
Author minta maaf karena beberapa hari ini menulis hanya sedikit karena keadaan yang tak dapat di sebutkan, author harap pembaca selalu senantiasa memberikan kritik dan saran pada author dalam penulisan.
Author akan kembali melanjutkan menulisnya sulahkan nikmati cerita setiap episodenya.
Kembali ke cerita
*Author mengucapkan terimakasih#
Beberapa hari kemudian keadaan Aquira semakin membaik Dyah dan Fathan selalu menemaninya di rumah sakit saat pulang dari sekolah dan kampus, Azka sudah tahu selama sebulan ini Dyah tinggal di rumah lama mami Atika dan mengurus cafe yang ditinggalkan oleh orangtua mami Atika.
Saat ini Aquira hanya ditemani oleh Dyah karena Azka ada pertemuan yang tak dapat dia tinggalin dan orangtua Azka ada reuni bersama sahabatnya, Aquira sangat merasa bahagia karena hari ini hanya berdua dengan Dyah.
" Bunda, Ira senang karena kita berdua di ruangan ini dan papi tak menanggu kita" kata Aquira, dengan bahagianya.
Dyah tersenyum sambil merapikan rambut Aquira. " Sekarang putri bunda sudah cantik" sahut Dyah, Aquira membalikan tubuhnya dan berdiri du tempat tidurnya dan memeluk Dyah dengan tangan mungilnya.
" Bunda ayo katakan pada papi kapan Ira bisa pulang dan kita akan bermain bersama lagi" kata Aquira, dengan cemberut.
" Uh putri bunda tidak boleh cemberut kita harus menunggu kata dokter dulu, Ira harus sabar sayang" kata Dyah, Aquira menanggukan kepalanya.
Tok tok tok
" Tunggu dulu ya sayang bunda buka pintu dulu" kata Dyah. " Bunda ayo buka pintunya itu pasti nenek dan kakek" kata Aquira, dengan tak sabarnya Dyah hanya menggelengkan kepalanya.
Dyah membuka pintu ternyata yang datang adalah dokter Dyah melihat Ira yang cemberut karena bukan kakek dan neneknya yang datang, Dyah mempersilahkan dokter masuk untuk melakukan pemeriksaan.
" Anak cantik ini kenapa terlihat kesal? " dokter, sedang melakukan pemeriksaan terakhir untuk Aquira terakhir kalinya sebelum pulang.
" Maaf dokter putri saya kira yang datang itu adalah kakek dan neneknya" kata Dyah, dengan senyum, Doktet tersenyum dan menanggukan kepalanya.
" Dokter bagaimana keadaan putri saya" kata Dyah, dengan khawatir.
__ADS_1
" Nona jangan khawatir keadaan putri anda sudah membaik sore ini sudah boleh pulang" kata dokter.
" Terima kasih dok" sahut Dyah, menyalami dokter.Dokter pamit dan boleh meminta Dyah untuk mengurus administrasi kepulangan Aquira.
" Apakah sekarang putri bunda ini bahagia karena telah diperbolehkan pulang" kata Dyah. " Hihi" Aquira tertawa bahagia Dyah tersenyum mengelus rambut Ira.
Dyah menghubungi Azka, mami Atika dan papi Ammar untuk memberitahu kalau Aquira sudah diperbolehkan pulang sore ini.
Perusahaan Alexanders Group.
Perusahaan kedatangan klien dari Amerika perusahaan mereka sudah lama bekerja sejak daddy Ammar yang memimpinnya.
Terlihat seorang pria yang tak muda lagi bersama wanita cantik masuk ke perusahaan Alexanders Group.
" Tuan, nona apa ada yang saya bantu? " resepsionis.
" Kami ingin bertemu dengan tuan Azka Abbiya Alexanders" kata wanita, dengan mengayun manja pada pria di sampingnya. Resepsionis melihat penampilan wanita di depannya yang berpenampilan ****.
" Saya CEO dari perusahaan Wellen Group dan ini putri saya Karlina Wellen, kami ingin bertemu tuan Azka dengan membahas pekerjaan" kata tuan Wellen.
" Tunggu sebentar tuan saya akan menghubungi sekretaris tuan Azka " kata resepsionis.
" Dadd aku tak sabar lagi bertemu dengan tuan Azka setelah Helena memberi kabar padaku mengenai Azka membatalkan pernikahan mereka aku bahagia karena masih memiliki kesempatan untuk memilikinya" bisik Karlina pada tuan Wellen.
