
Azka memikirkan perkataan dokter Ryan sejak sakit dia memang belum memberitahu pada Helena bahwa dia sakit.
" Apa aku harus memberitahunya" guman Azka memegang HP ditangannya. Azka memutuskan menghubungi Helena tapi tak diangkat.
" Mungkin dia sibuk, nanti wkan ku coba menghubunginya lagi" kata Azka.
Kret pintu terbuka.
Azka tersenyum melihat orangtuanya datang begitu pula dengan orangtuanya juga merasa senang setelah mendapatkan kabar dari dokter Ryan bahwa putranya sudah sadar.
Kedua orangtuanya menghampiri Azka di brankar sambil tersenyum.
" Papi, mami" ucap Azka. " Kami senang melihatmu sudah bangun, nak. Semalam mamimu gelisah tak bisa tidur" Papi Ammar, tersenyum mengusap kepala putranya.
" Papi mami hanya khawatir baru saja beberapa hari kita pergi dia sudah jatuh sakit, sayang dimana cucu kami dan Dyah? " mami Atika tak melihat cucunya dan Dyah.
" Mereka" .Sebelum Azka menyelesaikan ucapannya Aquira dan Dyah sudah kembali dari kantin.
__ADS_1
" Assalamualaikum tuan nyonya" Dyah menyalami kedua majikann.Keduanya tersenyum. " Dyah gimana Aquira? " Mami Atika tak melihat cucunya yang biasanya selalu bersama Dyah.
" Bunda ini berat" kata Aquira masuk membawa kantong berisikan makanan. Mereka disana tersenyum melihat Aquira sulit membawa kantongnya.
" Sayang mari oma bantu" kata mami Atika mendekati cucunya. " Oma stop"sahut Aquira sangat jelas dia kesusahan membawanya menuju meja.
" Kenapa sayang itu pasti berat atau opa yang bantu" papi Ammar mencoba mendekatinya kembali Aquira melarangnya.
" Ih opa ini untuk Ira bukan untuk opa dan oma" Aquira memajukan bibirnya. Mereka disana tertawa melihatnya, Azka tersenyum sudah lama dia tidak merasa sebahagia ini dia merasa menyesal telah menjauhi putri kecilnya.
Mereka menanggukan kepalanya kembali melihat Aquira dengan ngongosan duduk di sofa dan meletak kantong di atas meja, mereka mendekatinya dan duduk di sampingnya.
" Sayang tidak memberi satu untuk opa dan oma" kata Dyah dengan senyuman, Aquira menatap Dyah sambil meletakan tangannya di dagunya. Mereka menahan tawa melihat kelucuan Aquira.
" Um boleh tapi hanya satu ya bunnda" kata Aquira pada Dyah, Dyah tersenyum dan menanggukan kepalanya. Aquira membagikan kuenya pada opa dan omanya satu persatu.
" Nyonya maaf adik saya bagaimana? " Dyah mengkhawatirkan Fathan sudah seharian dia meninggalkan adiknya sejak semalam.
__ADS_1
" Dyah, kamu jangan khawatir bibi Ina menemaninya semalam" kata mami Atika, Dyah tersenyum dan menanggukan kepalanya.
" Dyah, jika kamu ingin pulang silahkan" kata Azka, Dyah terkejut dengan perkataan Azka yang tiba-tiba tiba.
" Tapi tuan siapa yang nantinya menemani tuan, saya baik saja tuan nanti saya minta bibi Ina untuk menemani adik saya" kata Dyah, menunduk.
' Dyah, saya sudah sehat apalagi sebentar lagi Akbar datang, biar dia yang menemani saya malam ini. Kamu bawalah Ira bersamamu disini pasti tidak nyaman" kata Azka.
Dyah menanggukan kepalanya. " Terimakasih tuan muda" sahut Dyah. Azka menanggukan kepalanya. Kemudian Dyah pamit pulang tentu Aquura ikut bersamanya.
Tinggalah orangtua Azka bersamanya dalam ruangan rawatnya.
" Azka kapan Akbar datang?" Papi Ammar. Taklama Akbar datang membawa beberapa berkas dalam tasnya.
" Beruntung kamu Akbar, baru saja namanya disebut kamu sudah datang" kata mami Atika, menetik pesan di HP.
Azka dan papi Ammar tersenyum sedangkan Akbar bingung dengan hal ini.
__ADS_1