
Di mall
Mami Atika dan Dyah melihat beberapa kasur untuk bayi sikembar.
" Mbak apakah ada kasur untuk bayi kembar? " Dyah, pada karyawan.
" Mari nona, nyonya kami baru saja kedatangan kasur untuk bayi dan ini bisa di pakai untuk bayi kembar" kata karyawan, menunjukan kasur bayi.
Dyah dan mami Atika saling memandang dan tersenyum mereka menyukai yang di tunjuk oleh karyawan ,mereka juga beli beberapa bantal dan guling mami Atika meminta di kirim ke rumah.
Setelah membeli kasur mami Atika dan Dyah menuju toko baju bayi tanpa mereka sadari Selly terus mematai mereka.
" Sial kapan mereka memisah diri kalau begini aku tak sempat memulai rencana yang telah Ergando rencanakan, aku harus sabar memang untuk mencapai tujuan kita harus sabar" guman Selly, berdiri di balik kaca melihat Dyah dan mami Atika melihat pakaian bayi.
Mami Atika sangat bahagia dapat memilih pakaian untuk cucu kembarnya sampai dia membeli banyak pakaian dan soal harga tidak perlu khawatir karena putranya yang membayarnya, Dyah hanya mengikuti keinginan dari mertuanya.
" Mami ayo kita ke sana" kata Dyah, melihat pakaian untuk anak laki dan cocok untuk adiknya fathan, mami Atika tersenyum dan menanggukan kepalanya.
Mereka membeli beberapa pakaian yang pas untuk Fathan Dyah tidak melupakan membeli pakaian untuk putrinya ia memilih gaun warna pink dan ada pita Aquira pasti kelihat cantik. Mereka juga membeli untuk Azka dan papi Ammar.
Mereka mebghabiskan waktu tiga jam untuk berbelanja dan sudah meminta dikirim ke kediaman keluarga Alexanders.
" Sayang mami minta maaf kamu dan sikembar pasti lapar " kata mami Atika, melihat jamnya sudah menunjukan jam satu siang.
" Tidak apa mi Dyah juga melupakannya" kata Dyah, tersenyum benar dia juga melupakan makan siangnya.
" Jika suamimu tahu pasti marah dan mall ini akan dihancurkannya, mari kita kesana" kata mami Atika, menunjuk restoran tak jauh dari sana Dyah tersenyum mengikuti langkah kaki mami Atika.
" Akhirnya mereka berhenti juga sekarang aku tinggal menunggu kesempatan untuk menjauhkan wanita itu dari maminya Azka" kata Selly, ikut masuk ke dalam restoran ia sempat menghubungi anak buah Ergando.
" Mami, Dyah ke kamar mandi dulu" kata Dyah, mami Atika menanggukan kepalanya meminta menantunya berhati. Setelah Dyah pergi mami Atika memesan makanannya.
Kesempatan ini tak dibuang oleh Selly ini adalah saatnya ia memulai rencananya, ia mengikuti Dyah sampai di kamar mandi. Dyah mencuci tangan dan wajahnya setelah menunaikan niatnya.
__ADS_1
" Halo kita berjumpa lagi" kata Selly, senyum licik. Dyah terkejut melihat orang yang menyapanya tapi dengan tatapan kebencian.
" Maaf apakah kita saling kenal" kata Dyah, dia memang sudah melupakan kejadian beberapa bulan di kantor Azka.
" Ternyata kamu begitu mudahnya melupakannya dan aku akan mengingatkan kembali padamu" kata Selly, tersenyum menggigit jarinya. Dyah dapat merasakan kebencian dari wanita di depannya dia merasa gemetaran ia terus memanggil nama Azka.
Selly tersenyum bahagia melihat ketakutan Dyah tidak menunggu lama lagi Selly menceritakan kejadian di kantor Azka, Dyah pun mengingat kejadian itu hingga ia semakin takut.
Tidak mendapat perlawanan dari Dyah tidak disiakan oleh Selly, dia membius Dyah dengan mudahnya dan menghubungi anak buah Ergando di luar yang menunggu di luar.
" Cepat angkat dia dan bawa lokasi yang telah di beritahu oleh Ergando" kata Selly, anak buah Ergando menanggukan kepalanya dan membawa Dyah di tempat persembunyian.
