
" Bunda"
Dyah mendengar suara yang sangat dia kenali tapi dia mencoba menghilangkan fikirannya, tidak mungkin nonanya ada disini.
Ketika Dyah mencari supir majikannya dia terkejut ada tangan kecil memeluknya.
" Bunda kenapa tidak melihat Ira, Ira kan memanggil bunda sejak tadi" kata Aquira tersenyum sambil melihat Ira tapi dia menjadi bingung kenapa nona kecilnya ada di sini.
Dyah berjongkok mengelus rambut Aquira dia tersenyum lega setelah tahu nona kecilnya ke sini dengan supir majikannya.
Dyah berdiri sambil melipatkan tangannya di dada dan menatap tajam ke arah Aquira.
" Ira kenapa kesini sendiri ? Apa nenek tahu kalau Ira kesini? " Dyah. Aquira memajukan bibirnya.
" Bunda tidak suka ya jika Ira kesini, Ira rindu bunda karena bunda lama pulangnya dan nenek sudah tahu kalau Ira kesini sama pak supir" kata Aquira, Dyah tersenyum memeluk Aquira.
Dyah berdiri membawa Aquira dalam gendongannya ketika akan pergi dia terkejut kalau dia berada di kampus dan semua mata tertuju padanya, Dyah tersenyum melihat Gracya menatapnya tanpa berkedip.
" Gracya ayo katanya mau ke mall" kata Dyah, tanpa memperdulian mahasiswa menatapnya dan berbisik.
__ADS_1
" Ah ya ayo kita berangkat sekarang" kata Gracya. " Bunda kita ke mall" kata Ira terlihat bahagia.
Dyah tersenyum dan mencium pipi Aquira mereka menuju ke mall dengan menaiki mobil.
Tanpa mereka sadari ada beberapa sepasang mata memandang arah mereka dari balik tembik.
" Aku tak percaya bahwa dia sudah memiliki anak, apa dia menikah muda" kata Abel.
" Jangan-jangan dia mainan om lagi dan anak itu buktinya" kata Presia. Mereka tersenyum sinis memikirkan Dyah menjauhi Farel.
Farel bersama kedua temannya juga ada disana mereka tak percaya yang didengarnya.
" Mungkin itu adiknya atau keponakannya" tebak Lionel, Rayyan menanggukan kepalanya berbeda dengan Farel memikirkan yang dilihatnya.
" Apa maksud kalian bicara begitu padaku ?" Farel, mencoba menutupi perasaannya.
" Kamu kira kami tidak tahu kalau sahabat kami ini menyukai Dyah sejak masa pengenalan. Kamu sering memandangnya" kata Rayyan.
Farel pergi begitu saja dan sahabatnya tertawa melihat sikap Farel yang menghindar.
__ADS_1
Mall
Dyah dan lainnya sudah sampai di mall, Dyah pun sudah menceritakan semuanya pada Gracya agar tidak ada salah paham nantinya.
Mereka menuju ke toko buku mencari buku yang di butuhkan selama belajar sedangkan Aquira dengan tenangnya menemani Dyah.
Azka dan Akbar juga berada di mall bertemu klien di salah satu restoran, ketika akan pulang Azka melihat putrinya bersama Dyah di salah satu restoran.
Selesai membeli buku Aquira mengajak Dyah dan Gracya makan es krim.
" Dyah jika kamu tidak bercerita semuanya aku pasti mengira Ira adalah putri kandungmu, kalian terlihat ibu dan anak sesungguhnya" kata Gracya, Dyah tersenyum.
" Papi" teriak Aquira ketika melihat Azka masuk restoran, Dyah terdiam membeku jika Azka marah padanya.
" Dyah aku tidak bermimpi kan tuan Azka Alexanders adalah papi Aquira" bisik Gracya, melihat Dyah tersenyum dia menutup mulutnya.
Azka menatap ke arah Dyah. " Tuan maaf saya ingin beli buku dan nona ikut pak supir menjemput saya" kata Dyah, menunduk kepalanya.
Azka duduk dengan Aquira di pangkuannya. " Dyah duduklah" kata Azka, Dyah menanggukan kepalanya dan duduk diikuti oleh Gracya.
__ADS_1
" Bagaimana dengan kuliah pertamamu?" Azka. " Alhamdulillah tuan semuanya baik" kata Dyah, Azka menanggukan kepalanya.
Gracya terkejut melihat Azka perhatian pada Dyah dia sering mendengar Azka memiliki sikap dingin, tapi yang dia lihat malah sebaliknya.