
Keadaan rumah sakit sedikit tegang karena keluarga Alexanders berkumpul di rumah sakit dikarenakan cucu pertama keluarga tersebut berada di ruang operasi dan mengalami kritis, terlihat seorang CEO bernama Azka Abbiya Alexanders yang terkenal dengan dingin dan kaku sekarang frustasi karena sang putri.
Orang yang di hubungi oleh Akbar yang memiliki golongan darah A di perusahaan hanya ada 2 orang dan di kediaman keluarga Alexanders tidak ada seorang pun memilikinya, dua orang tersebut sudah berada di depan ruang operasi suster keluar dari ruang operasi.
"Tuan apakah orang yang akan mendonorkan darah sudah datang? " suster. " Sudah sus tapi hanya dua orang" kata Akbar.
" Baiklah tapi harap tuan mencari satu lagi karena membutuhkan darah, mari ikut saya" kata suster, membawa dua karyawan untuk mendonorkan darah.
" Papi kemana lagi kita akan mencarinya di rumah tak ada yang memiliki golongan darah A" kata mami Atika, menangis dalam pelukan suaminya.
" Nyonya saya yang akan mendonorkan darah saya" kata Dyah, Dyah sudah berada di ruang operasi dan mendengar yang di katakan oleh suster.
Semua orang membalikan tubuhnya terkejut melihat seorang yang sebulan ini tak berjumpa, Dyah mendekati mami Atika.
" Nyonya" panggil Dyah, yang tak menyadari Azka dengan tatapan yang kosong terus menatap ruang operasi.
Mami Atika memegang tangan Dyah dan Akbar, papi Ammar hanya diam, Gracya dan lainnya tidak mengerti dengan keadaan ini.
" Bukankah ini keluarga Alexanders Dyah mengenalnya" bisik Lionel, temannya hanya meliriknya kembali menatap Dyah.
" Dyah kenapa berada di sini?. Apakah kamu juga sakit? " mami Atika. Dyah tersenyum.
" Nggk nyonya saya mendapat kabar dari bibi Sumi tentang keadaan nona Ira, nyonya saya akan mendonorkan darah untuk nona Ira" kata Dyah.
" Terima kasih Dyah kami takkan melupakannya" kata papi Ammar, mengelus rambut Dyah mami Atika tersenyum.
Dyah membalikan tubuhnya terlihat Azka dengan tatapan matanya dia melepaskan tangan mami Atika dari tangannya dan mendekati Azka, dengan perasaan sakit dia melihat keadaan orang yang masih berada di hati Dyah belum tahu kalwu pernikahan Azka batal, Akbar yang telah menutupi berita mengenai pembatalan pernikahan tersebut.
" Tuan" kata Dyah, dengan lirihnya air mata yang mengalir. Dyah berjongkok menatap mata yang tatapan kosong.
Dyah mencoba untuk memegangnya tapi diurungkan karena bayangan Helena melintas di kepalanya, Dyah tersenyum dan mencoba berdiri tapi tangannya di pegang oleh Azka, Dyah memenjamkan matanya tak sanggup melihatnya.
Azka berdiri dan menarik Dyah hingga mereka saling menatap membuat Dyah tersipu malu.
__ADS_1
" Tuan muda" kata Dyah, dengan lirihnya. " Darimana saja kau selama sebulan ini aku mencarimu dan Ira selalu memanggilmu" kata Azka, menatap tajam ke arahnya. Dyah menundukan kepalanya.
" Maafkan saya tuan muda, saya tak ingin menanggu tuan dengan nona Helena" kata Dyah.
Azka tersenyum menjitak kepalanya. " Aw tuan muda kenapa mukul kepalaku" kata" Dyah.
" Gadis bodoh tak ada pernikahan antaraku dengannya, sekarang kau takkan pergi dariku " bisik Azka, membuat Dyah tersipu malu.
Mereka yang melihatnya hanya menyaksikan berbeda dengan Farel hatinya sakit melihat kedekatan antara Dyah dan Azka, memang Farel belum menyatakan perasaannya pada Dyah.
Kret
Pintu terbuka keluarlah suster. " Tuan apakah donor satunya lagi sudah datang? " suster.
