
Setelah kejadian tak mengenakan di perusahaannya Azka mengajak istri dan putrinya pulang, Azka tak ingin membuat istrinya merasa bersalah karena membuat kerusuhan di kantornya.
Sejak tadi Dyah terus meminta maaf pada suaminya karena kejadian tadi.
" Sayang dudah jangan minta maaaf lagi itu bukan salahmu ayo kita pulang " kata Azka, memeluk istrinya ia menatap putrinya sedang bermain dengan boneka yang di bawanya.
" Mas Dyah pulang sendiri saja mas pasti sibuk" kata Dyah, menatap mata suaminya Azka tersenyum dan mencium bibirnya.
' Mas hi ada Ira " kata Dyah, menatap tajam ke arah suaminya.
" Sayang jangan fikirkan pekerjaan mas tak ada lagi hari ini hanya ada metting" kata Azka, Dyah menanggukan kepalanya.
" Sayang ayo kita pulang" ajaknya pada Aquira, Aquira tersenyum dan memegang tangan bundanya.
" Mas kita jemput Fathan dulu ya" kata Dyah, mengingat adiknya sebentar lagi akan pulang. Azka menanggukan kepalanya.
Akbar melihat Azka keluar segera mendekatinya.
" Tuan muda, nona, nona kecil" kata Akbar, dengan hormat Dyah dan Aquira tersenyum.
Azka memintanya untuk mengurus perusahaan karena ia bersama keluarga kecilnya akan pulang dan mengatakan jika ada telepon katakan esok akan di hubung lagi.
Karyawan memberi hormat pada Azka, Dyah dan Aquira mereka tidak membicarakan kejadian tadi siang takut melihat kemarahan Azka, kejadian tadi memang cukup mengejutkan untung saja tak ada yang merekam jika ada orang itu pasti tak selamat.
Selama perjalanan Dyah maupun Azka tidak bicara Dyah nenatap arah luar jendela Azka tahu istrinya masih syok atas kejadian tadi makanya ia hanya diam dan memegang tangan istrinya memberikan kekuatan.
Sedangkan Aquira menatap heran pada orangtuanya tapi ia tak menanggu, Aquira bermain dengan bonekanya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama mereka sudah sampai di sekolah beruntung tidak ada satu siswa pun keluar karena belum waktunya pulang.
" Bunda kita sudah sampai om Fathan pasti senang melihat kita menjemputnya" kata Aquira, dengan bahagia.
__ADS_1
Azka memegang tangan Dyah dan menanggukan kepalanya seakan mengatakan semuanya pasti baik saja dan masalah tadi jangan kamu fikirkan. Dyah tersenyum manis dan mengajak mereka keluar kebetulan bel telah berbunyi.
Fathan keluar dari kelasnya bersama temannya saat sudah sampai di lapangan ia melihat Dyah dan lainnya berada di sekolahnya, Fathan pamit pada temannya sedangkan temannya juga menemui ibunya yang juga menjemput.
" Kakak" kata Fathan, senyum mencium tabgan Dyah dan Azka. Dyah tersenyum dan mencoum kening adiknya Aquira memegang tangan Fathan mereka masuk dalam mobil.
" Kakak tadi bu guru mengatakan hari kamis mengadakan acara" kata Fathan, tapi dengan wajah yang sedih.
Dyah melihat ada kesedihan dari wajah adiknya membuatnya bertanya apakah ada yang membully adiknya.
" Fathan" kata Dyah membalikan tubuhnya Aquira duduk di sampingnya pun memeluknya.
" Kakak besok sekolah akan mengadakan acara hari ibu dan Fathan di minta membaca puisi tentang kita, Fathan rindu ibu kak hiks hiks" tangisan Fathan membuat seisi mobil sedih dan Dyah pun menutup mulutnya memenjamkan matanya dan mengeluarkan air matanya.
Dia tak sanggup untuk menatap mata sang adik dia juga merindukan orangtuanya sejak pindah ke kota dia tak pernah lagi ke desa, Azka hanya diam menenangkan istrinya dengan memegang tangan Dyah.
Dyah menghapus air matanya dia tak ingin adiknya kalau dia juga menangis.
Azka tersenyum melihat ketegaran istrinya dia mengelus pipi Dyah dan bertepatan mobil tiba di kediaman keluarga Alexanders. Mereka turun dari mobil dan mengucapkan salam.
" Azka apa yang terjadi? " mami Atika, melihat lainnya sedih.
" Kalian istirahatlah Fathan temani kakakmu" kata Azka.
" Ya kak tapi Fathan ganti baju dulu" kata Fathan lainnya menanggukan kepalanya.
" Papi Ira temani bunda ya" kata Aquira, Azka menanggukan kepalanya mami Atika dan papi Ammar menanti jawaban putranya Dyah sudah pamit pada suami dan mertuanya memegang tangan Aquira menuju kamarnya.
" Papi mami duduklah Azka akan mengatkannya" kata Azka, mami Atika dan papi Ammar mengikuti Azka duduk. Azka mengela nafasnya dan menceritakan semuanya.
" Kasihan mereka setelah orangtuanya kecelakaan dan meninggal langsung ke kota dan sudah beberapa tahun mereka tidak pernah ziarah" kata mami Atika, mengingat ketika Dyah dan Fathan datang ke rumahnya dan meminta pekerjaan.
__ADS_1
" Mami benar ketika liburan Azka akan nengajak mereka ke sana apalagi kehamilan Dyah sudah membaik dari sebelumnya" kata Azka, mereka menanggukan kepalanya.
Ibuku
Ibuku kuharap aku bisa memegang tanganmu,
untuk sepanjang hidupku,
aku harap aku bisa menggenggam tanganmu sepanjang perjalananku,
Ibuku, hari ini aku ingin mengatakan,
Ibu adalah hal terbaik yang terjadi pada ku,
Cintaku padamu akan selalu ada dalan doaku.
Itulah tulisan puisi yang Dyah tulis untuk adiknya dia menulis dari hatinya, Fathan sangat menyukai puisi yang di tulis oleh kakaknya sampai ia ingin di bingkai dan di tempel di dinding kamarnya.
Mami Atika dan papi Ammar juga merasa haru telah mendengar puisi yang di tulis oleh Dyah, sampai mereka menangis karena haru bahkan Aquira juga menginginkan puisi untuk ayah mereka tertawa mendengar permintaan Aquira.
Perusahaan Robert Zract terjadi keributan tiba saja para investor menarik dananya.
Brak
" Siapa yang melakukan semuanya Kau cepat selidiki kenapa mereka menarik investornya" kata Robert, emosi meminta asistennya mencari tahu apa yang terjadi pada perusahaannya.
Setahunya dia tak pernah menyinggung siapa entah kenapa dia seakan lupa kejadian fi restoran.
" Selly papi harap kamu bisa dengan usahamu karena perusahaan sangat membutuhkan dana" guman Robert, mengingat putrinya mendekati Azka.
Selly dan Violit tidak tahu apa yang terjadi di perusahaan mereka asyik shopping di salah satu mall, mereka tidak tahu kejadian apa yang sedang menanti.
__ADS_1