CEO Dan Pengasuh Cantik

CEO Dan Pengasuh Cantik
Episode 182


__ADS_3

Keesokan harinya terdengar suara adzan berkumandang Dyah menuju kamar mandi untuk melaksanakan sholat subuh dan bersiap ke perusahaan, Dyah menghela nafasnya melihat penampilannya hari ini adalah hari pertama dia bekerja tak ingin orang membicarakan penampilannya.


" Alhamdulillah, sudah rapi"ucap Dyah, menatap kaca. Dyah keluar dengan senyuman melihat adiknya sudah duduk di ruang makan.


" Bi Dyah minta maaf tak membantu menyiapkan sarapan hari ini hari pertama bekerja, aku tak ingin terlambat" kata Dyah, merasa tak enak melihat banyaknya makanan di atas meja.


" Tidak apa nona ini sudah tugas saya" kata Bibi Ina, tersenyum.


" Kakak tidak makan dulu" kata Fathan, melihat Dyah hanya makan roti, Dyah menggelengkan kepalanya.


" Kakak takut terlambat dek nanti kakak makan di kantin saja" kata Dyah. Fathan dan bibi Ina saling memandang tak mungkin Azka memarahi istrinya.


" Nona biar saya menyiapkan bekal" kata bibi Ina, menyerahkan teh di dekatnya Dyah tersenyum dan bibi Ina menyiapkan bekal untuk Dyah. Fathan mulai memakan sarapannya.


" Fathan kakak berangkat dulu bibi tolong jaga Fathan" kata Dyah, akan berangkat dan bibi Ina tersenyum dan mengucapkan dia akan menjaga Fathan.


Dyah memesan taksi online menuju perusahaan Alexanders Group.


Keadaan Kediaman Keluarga Alexanders berbeda dengan rumah Dyah sikembar sudah ribut melihat Azka masih berada di dalam kamar, semua keluarga sudah berkumpul di ruang makan tapi Azka masih betah di kamar.


" Dika, papi belum turun juga aku kan tak sabar melihat bunda " ucap Diaz, kesal karena Azka.


" Sabarlah Diaz papi pasti sebentar lagi turun" kata Dika, sebenarnya dia juga tak sabar melihat Dyah mami Atika dan papi Ammar menggelengkan kepalanya melihat tingkah keduanya.


" Dek tenanglah" kata Aquira, sikembar diam dan tenang menunggu Azka.


Taklama Azka turun tangga menuju ruang makan dan lainnya tersenyum, mami Atika menyiapkan makanan untuk mereka debgan tanpa suara makan dengan tenang.


Aquira pamit pada lainnya berangkat ke sekolah dia meminta Azka untuk menjaga bundanya dan menyatakan cepat bawa bundanya pulang, Azka dan lainnya tersenyum dan memanggil supir untuk mengantarnya ke sekolah.


Diaz yang tak sabar melihat Dyah dia berlarian masuk mobil Azka, Akbar yang sudah datang untuk menjemput Azka hanya bisa tersenyum, Azka dan Dika pamit pada mami Atika dan papi Ammar.


" Papi, Dika cepatlah nanti terlambat" teiak Diaz.


" Papi lihat dia tak sabar nanti kita akan bertemu bunda kok, bunda kan bekerja di kantor papi" kata Dika, Azka tersenyum.

__ADS_1


Dyah sudah sampai di perusahaan Alexanders Group terlihat sudah banyak karyawan berdatangan, Dyah sangat merasa gugup menghela napasnya dan mengucapkan basmallah.


" Hai kamu sekretaris baru ya" kata Dea, Dea sudah dua tahun menjadi karyawan, Dyah tersenyum.


" Ya ,Kenalkan saya Dyah Permata" kata Dyah.


" Saya Dea, ayo kita berdiri disini, kita harus menyambut bos" kata Dea, Dyah tersenyum dan mengikuti Dea.


Terlihat mobil MBW mewah memasuki kantor Azka turun dan membuka pintu Azka dan sikembar turun membuat karyawan terpesona dengan mereka.


Azka menunjukan wajah dingin tapi tak mengurangi ketampanannya membuat karyawan wanita menangguminya dan sikembar memegang tangannya.


Dika dan Diaz terlihat tampan dengan pakaiannya warna biru celana hingga lutut tapi sudah menunjukan wibawanya.


