
Waktu terus berlanjut rak terasa sudah tujuh bulan usia kandungan Dyah selama beberapa bulan terakhir Dyah tidak lagi merasakan adanya ngidam hanya emosinya yang berubah mungkin karena hormon wanita hamil, selama itu Azka selalu mendampingi istrinya.
Pernah sekali Dyah cemburu pada seorang gadis muda yang mencoba merayu suaminya saat mereka makan malam berdua, saat itu Dyah meninggalkan suaminya ke toilet dan datang seorang gadis yang terpesona dengan sikap Azka yang dingin.
Dyah kembali dari kamar mandi menjadi emosi dia hampir saja menamparnya jika Azka tak segera menghalanginya, Aquira dan Fathan selalu menemani Dyah di rumah mereka menghabiskan waktu bersama dengan melakukan berbagai kegiatan.
Mami Atika dan papi Ammar tersenyum bahagia melihat kebahagiaan putranya yang tak ada menanggu selain pekerjaan.
Kabar gembira datang dari Gracya dan Akbar saat ini Gracya sedang mengandung dua bulan, Akbar sangat bahagia saat mendengar kabar ini dan merasakan mual dan ngidam adalah Akbar tapi Gracya selalu berada disampingnya dan mereka dapat melewatinya.
Untuk pasangan Prisia dan Farel juga merasa bahagia karena Prisia juga hamil yang sudah memasuki lima bulan dan perusahaan di pegang oleh Farel berkembang dengan pesat.
Di kediaman keluarga Alexanders.
" Mas, uh uh uh" panggi Dyah, merasakan gerakan dari si kembar hingga sulit baginya untuk tidur.
" Sini sayang " kata Azka, memeluk istrinya dan mengelus perutnya.
" Halo sayang kalian tenanglah jangan membuat Bunda sakit" kata Azka. seketika mereka tenang dan membuat Dyah menghela nafasnya secara lega dapat tudur. Azka tersenyum dan mencium kening istrinya dan ikut memenjamkan mata di samping Dyah.
Keesokan harinya terdengar suara adzan berkumandang Azka bangun tidur dan tersenyum melihat istrinya masih tidur nyenyak di sampingnya.
" Sayang ayo bangun sudah saatnya subuh" kata Azka, mengelus pipi Dyah. Dyah merasakan sentuhan di pipinya bangun dan terlihat wajah suaminya di hadapannya.
" Ternyata suamiku tampan" kata Dyah, tak menyadari kalau Azka sudah bangun dan tersenyum melihatnya.
" Apakah sudah cukup memandang wajahku yang tampan ini" kata Azka, mencubit hidung Dyah, Dyah menjadi malu dan merebahkan kepalanya.
Azka tersenyum dan mengajak istrinya untuk sholat subuh berjamaah, Azka membimbing istrinya ke kamar mandi mereka tak melakukan kegiatan apapun selain membersihkan diri, mereka sholat subuh berjamaah Dyah mencium tangan suaminya ketika selesai sholat begitu Azka mencium kening Dyah.
" Sayang mas ke kamar Fathan dan Aquira dulu" kata Azka, Dyah menanggukan kepalanya sebelum keluar Azka membantu istrinya duduk bersandar di kasur.
__ADS_1
Memang sejak kehamilan Dyah mulai membesar Azka semakin protektif pada istrinya dan Dyah tak permasalahannya, Azka selalu memeriksa putrinya dan Fathan setiap paginya dan membantu mereka mempersiapkan diri waktu berangkat sekolah seperti saat ini.
Azka membuka pintu kamar Fathan dan tersenyum melihat Fathan yang sudah rapi berpakaian sekolahnya, Azka membantu memasukan buku pelajaran ke dalam tas sekolah.
" Fathan pergilah ke ruang makan kakak melihat Ira dulu" kata Azka.
" Ya kak" kata Fathan, dengan senyuman meletakan tasnya di punggungnya.
Sedangkan Azka menuju kamar putrinya dia senyum melihat putrinya masih tidur.
" Sayang ayo bangun, apakah putri papi ini tak mau sekolah" kata Azka, mengelus pipi dan menciumnya.
" Papi" Aquira, mengucek matanya. Azka tersenyum dan mengajaknya mandi.
Azka memandikan putrinya memakaikan pakaiannya juga merapikan rambutnya.
