
Aquira terus menolak bibi Ina membujuknya untuk makan dan tak ingin nona kecil tak makan seperti semalam yang tak menghabiskan makannya bibi Ina memanggil mami Atika.
" Nyonya, nyonya" teriak bibi Ina turun dari tangga memanggil majikannya, mami Atika bersama pelayan lainnya sedang menyiapkan makanan terkejut mendengar teriakan bibi Ina.
Mami Atika memanggil pelayan untuk melanjutkan masaknya, mami Atika keluar dari dapur dan mendekati bibi Ina.
" Bibi ada apa? " mami Atika sudah berada di dekat bibi Ina. " Itu nyonya nona Aquira tidak ingin makan" kata bibi Ina.
Teriakan bibi Ina membuat papi Ammar dan Azka turun dan melihat mami Atika bicara dengan bibi Ina.
" Mami ada apa ini dan bibi kenapa berteriak? " papi Ammar. " Aquira pi tak ingin makan semalam dia tak menghabiskan makananya, nanti dia sakit gimana pi? " mami Atika.
"Bibi siapkan Makanannya biar aku yang membawakannya" kata azka, membuat mereka melihat ke arahnya.
" Bibi tunggu apa lagi? " Azka. " Baik tuan muda" sahut bibi Ina segera mengambil makanan untuk Aquira.
Setelah bibi Ina menyiapkan makanan untuk putrinya Azka segera membawanya ke kamar.
Azka membuka pintu kamar putrinya terlihat Ira sedang memegang sebuah foto di tangannya dan duduk di lantai.
" Bunda pulanglah Ira takkan nakal lagi asalkan Bunda bersama Ira dan papi lagi" kata Ira dengan lirihnya, Azka sedih mendengar perkataan putrinya dengan senyuman mendekati putrinya.
" Sayang ayo makan dulu lihat papi bawa makan kesukaan putri papi ini" kata Azka, Aquira diam dan memandang foto Dyah.
Azka berusaha untuk membujuk putrinya untuk makan tapi Aquira hanya diam dan tak menanggapinya.
" Ira ayo makan makanannya dia takkan kembali lagi papi sudah capek membujukmu untuk makan" teriak Azka.
Aquira menangis mendengar teriakan Azka. " Papi jahat tak ingin bunda kembali, Ira benci papi" teriak Aquira, berlari keluar dari kamarnya.
Azka menyesal telah meneriaki putrinya itu meletakan makanan di atas meja, dia berlari mengejar putrinya.
Aquira terus berlari turun dari tanga. Aquira berhenti nak nanti jatuh" teriak Azka.
__ADS_1
" Papi Jahat Ira tak suka, hiks, hiks bunda" kata Aquira terus berlari turun tangga.
Mami Atika dan papi Ammar berada di ruang makan terkejut mendengar teriakan putranya yang memanggil cucunya, mami Atika dan papi Ammar menemui mereka dan terkejut melihat cucunya berlarian di tangga.
" Sayang berhenti" teriak mami Atika, Aquira tak mendengar teriakan neneknya terus berlarian hingga kakinya terpeleset.
" Aquira" mereka berteriak melihat Aquira jatuh dan berguling di tangga Azka mencepat larinya sedangkan mami Atika dan papi Ammar berlari mendekati cucunya.
Dengan gemetaran mami Atika mengangkat kepala cucunya dan terkejut melihat banyaknya darah yang keluar dari kepala Aquira.
" Ira bangun sayang ini nenek nak, nak jangan membuat nenek takut" kata mami Yulia memuku pipi cucunya.
Papi Ammar memeriksa tubuh cucunya dan membesarkan matanya ketika ada darah keluar dari kepalanya.
" Ira sayang ini papi, nak maafin papi" kata Azka, mengambil putrinya dari pelukan mami Atika. Azka terus memanggil putrinya dan menggoyangkan tubuhnya.
" Azka mami darah" kata papi Ammar dengan lirihnya menunjukan darah berada di tangannya, mami Atika terkejut sambil menutup mulutnya.
Akbar baru saja datang ke kediaman keluarga Alexanders untuk menjemput Azka, karena ada rapat penting di perusahaan. Ketika Akbar mengucap salam tak ada jawaban.