Pesanan makanan yang di pesan oleh mami Atika sudah di bawa oleh pelayan restoran tapi menantunya belum juga kembali padahal sudah sepuluh menit membuat mami Atika khawatir.
" Ya Allah dimana Dyah kenapa belum juga kembali dari kamar mandi" kata mami Atika, dengan lirihnya mengkhawatirkan Dyah. Takutnya terjadi sesuatu pada Dyah dan kandungannya mami Atika menuju kamar mandi untuk memastikannya.
Mami Atika terkejut melihat kamar mandi yang kosong dan menantunya tak ada.
Semua orang mendengar tangisan mami Atika bertanya ada apa, mami Atika hanya menggelengkan kepalanya ia tak tahu kemana Dyah pergi.
Mami segera menghubungi papi Ammar akan kehilangan Dyah, papi yang mendapat kabar dari istrinya segera ke mall sebelum itu dia menghubungi putranya.
Di perusahaan Alexanders.
Azka masih metting bersama klien setelah mendapat kabar dari Dyah dia melanjutkan pembicaraan bersama klien membicarakan kerja sama mereka, selama metting Azka merasa gelisah dan tak tenang wajah Dyah selalu membayanginya.
Drt drt.
Azka merasa deg deg melihat panggilan dari papi Ammar, dia merasa takut untuk mengangkatnya Akbar yang berada di sampingnya menjadi bertanya.
" Tuan muda angkatlah dulu telepon dari tuan besar kebetulan metting kita sudah selesai" kata Akbar, saat ada panggilan pas metting telah selesai dan klien sudah berpamitan walau Azka tak menanggapi untung ada Akbar yang mengurusnya.
Azka menanggukan kepalanya dengan tangan gemetaran dia mengangkat panggilan dari papi Ammar.
__ADS_1
" Assalamualaikum "
" Waalaikumsalam, nak segeralah ke mal Dyah hilang mamimu sedang menangis, papi akan ke sana sekarang" papi memutus panggilan dan segera ke mall.
Azka yang mendapat kabar dari papi Ammar hampir saja tak sadarkan diri jika Akbar tak memanggilnya.
" Tuan muda apa yang dikatakan oleh tuan besar?" Akbar, ia tahu ini pasti kabar buruk.
" Akbar, Dyah" kata Azka, segera meninggalkan ruangannya Akbar mengukuti langkah Azka sebelum itu dia meminta sekretaris untuk mengurus perusahaan.
Akbar berlarian agar tidak ketinggalan Azka yang telah masuk di lift,semua karyawan saling bertanya melihat bosnya dengan tatapan dingin dan matanya merah.
Papi Ammar sudah sampai di restoran terkejut melihat istrinya menangis di temani pelayan.
" Mami" teriak papi Ammar. " Papi hiks, hiks hiks Dyah pi, ini salah mami pi seharusnya mami tak membiarkannya sendirian di kamar mandi, hiks" mami menangis dalam pelukan suaminya papi Ammar menenangkan istrinya.
" Papi, mami harus memgatakan apa pada Azka terutama Fathan" kata mami Atika, menangis.
Azka dan Akbar sudah sampai di mall dan mencari keberadaan orangtuanya.
" Mami" kata Azka, dengan ekspresi dingin dan kaku menatap datar maminya yang menangis, mami Atika berdiri dengan air mata yang mengalir di pipinya.
" Azka mami minta maaf " kata mami Atika, menangis.
" Mami tak perlu minta maaf Azka hanya ingin dimana istriku" kata Azka, dengan dinginnya, mami Atika hanya menggelengkan kepalanya tak bisa melihat putranya.
Papi Ammar mencoba menenangkan putranya yang terlihat marah pada istrinya.
" Nak tenanglah mamimu sudah merasa bersalah yang kita lakukan saat ini adalah mencari keberadaan istrimu" kata papi Ammar, menenangkan putranya.
" Tuan muda yang dikatakan oleh tuan besar benar kita harus tenang jangan berbuat gebadah yang akan membuat nona semakin bahaya" kata Akbar. Mami Atika terus meminta maaf pada putranya Azka mengusap wajahnya secara kasar.
Azka memanggil anak buahnya mencari keberadaan istrinya sekitar mall dan restoran.
__ADS_1