
Hari sudah malam Azka yang di temani oleh Akbar menjaga Aquira yang masih tak sadarkan diri karena dokter memberi bius agar Aquira dapat istirahat lebih lama, orangtua Azka sudah pulang atas minta Azka yang tak ingin mereka kelelahan.
Akbar menyadari kalau sahabat sekaligus bosnya belum makan makanya ia berniat pergi ke kantin, Azka hanya membiarkan Akbar pergi dan mendekati putrinya.
" Sayang putri papi yang pintar cepatlah sadar jangan membuat papi sedih, papi tahu kamu sangat merindukan bundamu tak hanya kamu papi juga merindukan bunda dan adikmu yang madih berada di dalam perutnya papi janji akan membawa mereka kembali pada kita" kata Azka, menyentuh pipi Ira dan mencium keningnya.
Akbar sudah kembali dari kantin membawa kantong.
" Tuan muda ini saya bawa makanan, tuan muda sebaiknya makan dulu nanti tuan muda juga jatuh sakit siapa yang akan menjaga nona kecil dan mencari keberadaan nona muda " kata Akbar,
Azka hanya menurut apalagi dia sudah lapar sejak siang belum terisi perutnya.
" Akbar gimana kabar Xanders apakah sudah dapat kabar? " Azka, menyuapi makanannya.
" Belum tuan muda terakhir dia mengabari kalau orang itu terlihat di bandara " kata Akbar.
Azka hanya diam mendengarnya Xanders dan anak buah lainnya sudah berada di bandara dan terlihat CCTV kalau Ergando sudah berada di kota.
" Bos saya sudah menemukan mobil yang di curigai dan sempat terlihat di jembatan X " kata anak buah yang bertugas mencari keberadaan Ergando di berbeda lokasi dengannya.
" Baiklah teruslah cari saya akan segera ke sana, saya curiga mereka akan ke hutan bukannya jembatan X melewati hutan" kata Xanders, yang sangat mengenal lokasi.
' Baik bos kami akan mencari sekitarnya" kata anak buahnya.
" Baiklah" sahut Xanders, meninggalkan bandara bersama anak buahnya menuju lokasi yang disebutkan.
Xanders hanya memberi kabar pada Akbar takutnya menanggu Azka yang menjaga Aquira di rumah sakit, anak buah Xanders terus menmutar sekitar jembatan X.
Kediaman keluarga Alexanders.
Mami Atika merasa gelisah belum mendapat kabar tentang Dyah apalagi sekarang Aquira dirawat di rumah sakit papi Ammar terus menenangkannya dan meyakinkan menantu dan cucu mereka baik saja.
__ADS_1
Kamar Fathan.
Fathan baru saja menyelesaikan sholat maghrib dan mendoakan kakaknya yang belum ketemu dan Aquira. Bibi Sumi dan bibi Ina sedih melihat keadaan majikan mereka dan hanya doa yang bisa mereka panjatkan.
Lokasi Dyah.
Tiba saja Dyah merasakan perutnya kram membuatnya kesakitan.
" Aduh sayang tenanglah sebentar lagi papi akan datang menyelamatkan kita" kata mengelus perutnya dan menghela nafasnya seakan mengerti keadaan bundanya sikembar kembali tenang membuat Dyah merasa lega.
" Ya Allah semoga mas Azka dapat menemukan kami, aku merasa takut sepertinya orang itu sangat membenci mas Azka" kata Dyah, terus menarik nafasnya.
Keesokan harinya terdengar suara adzan berkumandang Azka dan Akbar bangun kemudian menuju mesjid melaksanakan sholat subuh, Azka meminta suster menjaga putrinya.
Selesai sholat Akbar mengajak Azka ke kantin untuk sarapan pagi.
Aquira sudah sadar terus memanggil Dyah. " Bunda" sahut Aquira, suster yang menjaganya segera memberitahu dokter kalau pasien sudah sadar.