" Tuan muda" seru Akbar.
" Akbar ke rumah sakit sekarang" tekan Azka menggendong putrinya menuju mobilnya, mami Atika dan papi Ammar mengikutinya dari belakang. Mami Atika tidak lupa untuk meminta bibi Ina menjaga rumah.
Akbar segera berlarian membuka pintu mobilnya dengan hati-hati Azka memasukan putrinya ke dalam mobil, mami Atika dan papi Ammar memasuki mobil satunya lagi dengan di kendarai oleh supir.
Mobil melaju dengan cepat ke rumah sakit. " Akbar percepat jalannya" tekan Azka, Akbar menanggukan kepalanya dan melihat cermin depan terlihat Azka menangis.
" Mereka ini kenapa lewat disini apakah tak ada jalan yang lainnya" tekan Azka melihat mobil di depan mobil mereka.
D A Caffe
Itu adalah nama yang dipilih oleh Dyah untuk caffenya sudah sebulan Dyah membuka caffenya dan dikenal oleh masyarakat terutama mahasiswa.
__ADS_1
Dyah sedang memeriksa laporan keuangan yang di berikan oleh managernya dan keuntungan yang didapatinya cukup memuaskan.
Dyah fokus membaca laporan yang ada di tangannya hingga Dyah tanpa sengaja menjatuhkan gelas yang ada di tangannya.
Prang.
" Astagfirrah" kata Dyah, memegang dadanya yang merasa berdebar sangat kencang, Dyah mencoba untuk membersihkan gelas yang jatuh.
" Aw" seru Dyah, mengeluarkan darah dari tangannya. " Ya Allah ada apa ini kenapa persaanku tak enak dan wajahnya selalu membayang di fikiranku" sahut Dyah memenjamkan matanya wajah Ira yang bermain dengannya selalu datang dalam fikirannya.
Farel yang ingin mengajak Dyah untuk makan siang datang ke D A Caffe, setelah bertanya pada pelayan keberadaan Dyah langsung menemui Dyah.
" Dyah, Astagfirrah tanganmu terluka" Farel terkejut ketika dia membuka pintu terkejut melihat Dyah duduk di lantai dengan pecahan gelas dan tangannya terluka.
" Dyah ayo duduk di kursi" kata Farel, membantunya duduk di kursi. " Aku akan mencari kotak P3K" seru Farel, mencari di ruangan Dyah.
Setelah mendapatkan kotak P3K Farel segera mengobati luka Dyah, Farel melihat Dyah yang sedang melamun tapi terus mengobat lukanya sekali Dyah merintih karena kesakitan.
" Dyah sebenarnya apa yang kamu fikirkan hingga tanganmu terluka tak di hiraukan" kata Farel, menghela nafasnya karena Dyah hanya diam.
Kret
Pintu terbuka masuklah Gracya, Lionel dan Rayyan karena mereka telah berjanji makan siang bersama sebelum jam kuliah masuk, Gracya mengeringit bingung melihat Dyah melamun fan Farel duduk di sampingnya.
" Dyah, kak Farel kenapa masih ada di sini ayo kita berangkat sebentar lagi jam kuliah masuk" kata Gracya.
Farel menoleh ke samping menunjuk Dyah yang melamun.
" Dyah, ada apa denganmu ayo kita makan diang sebentar lagi jam kuliah akan masuk" kata Gracya, menepuk punggung Dyah, Lionel dan Rayyan duduk di kursi.
" Ah ya ayo kita berangkat" sahut Dyah, mengambil tasnya, Farel memanggil pelayan untuk membersihkan pecahan gelas.
" Farel ada apa ini? " Lionel. " Nggak ada ayo berangkat bukannya kita juga akan masuk" kata Farel.
__ADS_1
Gracya, Lionel dan Rayyan saling memandang dan melangkah menuju restoran yang tak jauh dari caffe, selama sebulan ini mereka menjalin persahabatan atas Lionel dan Rayyan yang mengajak mereka saling berkenalan hingga sampai sekarang menjalin persahabatan.
Mereka menaiki mobil masing-masing menuju restoran karena mereka akan masuk kuliah.