
" Maaf tuan ada yang bisa saya bantu" kata dosen. Azka membalikan tubuhnya.
" Kami mencari seorang mahasiswa Manajemen Bisnis" kata Azka, dosen tersebut menanggukan kepalanya dan mengerti
Ketika Azka kembali mencoba untuk membuka pintu kembali di hentikan oleh dosen.
" Maaf tuan mahasiswa saya hari ini ada ujian mungkin yang anda cari berada di kelas yang lain" kata dosen, dengan hormat baru dia sadar kalau orang dihadapannya adalah Azka Abbiya Alexanders.
Kemudian Azka terpaksa pamit membawa putrinya ke kantornya untuk menghibur putrinya yang terlihat sedih, dosen masuk untuk melaksanakan ujian.
Ternyata Dyah mengetahui kalau Azka dan Aquira berada di depan kelasnya dan dia berusaha sembunyi dengan batasan buku, Gracya melihat Dyah yang berusaha untuk menyembunyikan dirinya akhirnya dia paham ketika Azka lewat di kelasnya.
" Dyah dia sudah pergi, Dyah duduk dengan tenang dosen sudah masuk" bisik Gracya, Dyah menanggukan kepalanya kembali duduk dengan tenang.
Parkiran mobil.
Aquira menangis dalam pelukan Azka. " Papi, bunda kemana perginya kita sudah mencarinya tapi tak ada, apa mami marah karena Aquira nakak, hiks, hiks, hiks" kata Aquira,
__ADS_1
Azka juga tak bisa mengatakan apa lagi dia memang sudah mencari Dyah di kampus tapi tak menemukannya.
" Sepertinya dia menjauhiku" guman Azka, memeluk putrinya. " Akbar kita ke perusahaan sayang ikut papi ya" kata Azka, Aquira menanggukan kepalanya. Ira hanya mengeluarkan kesedihannya dalam pelukan Azka.
Akbar melihat mereka dari cermin depan dapat dilihat kalau tuan mudanya merasa sedih.
" Dyah, kamu wanita luar biasa berhasil melunakan hati Azka yang biasanya dingin, dia tak pernah seperti ini pada istri pertamanya. Dyah ku harap kamu jangan terlalu menjauhi mereka" bisik Akbar.
Tak membutuhkan waktu yang lama mereka sudah sampai di perusahaan Azka menggendong putrinya yang tertidur di mobil, semua karyawan memberi hormat pada CEO mereka. Azka dan Akbar menaiki lift menuju ruangannya.
Universitas A
" Kita kan sudah lama tak menyelenggarakan. mading kampus, bagaimana kita mulai lagi agar mahasiswa mendapat informasi yang bermanfaat" kata Rayyan.
" Itu ide bagus bagaimana menurutmu Farel" kata Lionel, Farel menanggukan kepalanya dan mendapat persetujuan dari anggota yang lainnya.
"Aku akan menulis mengenai kecantikan dan fashion agar mereka tahu kalau seorang Prisia sangat kreatif" katanya, Resia dan Abel tersenyum dan menanggukan kepalanya.
__ADS_1
Setelah menemukan kesepakatan Mading Kampus kembali diaktifkan mereka mengakhiri rapat, anggota lainnya sudah meninggalkan ruangan.
Prisia melihat Farel masih duduk mendekati Farel dia tak ingin menyiakan kesempatan untuk mendekati Farel.
Dengan senyuman Prisia duduk di samping Fatel para sahabatnya hanya memperhatikan mereka .
" Farel ayo kita makan siang bersama di kantin dan aku ingin membicarakan ide yang skan ku tulis di mading" kata Prisia dengan senyuman.
" Prisia apa yang akan kamu tulis mading" kata Rayyan tanpa melirik Prisia.
" Paling kecantikan atau fashion " canda Lionel.
" Dia bisa tahu yang difikirkan Prisia" bisik Abel, Resia menanggukan kepalanya sedangkan Prisia terlihat kesal karena idenya di ketahui oleh Lionel.
" Abel, Resia ayo ke kantin" kata Prisia mengajak kedua sahabatnya, mereka mengikuti Prisia.
" Hahaha, salahnya sendiri idenya itu mudah ditebak seharusnya menulis itu sesuatu yang kreatif dan bermanfaat" kata Lionel menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Kemudian mereka menuju kantin untuk mengisi perut yang terasa lapar.