" Papi terima kasih" kata Aquira, senyum sangat menyukai papinya mengikat rambutnya. Azka memintanya menunggu di ruang makan Azka kembali ke kamarnya mengajak Dyah sarapan pagi.
Mami Atika, Aquira, Fathan dan papi Ammar sudah berkumpul di meja makan mereka sedang menunggu Dyah dan Azka, mereka tersenyum melihat keduanya turun.
Setelah makan Azka pamit mengantar Fathan dan Aquira sekolah, Dyah mencium kening mereka Aquira dan fathan mencium tangan Dyah dan lainnya.
Dyah mengantar sampai pintu Azka mencium keningnya begitu pula dengan Dyah mencium tangan suaminya, Dyah tersenyum melihat mobil Azka mulai meninggalkan kediaman keluarganya.
Mami Atika mengajak menantunya duduk di taman sedangkan papi Ammar menuju ruang kerja.
" Sayang, kalian belum membeli kebutuhan bayi" kata mami Atika, mengingat putra dan menantunya belum membeli perlaratan atau kebutuhan bayi.
" Belum mi, mas Azka belum ada waktu" kata Dyah, Dyah sudah mengatakan pada suaminya membeli kebutuhan si kembar tapi karena kesibukan Azka hingga sampai saat ini belum sempat.
" Suamimu itu selalu sibuk dengan pekerjaannya lihat untuk membeli kebutuhan anaknya saja dia tak sempat" kata Mami Atika yang kesal dengan sikap putranya Dyah hanya senyum menanggapi mertuanya.
__ADS_1
" Ayo kita ke mall mami akan membelinya jika kamu menunggu dia takkan ada waktu" kata mami Atika, tersenyum mendapat ide mengajak Dyah berbelanja.
" Mami Dyah hubungi mas Azka dulu takutnya mas menghubungi" kata Dyah, mami Atika menanggukan kepalanya pergi ke tempat suaminya minta izin mengajak menantunya shopping
" Mas Dyah di ajak mami berbelanja kebutuhan si kembar" kata Dyah, menghubungi suaminya.
Azka berada di ruangannya sedang ada klien dari Australia membicarakan kerja sama yang akan di kerjakan, mereka merencanakan membangun mesjid di Australia dan perusahaan Azka yang mengurusnya.
Saat membicarakan beberapa hal yang di perlukan Azka mendapat telepon dari Dyah, Azka meminta Akbar mengajak kliennya ke kantin perusahaannya kebetulan pembicaraannya sudah selesai.
Azka menghela nafasnya dia sudah menduga pasti maminya yang mengajak istrinya,sebenarnya Azka ingin menemani istrinya tapi karena ada klien dari luar terpaksa ia mengizinkannya apalagi kliennya hanya sehari di kota.
" Baiklah sayang ingat kalian harus hati-hati, jika ada sesuatu segera hubungi mas" kata Azka, mengingatkan istrinya.
Setela mendapat izin dari suaminya Dyah bahagia sebenarnya dia tak sabar untuk membeli kebutuhan sikembar setelah lahir.
" Bunda, nenek mau kemana? " Aquira, pulang sekolah di jemput oleh supir.
" Nenek mau menemani Bunda membeli kebutuhan dedek setelah lahir" kata mami Atika, tersenyum saat Ira mencium tangannya.
" Ira mau ikut Bunda dan nenek ke mall" kata Dyah, Aquira seperti memikirkan sesuatu dan menggelengkan kepalanya.
" Nggk bunda Ira di rumah saja om Fathan sudah janji mengajari Ira berhitung satu sampai seratus" kata Aquira.
Aquira baru saja bisa berhitung sampai lima puluh dan Fathan berjanji akan mengajarinya berhitung sampai seratus. Dyah dan mami Atika pamit pada Aquira Dyah memanggil bibi Ina untuk menemani putrinya.
Mami Atika memanggil supir mengantar mereka ke mall terbesar di kota, saat persimpangan lampu merah ada mobil sedan hitam mengawasi mereka.
Mobil sedan hitam tersebut terus mengawasi mereka saat keluar dari kediaman keluarga Alexanders, dia terus mengikuti mereka sampai di mall.
" Selama beberapa bulan ini kamu sudah hidup tenang Dyah dan saatnya kamu pergi, Azka pasti akan menjadi miliku" kata seorang wanita, tersenyum smirk dari dalam mobil melihat Dyah dan mami Atika masuk mall.
__ADS_1