
Sepulang dari kampus Dyah mengajak sahabatnya itu ke suatu tempat, mereka menaiki mobil Gracya.Gracya ingin bertanya pada sahabatnya mau pergi kemana tapi dia diam sampai Dyah sendiri yang akan bicara.
" Gracya ajari aku mengendarai mobil" kata Dyah. Perkataan Dyah membuat Gracy terkejut dan menghentikan mobilnya.
" Aduh" kata Dyah, kepalanya terbentur karena Gracya menghentikan mobilnya secara mendadak.
" Maaf Dyah, tapi tolong jelasin apa maksudmu ingin belajar mobil. Kamu ingin menjadi supir taksi atau supir pribadi" kata Gracya.
Dyah tersenyum dan menceritakan semuanya soal mami Atika mengizinkannya tinggal di rumahnya dan mengurus caffe dan di belikan mobil.
" Wah Dyah majikanmu sangat baik dia tak hanya mengizinkanmu menempati rumahnya, mengurus cafe dan sekarang membelikanmu mobil, sepertinya aku juga ingin memiliki majikan seperti majikanmu" kata Gracya.
" Iya mereka terlalu baik hingga aku tak pantas menerimanya" kata Dyah, menyandarkan kepalanya.
" Dyah atas apa kamu memutuskan berhenti bekerja disana mereka sangat menyayangimu, bahkan mereka memberikanmu semuanya ini, maka buktikan pada mereka kamu bisa mengurus cafe itu hingga berkembang ayo aku akan mengajarimu mengendarai mobil setelah kita pulang kampus tapi kapan kamu akan ke lokasi cafe? " Gracya.
__ADS_1
" Hari minggu rencananya karena aku harus memeriksa keadaannya, mungkin ada beberapa yang harus di perbaiki. " kata Dyah.
Gracya menanggukan kepalanya kemudian mengendarai mobilnya ke lapangan dia akan mengajari Dyah mengendarai mobil, lapangan akan memudahkannya mengajari Dyah karena tidak diganggu oleh lainnya.
Azka dan Akbar sudah berada di bandara untuk kembali ke kediamannya, Azka tak sabar untuk bertemu Aquira terutama Dyah dia ingin meminta maaf dan mengurus perasaannya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama mereka telah tiba di kotanya Akbar menghubungi supir untuk menjemput mereka.
Dyah belajar mengendarai mobil sudah sejam lalu mengakhirinya karena hari sudah sore adiknya pasti sudah menunggunya pulang.
Supir yang dihubungi Akbar telah datang dan mereka segera ke kediaman keluarga Alexanders.
Aquira yang tidak mengetahui kalau Dyah sudah pergi dia tenang saja karena Dyah biasanya sudah siang atau sore menemaninya bermain, mami Atika sangat berhati agar cucunya tidak bertanya tentang Dyah.
Taklama suara adzan magrib berbunyi semua orang bersiap untuk sholat magrib.
__ADS_1
" Nenek bunda dimana dan kak Fathan juga tak ada rencananya kami janji bermain bersama, kalau bunda sudah pulang tapi hari sudah malam kenapa bunda tak ada, nek" kata Aquira menatap mami Atika.
Mami Atika melihat cucunya dia mengelus rambut Aquira dia menatap sedih cucunya.
" Aquira bersama nenek dulu ya mainnya" kata mami Atika.
" Hiks hiks hiks, nenek Ira maunya bunda, bunda Ira kemana nek" kata Aquira dengan bersenggukan mami Atika memeluk cucunya.
Papi Ammar keluar dari ruangan kerjanya ketika dia turun dia melihat cucunya menangis dalam pelukan istrinya.
" Mami, ada apa dengan cucu kita, Ira sayang katakan pada kakek kenapa cucu cantik kakek ini menangi? "papi Ammar.
" Hiks, hiks, hiks kakek bunda pergi ninggalin Ira, kakek Ira ingin bunda, hiks hiks, hiks" kata Aquira menatap ke arah papi Ammar dengan mata berkaca.
Papi Ammar menatap istrinya yang diam dan menanggukan kepalanya, papi Ammar hanya bisa menghela nafasnya.
__ADS_1
" Assalamualaikum" kata Azka beriringinan dengan Akbar, tetapi tak ada sahutan dari dalam, Azka menatap Akbar. Akbar membuka pintu ternyata tak dikunci mereka masuk ke dalam terlihat Aquira menangis dalam pelukan mami Atika.
" Ada apa ini? ".