" Sudah dokter saya yang akan mendonorkan darahnya" kata Dyah. Suster mengajak Dyah untuk mendonorkan darahnya Azka melihat Dyah dengan senyuman.
" Farel, kamu baik saja?" Rayyan, engetahui kalau sahabatnya terluka melihat kejadian yang baru saja terjadi.
" Mungkin ini tak sesuai yang kamu fikirkan Farel kalian dengarkan Dyah memanggilnya tuan muda, seperti atasan dan bawahan" kata Lionel.
" Kalian tidak melihatnya ketika Dyah melihatnya ada kebahagiaan di wajahnya, Gracya sepertinya tahu mengenai hal ini tapi persahabatan kita takkan rusak karena hal ini, mungkin antara kami hanya ada persahabatan ayo pergi kita takkan diperlukan Gracya kirim pesan pada Dyah agar tidak dicari" kata Farel, pergi dari ruangan operasi.
Gracya dan lainnya saling memandang dan kirim pesan pada Dyah, Akbar melihat kepeegian mereka dengan senyum tipis.
Setelah mendonor darah untuk Aquira Dyah diminta istirahat oleh suster dan diberi susu untuk memperbaiki daya tubuhnya.
Dyah mengambil HP yang tadi terdengar olehnya ada pesan masuk, Dyah menghela nafasnya dan mengistirahatkab tubuhnya sebentar.
Ruang operasi.
Mereka masih menunggu operasi Aquira selesai dengan perasaan gelisah, semua berdiri karena lampu ruang operasi mati.
Mereka mendekat melihat Dokter keluar dari ruang operasi dan bertanya tentang keadaan Aquira.
__ADS_1
" Dokter bagaimana keadaan putriku? " Azka. Dokter menghela nafasnya melihat keluarga yang terpengaruh di negaranya.
" Tuan, nyonya meski kita sudah mendonorkan darah tapi pasien dalam keadaan koma karena luka yang berada di kepalanya" kata Dokter.
" Papi cucu kita" kata mami Atika, menangis dalam pelukan suaminya.
" Koma kenapa kau tidak menyembuhkan dia, kami telah mendapatkan permintaan anda" kata Azka, dengan emosi.
" Tuan muda tenanglah" kata Akbar, memegang Azka. " Akbar lepaskan aku dia tak menyembuhkan putriku" teriak Azka.
" Dokter tolong jelaskan pada kami keadaan cucuku? " papi Ammar.
" Karena jatuh dari tangga kepala pasien mengalami cedera yang berat itulah yang menyebabkan pasien koma" penjelasan dari dokter.
Suasana menjadi hening mendengar penjelasan dari dokter membuat mereka sedih mengetahui gadis kecil kesayangan mereka mengalami koma.
Dyah yang merasa tubuhnya baik saja memutuskan kembali ke ruangan operasi untuk melihat keadaan Aquira.
" Koma" seru Dyah, dengan tubuh yang gemetaran mendekati dokter untuk bertanya apakah itu benar mungkin ada kesalahan.
" Anda pasti bohong dokter Ira tak mungkin koma " kata Dyah, menangis histeris, Azka melihatnya langsung memeluknya dan mintanya untuk tenang.
" Tuan pasien sudah kami pindahkan ke ruang ICU" kata dokter, pamit untuk meneriksa pasien lainnya.
Mereka menuju ruang ICU dimana Aquira mendapatkan perawatan yang intensif, pasien akan dipantau ketat oleh dokter.
Dyah berdiri di pintu ruang ICU menangis melihat nona kecil yang dia rawat lebih dari setahun dengan kasih sayang, tak pernah sekalipun dia membiarkan Aquira berlari sendirian.
Mami Atika dalam pelukan suaminya menatap Dyah ada perasaan lega karena Dyah datang, mami Atika berdoa dengan kehadiran Dyah keadaan cucunya membaik.
" Akbar pergilah ke rumah katakan pada bibi Ina untuk mempersiapkan barang Aquira dan pakaian ganti, mami papi pulanglah hari sudah sore" kata Azka, dengan pelan tapi matanya tertuju pada ruang ICU.
Papi Ammar mengajak istrinya pulang larena mereka juga butuh istirahat dengan diantar oleh Akbar dan menjemput barang Aquira dan Azka.
__ADS_1