Azka yang sudah selesai dengan sarapan paginya segera kembali ke ruangan putrinya sedangkan Akbar menuju apartemen karena harus ke perusahaan.
" Alhamdulillah pasien sudah sadar dan keadaannya sudah stabil tuan bisa membawanya pulang jika infusnya sudah habis" kata dokter, Azka merasa lega mendengarnya dokter pun pamit karena harus memeriksa pasien lainnya.
Azka segera menghubungi orang di kediamannya memberi kabar mengenai Aquira yang sudah sadar.
Azka tersenyum melihat putrinya yang sudah sadar.
" Papi senang melihat putri papi yang cantik sudah sadar sayang kamu membuat papi takut" kata Azka, merintikan air matanya.
Aquira merentangkan tangannya minta di peluk olehnya Azka memeluk putrinya dan mengelus punggung putrinya.
" Papi Aquira mimpi bunda, bunda menangis dan minta tolong. Papi bunda baik saja kan hiks hiks hiks Ira ingin bunda pi" kata Aquira, bersenggukan Azka hanya bisa diam dan terus mengelus punggung putrinya.
__ADS_1
" Sayang papi janji akan membawa pulang bunda dan adik makanya putri papi ini harus sehat" kata Azka, Aquira menanggukan kepalanya.
Setelah mendapat kabar dari Azka kalau cucu mereka sudah sadar mami Atika dan papi Ammar segera ke rumah sakit Fathan juga ikut kebetulan hari libur.
Melihat cucu mereka sadar mami Atika dan papi Ammar merasa senang dan mencium keningnya, Fathan juga merasa senang melihat Aquira yang senyum padanya.
Xanders dan anak buahnya sudah sampai di lokasi yang diberitahu oleh anak buahnya.
" Kalian apa yang sudah ditemukan ?" Xanders.
" Bos kami melihat mobil yang mencurigakan sebelah sana" kata salah satu anak buahnya yang ditugaskan untuk mengelilingi sekitar jembatan menunjuk sebuah mobil Van hitam berhenti sebuah supermarket dan di jaga oleh orang berbadan besar.
" Sepertinya mereka sedang memberi sesuatu jangan sampai mereka curiga terhadap kita" kata Xanders, anak buahnya menanggukan kepalanya.
Sebelumnya.
Ergando dan Selly sedang duduk di kursi mereka sangat mesra.
" Sayang aku ingin melihat wanita itu dan memberi sedikit pelajaran" kata Selly, Ergando tersenyum dan mengelus paha Selly yang sengaja di perlihatkan.
" Aku ikut sayang " kata Ergando, penasaran keadaan Dyah yang semalam belum makan semalam. Dyah tidak mau makan yang di bawa oleh anak buah Ergando karena selera makannnya hilang.
" Sayang sepertinya wanita ini tidak memakan makanannya semalam, hei ternyata kamu berani juga tidak memakan makanannya lihat keadaanmu sekarang" kata Selly, senyum licik memegang dagu Dyah. Selly tersenyum melihat wajah Dyah yang telah pucat.
" Aku takkan makan dari kalian" teriak Dyah.
Plak
Ergando menampar Dyah hingga pipinya merah.
" Kau kira aku akan membiarkanmu mati begitu saja takkan ku biarkan sebelum suamimu itu datang dan melihat secara langsung kematianmu di depan matamu, kalian belikan roti atau apapun kita takkan membiarkan wanita ini mati sebelum Azka datang" kata Ergando, dengan dingin Selly tersenyum licik mengikuti langkah kaki Ergando meninggalkan Dyah yang sudah lemah.
__ADS_1
" Bunda tahu kalian anak yang kuat bersabarlah sedikit lagi papi pasti akan datang dan menyelamatkan kita" kata Dyah, yang sudah lemah, tiba saja matanya gelap dan tak sadarkan diri di lantai.
Melihat mobil Van hitam meninggalkan supermarket Xanders tidak ingin membuang waktu segera mengikuti mobil itu.