Tuan Wellen menenangkan putrinya yang tak sabar bertemu dengan Azka, resepsionis mempersilahkan mereka masuk karena Azka sudah menunggunya.
Ruang Azka.
Azka bahagia mendengar kabar dari Dyah kalau putrinya sudah di perbolehkan pulang, dia sangat ingin ke rumah sakit tapi karena ada klien terpaksa menemuinya terlebih dahulu.
" Tuan muda tuan Wellen dan putrinya sudah datang" kata sekretaris. " Persilahkan masuk" sahut Azka, fokus dengan berkas di atas meja.
__ADS_1
Sekretaris mempersilahkan mereka masuk kemudian pamit pada Azka kembali ke ruangannya. Karlina sangat terpesona dengan penampilan Azka yang acak acakan dia senyum menggoda pada Azka.
Azka mengetahui kalau putri dari kliennya mencoba untuk menggodanya tapi takkan berhasil karena hati dan fikirannya sudah ada nama Dyah bertahta dalam hati dan fikirannya selain putrinya.
" Silahkan tuan Willen" kata Azka.mempersilahkan mereka duduk di sofa Karlina berusaha keras menggoda Azka dengan senyumannya, Azka tetap mengacuhkannya lebih memilih membahas pekerjaan dengan tuan Willen.
" Sial kenapa orang ini sangat sulit tergoda biasanya pria di luar sangat mudah tergoda dengan kecantikanku bahkan mereka berlomba untuk dapat berkenalan denganku, tapi pria ini sangat dingin tapi aku tak boleh putus asa inilah kesempatanku untuk mendapatkannya karena dia telah putus dari Helena" Karlina menggerutu dalam hatinya.
" Tuan kenalkan saya Karlina putrinya daddy Wellen" kata Karlina, memperkenalkan dirinya, tuan wellen tersenyum melihat putrinya berusaha mendekati Azka.
Melihat Azka diam Karlina pindah duduk ke samping Azka hingga dia dengan sengaja menjatuhkan dirinya ke pangkuan Azka ketika dia duduk, seketika Azka berdiri hingga Karlina jatuh Azka menatap mereka dengan tajam.
"Beraninya kau" teriak Azka. Akbar kembali ke ruangannya setelah menemui klien di luar terkejut mendengar teriak Azka segera dia mendekati ruang Azka.
" Apa yang terjadi hingga tuan muda berteriak? " Akbar pada sekretaris Azka yang ketakutan berdiri di depan ruang Azka.
" Itu tuan Akbar ada tuan Wellen dan putrinya di dalam terus tiba saja tuan muda berteriak, saya tidak tahu apa yang terjadi di dalam" kata sekretaris pada Roger.
Akbar tidak terkejut mendengarnya karena dia tahu kalau karlina menyukai Azka sejak masih berhubungan dengan Helena. Takut tidak ingin sesuatu Roger masuk ke dalam melihat Wellen duduk di lantai, Azka berdiri dengan tatapan amarah dan tuan Wellen mengangkat kepalanya ke atas menatap Azka.
Karlina masih berusaha mendekati dengan meraih tangan Azka secara singkat Azka mencengkiknya membuat Karlina sulit bernafas.
" Tuan Azka tolong lepaskan putri saya" kata tuan Wellen, terkejut melihat putrinya di perlakukan seperti itu, Azka menatapnya secara tajam.
" Ini kesalahannya beraninya dia mendekatiku dan kau sekali lagi berada di sekitarku aku takkan memgampunimu ingat itu" kata Azka, dengan dingin secara refleks Karlina menanggukan kepalanya.
Azka melepas tangannya dari Karlina dengan kasar membuatnya kembali jatuh tuan Wellen membantu putrinya untuk berdiri.
" Akbar putuska kerja sama lita dengan perusahaannya" kata Azka, meninggalkan ruangannya, Roger menanggukan kepalanya melihat orang duduk lemas di kursi.
Azka mengendarai mobilnya menuju ke rah sakit dia ingin menemui Dyah dan putrinya.
__ADS_1
Tiba di rumah sakit tepatnya ruangan Aquira, Azka langsung memeluk Dyah saat membuka pintu. Dyah merasa malu karena Aquira dan orang di rumah sakit menatap mereka.