
" Apa"
Gracya terkejut mendengar perkataan Dyah karena pemberitaannya tidak ada.
" Dyah, kamu yakin dengan ini mungkin ini hanya menjembakmu agar bersedia merawat putrinya lagi" kata Gracya, mengkhawatirkan sahabatnya karena dia tahu Dyah masih mencintai Azka.
" Itu benar Grac dia takkan berbohong jika ini menyangkut kebahagiaan putrinya" kata Dyah, Gracya menanggukan kepalanya.
" Terus apa yang akan kamu lakukan sekarang bukankah ini kesempatan untuk sahabatku ini mendapatkan cintanya" kata Gracya, dengan senyuman.
" Aku merasa tak pantas Gracya selama disini aku hidup dan kuliah pemberian nyonya Atika, aku tak berani berharap terlalu tinggi" kata Dyah.
" Tapi aku yakin satu hal dia akan mengejarmu setelah kalian bertemu kemaren sangat terlihat jelas tuan Azka sangat bahagia, Dyah mungkin ini balasan dari tuhan atas semua perbuatan baikmu dan jangan tolak kebahagiaan yang datang padamu terima dia dengan tangan terbuka" kata Gracya, dengan senyuman.
Dyah tersenyum dan memikirkan perkataan Gracya sebenarnya dia juga ingin bahagia bersama orang yang di cintainya.
Kemudian mereka keluar dari kelas karena hari ini hanya ada satu mata kuliah, mereka menaiki kendaraan masing - masing dan menuju ke tempat di tuju.
Perusahaan Alexanders Group.
__ADS_1
Ruang metting
Azka tidak fokus meminpin rapat karena memikirkan putrinya yang masih koma, Akbar yang menyadari kalau bosnya tidak fokus mencoba untuk mengatakan sesuatu.
" Tuan muda apa sebaiknya kita menunda rapat ini anda tidak fokus " kata Akbar.
Azka menarik nafasnya. " Tidak kita lanjutkan rapat ini aku tak ingin rapat di tunda" kata Azka.
" Baik tuan muda" kata Akbar.
Rapat di lanjutkan dengan suasana tegang karena Azka selalu memotong perkataan para manager bicara.
Dalam perjalanan Azka tanpa sengaja melihat Dyah di jalan seperti menunggu sesuatu, Azka menepikan mobilnya di dekat Dyah. Dyah terkejut melihat siapa yang baru saja keluar dari mobil.
" Tuan Azka" kata Dyah, dengan gugupnya.
" Apa yang kamu lakukan disini bukannya ini masih pagi kenapa tidak di kampus? " Azka, melihat jamnya menunjukan jam 11 pagi.
" Kelasnya sudah selesai tuan saya menunggu taksi karena mobil yang saya tumpangi mogok dan harus di bawa ke bengkel" kata Dyah.
__ADS_1
Azka menanggukan kepalanya dia kira adalah mobil online, mereka bicara tanpa saling menatap karena keduanya tak berani sekedar menatap.
Ternyata di seberang jalan ada Farel dengan motornya dia berniat mengajak Dyah pulang bersama tapi di dahului oleh Azka, Farel tersenyum di balik helmnya dan melajukan motornya.
" Bagaimana kabar adikmu? " Azka, menangakan kabar Fathan, Dyah menatap Azka kembali melihat ke jalan.
" Alhamdulillah tuan muda sekarang Fathan masih berada di sekolah" kata Dyah.
" Kamu akan menjemputnya kesekolah?" Azka, Dyah menanggukan kepalanya.
Dyah selalu menempatan menjemput adiknya kalau tidak sibuk dan tak ingin selalu memberatkan bibi.
Dyah terkejut melihat Azka menarik tangannya menuju mobil dan memintanya masuk.
" Tuan kita mau kemana aku harus menjemput Fathan sebentar lagi jam pulangnya?" Azka.
" Kita pergi bersama menjemputnya" kata Azka, Dyah hanya diam dan Azka melajukan mobilnya menuju sekolah.
Selama perjalanan tidak ada suara yang terdengar Dyah melihat ke arah jalan dan Azka fokus pada mengendarai mobilnya.
__ADS_1
Taklama mereka sudah sampai di sekolah Dyah keluar dari mobil sedangkan Azka menunggu di mobil, Fathan tersenyum melihat kakaknya datang menjemput.