
Kediaman keluarga Alexanders
Gracya dan Akbar duduk di taman sudah sepuluh menit mereka belum juga ada yang berbicara, Dyah menitip dari balik jendela khawatir dengan sahabatnya Azka sudah memintanya untuk istirahat karena keadaannya tapi Dyah kekeh melihatbya terpaksa Azka menemaninya.
" Bunda aunty Gracya dan om Akbar ngapain disana, Ira ingin mengajak bermain" kata Aquira, juga mengikuti menitip mereka.
" Ups, sayang kita lihat dari sini ya, kita jangan menanggu mereka" bisik Dyah.
" Kita bermain umpat umpet ya bunda" kata Ira, merasa bahagia, Dyah menangggukan kepalanya.
Fathan duduk santai di samping Azka sambil membaca buku ia tidak tertarik untuk mengetahuinya ia hanya menemani Dyah, begitu pula dengan Azka memegang Ipad memeriksa email yang di kirim oleh sekretarisnya.
Azka percaya sahabat sejaligus asistentnya dapat mengatasinya atas permintaan Dyah ia tak ingin melihat Dyah sedih makanya membiarkan Akbar dan Gracya berbicara berdua, Mami Atika dan papi Ammar ganya sebagai penonton.
" Mas, Gracya" kata keduanya.
" Gracya, berbicaralah dulu" kata Akbar, merasa gugup ia lebih menghadapi para klien daripada suasana seperti ini.
" Nggak mas, mas lah berbicara dulubGrac akan mendengarkan" kata Gracya, dengan suara yang lemah dan gugup tapi masih dapat di dengar oleh Akbar.
Akbar menarik nafasnya secara kasar ia harus mengatakannya tak ingin gadis ini pergi,Akbar memegang tangan Gracya.
" Gracya tataplah mata mas" kata Akbar, walau merasa gugup Gracya mencoba untuk menatap pria yang ada di hadapannya.
Tempat Dyah.
" Menurut mas Akbar akan mengatakannya nggk Dyah merasa deg deg an, mas" kata Dyah, air matanya sudah mengalir, Azka tersenyum dan menghapus air mata istrinya.
Orangtua Azka tersenyum melihat menantunya begitu mengharapkan kebahagiaan bagi mereka.
" Sayang mas tahu hubungan kita baru saja beberapa minggu terjalin tapi mas ingin hubungan ini kita bawa ke lebih serius, kamu tahu sendirikan usia mas nggak muda lagi" kata Akbar.
Gracya menanggukan kepalanya tapi tetap menunggu Akbar menyelesaikannya bicaranya walau ia merasa deg deg an.
Akbar kembali menarik nafasnya ia berdiri dan berjongkok di hadapan wanitanya.
__ADS_1
" Gracya, IWll merry me? " Akbar, menatap wanitanya. Gracya terkejut dengan apa yang di katakan oleh Akbar tapi ia merasa bahagia sampai air matanya jatuh membasahi wajahnya.
Dengan air mata yang berjatuhan di wajahnya Gracya menanggukan kepalanya karena ia juga menginginkan hubungan mereka lebih serius dan apa yang di katakan oleh ibunya benar terutama ia sangat mencintai pria ini.
" Terimakasih sayang mas akan meminta tolong pada tuan dan nyonya melamarmu secepatnya, karena hanya mereka keluarga yang mas punya" kata Akbar, merasa bahagia sebenarnya ia ingin mencium bahkan memeluk wanitanya tapi mencoba untuk menahannya.
" Akbar kami akan melamarnya untukmu secepatnya" kata papi Ammar.
Akbar dan Gracya terkejut melihat yang lainnya sudah berada di sampingnya.
" Terima kasih tuan besar" kata Akbar, merasa terharu.
" Sayangku selamat aku bahagia karena sahabatku ini akan segera menikah" kata Dyah, merasa terharu dan memeluk Gracya. Gracya membalasnya dan mengucapkan terima kasih.
" Gracya tante dan om mengucapkan terima kasih karena kamu bersedia menerima putra kami" kata Mami Atika, mengusap rambut Gracya dan tersenyum bahagia, Gracya menanggukan kepalanya.
Azka memukul ringan pundak Akbar dan menanggukan kepalanya.