" Tumben tuan muda membawa anak-anaknya ada apa ini? " Karyawan, karyawan lama berkata dalam hati apakah ada kaitannya dengan Dyah berbeda dengan Dyah dan karyawan baru lainnya bingung dengan ini.


Gracya juga sudah datang beberapa menit sebelum Azka dan lainnya datang.


" Keponakan aunty terlihat tampan sekali, untuk siapa kalian berpakaian seperti ini" bisik Gracya, pada Diaz dan Dika saat Gracya meminta mereka berjalan bersama.


Gracya tersenyum mengelus rambutnya. " Itu bunda kalian ingat jangan membuat lainnya heran" kata Gracya, menunjuk Dyah sikembar tersenyum melihat Dyah berdiri tak jauh dari mereka.


Azka menatap Dyah dengan intens ada senyum kecil di bibirnya tapi tak asa yang menyadarinya, Dyah merasa gugup tahu kalau Azka menatapnya saat matanya tertuju pada sikembar tiba saja hatinya terasa sakit.


Dyah mengikuti Azka dan lainnya menuju ruangannya memasuki lift, suasana dalam lift sedikit tegang karena hanya mereka berempat dalam lift sedangkan Gracya dan Akbar memberikan waktu bagi mereka.


" Halo tante kenalkan saya Diaz putra Alexanders dan ini saudara kembarku Dika putra Alexanders, kata papi nama kami diambil dari nama bunda dan papi" kata Diaz, tersenyum menunjukan wajah lucunya.


Dyah tersenyum melihat Diaz. " Halo nama tante Dyah" kata Dyah. Dyah terkejut tiba saja Diaz memeluk kakinya Diaz memenjamkan matanya bunda itulah kata yang keluar dari hatinya.


Azka dan Dika tersenyum melihat keduanya. Tin


Lift terbuka Azka masuk ke ruangan diikuti oleh lainnya.


" Dyah temui Gracya dia akan menjelaskan jadwalku secara rinci" kata Azka, Dyah menanggukan kepalanya pamit menemui Gracya di ruangannya.

__ADS_1


" Papi, bunda cantik kami senang bisa melihat bunda" kata Dika. " Bunda kalian memang cantik " kata Azka.


Diaz dan Dika duduk di sofa memainkan tablet yang diberikan oleh Azka.


Tok tok tok


" Masuk " kata Azka. Dyah masuk terlihat Dika dan Diaz bermain.


" Tuan muda ,nona Gracya sudah menjelaskan semua jadwal anda " kata Dyah.


" Nanti siang anda ada pertemuan dengan klien dari PT Gunawan di restoran A" kata Dyah, Azka menanggukan kepalanya.


Setelah menjelaskan jadwal Azka Dyah berniat pamit tapi saat melihat sikembar fokus membuatnya penasaran.


" Halo apa yang kalian lakukan? " Dyah. Dika dan Diaz tersenyum.


" Kami bermain game tante" kata Dika. Dyah terkejut anak usia tiga tahun sudah pandai bermain game melalui tablet tapi itu tidak sehat untuk mereka.


" Kalian mau mendengar pendapat Tante? " Dyah. Diaz dan Dika tersenyum dan menanggukan kepalanya.


" Kalian masih terlalu kecil untuk memainkan seperti ini tak baik untuk kalian, usia kalian bermain bersama teman seusia kalian" kata Dyah, mengelus kepala mereka.


Diaz dan Dika menundukan kepalanya mereka tidak memiliki teman kecuali Aquira.


" Tante kami tak memiliki teman hanya kakak perempuan yang kami punya papi sibuk dan bunda pergi dan belum pulang" kata Diaz. menundukkan kepalanya.


Deg.


Tiba saja hati Dyah merasa sakit mendengarnya tapi dia tak tahu dengan perasaan yang dia rasakan, Agra memang sahabat dengan mereka tentu tak sering bersama kecuali dengan Aquira.


" Baiklah biar tante yang menemani kalian bermain" kata Dyah.


" Terima kasih tante " ucap Diaz dan Dika, bahagia karena dapat bersama bunda mereka saat bermain.


Azka hanya mendengarnya hatinya juga merasa merasa bersalah saat Dyah pergi dia fokus dengan perusahaannya maka berkembang sampai luar negeri, tapi sekarang Dyah sudah kembali dan dia takkan membiarkannya pergi lagi.

__ADS_1


__ADS_2