mami Atika, Ira turun dari pangkuan Azka dan duduk di samping mami Atika.
" Ira ayo ikut bersama nenek" kata mami Atika." Kita ke mana nek Ira mau ke tempat bunda" kata Ira, air matanya mulai turun.
" Cucu nenek jangan nangis bunda ada disini di kamar papi" kata mami Atika. " Benarkah nek ayo kita ke kamar papi" kata Ira, dengan tak sabarnya menarik mami Atika ke kamar Azka.
Mereka tersenyum melihat tingkah Aquita tak sabar untuk menemui Dyah.
" Tuan muda anda beruntung memiliki calon istri seperti nona Dyah putri anda sangat menyayanginya" kata Collin.
" Ya bahkan dia lebih menyayangi bundanya daripada aku" kata Azka, mereka tersenyum.
__ADS_1
Kamar Azka.
Dyah sudah bangun dari tidurnya Azka berada di sampingnya sambil memeluknya, Gracya duduk di sampingnya.
" Bunda" teriak Aquira bahagia melihat Dyah dan berlarian menaiki kasur langsung memeluk Dyah, Gracya mempersilahkannya duduk.
" Bunda kok tidak tidur di kamar Ira kita kan bisa tidur bersama " kata Aquira, mereka tersenyum.
" Kakak kenapa tadi kak Azka menyuruh temannya menjemput Fathan ke sekolah? " Fathan.
Dyah menatap mereka dan tersenyum pada adiknya. " Fathan untuk beberapa hari ini tinggal di sini dulu ya" kata Dyah.
" Kenapa kak? " Fathan. " Kakak ada tugas kampus di luar kota nanti kakak hubungi bibi Sumi bawakan barang dan pakaianmu" kata Dyah, Fathan menanggukan kepalanya.
" Nyonya saya ingin keluar" kata Dyah. " Tapi dengan satu syarat kamu harus memanggil saya mami" kata mami Atika, Dyah tersenyum dan menanggukan kepalanya.
Mereka keluar dari kamar Azka menuju ruang tamu menemui mereka.
" Sayang kenapa tidak istirahat saja? " Azka, berdiri memegang tangan Dyah, mami Atika dan Gracya tersenyum dan duduk di kursi.Bibi Ina mengajak kedua anak itu bermain di taman.
" Dyah ingin masalah ini selesai mas" kata Dyah, tersenyum. Azka mengajaknya duduk di kursi.
" Perkenalan nona saya Collin yang akan membantu anda" kata Collin.
" Terima kasih pak" kata Dyah, menanggukan kepalanya.
" Nona kalau boleh saya tahu apakah anda memiliki surat penting kepemililikan rumah anda" kata Collin.
" Ada pak saya akan hubungi orang rumah untuk membawakannya" kata Dyah, menghubungi bibi Sumi untuk membawa barang adiknya juga tas kecil ada di dalam lemarinya.
" Dyah, om, tante, tuan. Gracya pulang dulu hari sudah sore takutnya orang di rumah nyariin" kata Gracya pamit pada mereka.
" Gracya untuk beberapa hari aku izin ya menyelesaikan masalah ini" kata Dyah, Gracya tersenyum dan menanggukan kepalanya.
" Akbar antar dia" kata Azka, Gracya terkejut. " Nggak usah tuan saya bisa sendiri" kata Gracya, merasa malu teringat kejadian di kantor Azka dia memeluk Akbar.
" Grac tak apa pak Akbar mengantarkanmu apalagi hari sudah sore takkan ada kendaraan, apalagi mobilmu masih di kampus" kata Dyah. dengan terpaksa Gracya setuju di antar oleh Akbar.
__ADS_1
Akbar pamit pada mereka mengantar Gracya pulang ke rumahnya.
"Dimana alamatnya? " Akbar. Gracya menyebut alamatnya ternyata tidak jauh dari perusahaan Alexanders Group.
Selama perjalanan tak ada suara terdengar Akbar fokus dengan mengendarai mobilnya sekali melirik Gracya yang sedang melihat arah jalan.
" Terima kasih pak atas bantuannya" lata Gracya, mereka sudah sampai di rumah Gracya, Akbar menanggukan kepalanya setelah memastikan Gracya masuk Akbar kembali ke kediaman keluarga Alexanders.
Bibi Sumi segera ke kediaman keluarga Alexander setelah menemukan Dyah minta dan barang Fathan.
" Assalamualaikum " ucap bibi Sumi.
" Waalaikumsalam, bibi Ina apa kabar" kata bibi Sumi, melihat bibi Ina yang membuka pintu. Mereka saling berpelukan.
Bibi Ina mengajaknya masuk karena Dyah dan lainnya menunggunya.
" Dyah ini tas yang kamu minta" kata bibi Sumi, memberikan tas pada Dyah.
" Terima kasih bi, bi untuk sementara bibi dan Fathan nginap disini karena Dyah ada urusan " kata Dyah, Bibi Sumi tersenyum dan menanggukan kepalanya.
Bibi Ina mengajak bibi Sumi istirahat di kamarnya karena kamar lama bibi Sumi sudah ada yang menempatinya.
" Pak ini suratnya" kata Dyah, mengeluarkan beberapa surat dari dalam tasnya. Collin mengambilnya dan membacanya resmi.
" Collin bagaimana? " papi Ammar. " Alhamdulillah, surat ini sah bahwa rumah itu atas nama nona Dyah dan ada toko sembako atas nama Fathan" kata Collin.
" Ya pak sebelum kecelakaan ayah dan ibu memindahkan semua itu atas namaku dan Fathan, Dyah sempat bertanya kenapa ayah merubah nama rumah dan toko menjadi nama Dyah dan Fathan, waktu itu ayah hanya menjawab itu adalah hak kalian" kata Dyah, menundukan kepalanya, Azka memegang tangannya.
" Nak sekarang toko sembako itu siapa yang mengurusnya ?" papi Ammar.
" Ada papi orang kepercayaan ayah tapi sejak Dyah pindah ke sini tak pernah mendapat laporan tentang toko tersebut dan Dyah sering menghubunginya tapi tak aktif. Mas apakah mereka juga ingin mengambilnya itu adalah hak nya Fathan ibu menjual semua perhiasannya untuk membangun toko itu" kata Dyah, menangis dalam pelukan Azka.
" Sayang kita akan menyelesaikannya dan mas akan memperjuangkan hak kalian" kata Azka, menghapus air matanya.
" Mas ayo kita pergi" kata Dyah yang tak sabar untuk pergi ke kampung melayu.
" Sayang sebaiknya kalian besok pagi pergi karena hari mulai gelap" kata mami Atika, mengusap punggung Dyah. Dyah menanggukan kepalanya.
__ADS_1
Collin pamit kembali ke rumahnya karena dia akan memperlajari masalah ini.