" Asyik akan ada pesta" kata Aquira, berlompat karena bahagia, Fathan duduk di samping Gracya. Mereka tertawa melihat tingkah Gracya dan mami Atika mengajak Gracya makan malam bersama.
" Gracya kapan kami akan menemui irangtuamu untuk membicarakannya" kata papi Ammar, mereka selesai makan malam dan berbicara di ruang tengah. Azka melihat Dyah terlihat lelah dan mengajaknya istirahat.
Kemudian Gracya pamit pulang karena hati sudah malam dan di antar oleh Akbar, selama perjalanan tak ada suara yang terdengar karena mereka sedang bahagia.
" Sayang kita sudah sampai" kata Akbar. " Terima kasih mas, mas ingin menemui ibu dulu" kata Gracya.
Akbar tersenyum mengelus rambut Gracya dan menggelengkan kepalanya.
" Hari sudah malam sayang nanti saja saat aku melamarmu" bisik Akbar, ke telinga Gracya membuatnya bersemu merah karena menahan malu.
Ternyata dalam rumah ibu Gracya mendengar suara mobil di depan rumahnya hanya menitip dari dalam, Gracya pamit pada Akbar turyn dari mobil.
Setelah memastikan mobil Akbar menjauh baru Gracya masuk, saat membuka pintu Gracya terkejut ibunya sudah ada di hadapannya dengan tangannya melipat di dada.
Gracya menundukan kepalanya karena merasa takut jika ibunya marah.
__ADS_1
" Sepertinya putri ibu bahagia dan di antar oleh pangeran " kata ibu, tersenyum.
" Ibu" Gracya, memeluk ibunya dan merasa malu. Ibu mengajak Gracya duduk dan meminta cerita apa yang terjadi.
Gracya bercerita mengenai Dyah ingin bertemu dengannya sepulang dari kampus dan saat tiba di kediaman keluarga Alexanders, ternyata ada Akbar yang ingin mengutarakan lamaran.
" Minggu depan minta dia dan keluarganya menemui ibu" kata Ibu, memeluk putrinya, ibu Gracya tidak menyangka kalau putrinya sudah dewasa dan sekarang ada orang yang meminangnya.
Kemudian ibu mengajaknya makan malam selama makan tak ada suara yang terdengar, yang ada hanya suara sendok.
Universitas A
Gracya baru saja menyelesaikan kuliah pertama sambil menunggu jadwal kuliah selanjutnya Gracya duduk di taman, Gracya memegang HP dia belum menghubungi Akbar kalau ibunya ingin bertemu minggu depan.
" Sebaiknya nanti saja aku menghubungi mas Akbar sekarang pasti ia sedang sibuk" guman Gracya.
Prisia dan Farel datang ke kampus menemui Gracya ingin memberikan undangan, Prisia dan Farel memutuskan bertunangan mereka tak ingin pacaran terlalu lama.
Dan kedua belah pihak sudah mendesak mereka untuk menikah,saat mencari Gracya tanpa sengaja Farel melihatnya melamun di taman.
" Sayang lihat bukannya itu Gracya di taman" tunjuk Farel, Prisia menoleh yang ditunjuk oleh calon suaminya.
Prisia menanggukan kepalanya dan menemui Gracya duduk di taman, Prisia memanggilnya tapi Gracya tidak menoleh. Prisia menatap Farel yang menanggukan kepalanya.
" Gracya" panggil Prisia, menepuk punggungnya.
" Maaf kak Gracya nggak tahu" kata Gracya, terkejut melihat Prisia dan Farel berdiri disampingnya.
" Apa yang terjadi hingga kamu melamun sampai nggk mendengar kami memanggil" kata Prisia, Gracya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
" Kakak mencari Gracya ada apa? " Gracya, nggk mungkin ia menceritakannya.
Prisia tersenyum sambil memberikan undangan pada Gracya, Gracya menerimanya ketika membukanya Gracya tersenyum bahagia.
" Kakak selamat" Gracya, berdiri dan memeluk Prisia dan memberi selamat pada Farel.
__ADS_1
" Grac tolong beri satu undangan ini pada Dyah kami tak bisa memberikan karena kami harus menjalani pingit " kata Farel, Gracya tersenyum dan menanggukan kepalanya.
Farel dan pamit pada Gracya harus memberikan undangan pada lainnya, melihat hari sudah siang Gracya segera memberikan undangan pada Dyah.