
Kediaman keluarga Alexanders.
Aquira menemani kedua adik kembarnya setelah pulang sekolah mereka bermain di halaman.
" Kakak kita bermain apa? " Dika.
" Kita bermain ular tangga sebentar kakak akan mengambil permainannya" kata Aquira, berdiri menuju kamarnya mengambil permainan di kamarnya.
" Bunda" kata Aquira, dengan lirihnya mengingat dia dan Dyah sering memainkannya Ira tersenyum menghapus kesedihannya dan membawanya menemui adiknya.
" Dek ini kakak bawa permainannya jika yang kalah wajahnya akan di colet pakai ini" kata Aquira, menunjukan spidol yang dibawanya. Diaz dan Dika menepuk tangannya mereka semangat dengan permainannya.
Bibi Ina tersenyum melihat mereka bermain dengan cerianya dia kembali mengingat kebersamaan mereka bersama Dyah dan Fathan.
" Nona muda cepatlah kembali mereka sangat membutuhkanmu, apalagi nona Ira sejak nona muda pergi nona kecil banyak perubahan" guman bibi Ina, menghela nafasnya secara berat kembali melanjutkan pekerjaannya.
" Hee Diaz kalah" kata Dika, senang melihat saudaranya kalah.
" Kakak ayo coret wajah Diaz " kata Dika, Aquira mencoret kening adiknya pakai spidol, Diaz terlihat cemberut karena dia kalah.
" Nona, tuan kecil ayo makan dulu bibi sudah menyiapkan makanan kesukaan kalian" kata bibi Sumi, memanggil ketiganya untuk sarapan.
Mami Atika dan papi Ammar pergi ada pertemuan dengan sesama pembisnis walau papi Ammar sudah pensiun dan perusaha di urus oleh Azka tapi dia tetap berhubung baik dengan pembisnis lainnya, apalagi pembisnis yang sudah terjalin kerja sama dengan perusahaannya.
Mami Atika hanya bisa senyum saat para istri pembisnis membicarakan menantunya.
" Nyonya bukankah sudah tiga tahun istri tuan muda Azka pergi" kata nyonya Ayu.
" Benar tu sebaiknya nyonya mencarikan istri baru untuk tuan muda Azka. Bisa saja dia sudah mencari suami yang baru" kata nyonya Sintia.
" Bisa saja namanya juga gadis miskin mana tahan dia hidup sendirian" kata nyonya Dian.
" Nyonya saya memiliki seorang keponakan umurnya baru dua puluh lima tahun seoran direktur pasti cocok untuk tuan muda Azka" kata nyonya Ayu, memperkenalkan keponakannya memjadi istri Azka.
__ADS_1
Mami Atika merasa kesal beraninya mereka berkata buruk mengenai menantu kesayangannya, walau Dyah sudah pergi tiga tahun tapi dia percaya Dyah akan kembali mami Atika hanya diam tersenyum mendengar mereka bicara.
Perusahaan Alexanders Group.
Suasana ruang Azka menjadi tegang meski AC hidup tapi suasana menjadi tegang pertemuan antara Dyah dan Azka benar menjadi sebuah takdir yang tak terduga seakan tuhan yang mempertemukan mereka.
Azka menatap Dyah tanpa berkedip ada kebahagiaan yang dirasakannya akhirnya istrinya berdiri di hadapannya, tapi sepertinya istrinya masih melupakannya dan selama ini dimana istrinya tinggal padahal dia sudah mencari kemana saja tak pertemukan.
" Nona silahkan perkenalkan dirimu pada tuan muda karena dia menjadi atasanmu" kata Akbar, mencairkan suasana ini apalagi melihat Dyah ketakutan.
" Oh maaf tuan Saya Dyah Permata, saya dari kota Z".
" Kota Z?" Akbar, menatap Azka, Dyah menanggukan kepalanya dan menatap mereka yang terlihat terkejut.
" Memangnya kenapa tuan benar saya baru tinggal di kota Z sekitar tiga tahun tapi asal saya di desa, tapi saya pernah tinggal di kota tapi saya tak mengingatnya" kata Dyah.
Gracya dan lainnya terkejut mendengarnya ternyata Dyah masih belum mengingat masa lalu bersama Azka.
" Saya kurang tahu nona saat saya pindah ke kota Z tak sengaja saya menemukan uang dan perhiasan dalam tas ransel milik adik saya, uang itu saya gunakan untuk kuliah dan lainmya dan saya juga bekerja di restoran sebagai pelayan sejak kuliah" kata Dyah, entah kenapa Dyah menceritakan semuanya pada mereka seakan merasa mengenal sejak lama.
Azka tersenyum ternyata uang dan perhiasan yang diberikan olehnya berguna bagi istrinya.
" Kamu diterima bekerja disini dan esok kamu bisa mulai bekerja " kata Azka, dengan senyuman Gracya dan Akbar bahagia melihat Azka kembali tersenyum.
Dyah sangat bahagia karena dia diterima bekerja disini dan kehidupannya dan Fathan akan membaik, tapi kalau esok dia bekerja bagaimana dengan Fathan dia merencanakan akan mencarikan sekolah untuk adilnya esok harinya.
Gracya melihat Dyah bingung. " Dyah, apa yang kamu fikirkan? " Gracya.
Dyah tersenyum dia memang dalam bingung Azka menatap intens pada istrinya ada rasa takut sendiri yang dia rasa.
" Nona adik saya baru saja tamat SD dan rencananya saya akan mencarikan sekolah esok dan saya juga mencari asisten rumah tangga untuk menemani adik saya di rumah" kata Dyah, menggaruk keningnya, Azka menghela nafasnya ada rasa lega.
" Kamu yakin ini untuk adikmu apa bukan untuk suami atau pacar mungkin" Gracya, menggoda Azka yang terus menatap Dyah penuh kerinduan dan dia ingin menggodanya, Azka menatap tajam ke arah Gracya beraninya dia bicara begitu pada istrinya tapi dia juga takut jika itu benar, Akbar menghela nafasnya melihat istrinya menggoda Azka.
__ADS_1
' Nona saya belum memiliki suami apalagi pacar" kata Dyah, menggelengkan kepalanya penasaran kenapa wanita dihadapannya bertanya seperti tadi.
Azka mengusap dadanya lega rasanya kalau istrinya tidak menikah lagi.
" Kamu bisa mulai bekerja hari senin" kata Azka.
" Terimakasih tuan" Dyah, merasa lega karena bosnya berbaik hati. Dyah pamit karena dia harus segera pulang karena Fathan sendirian walau dia sudan mempersiapkan makan siang dia tetap khawatir.
" Tuan muda sebaiknya kita minta bibi Sumi atau bibi Ina membantu Dya saya khawatir jika ada yang berniat buruk" kata Gracya, khawatir.
" Kamu Grac ayo kita pulang" kata Azka, segera menuju ke kediaman keluarga Alexanders diikuti oleh Gracya dan Akbar.
Rumah Dyah yang baru.
Fathan bahagia melihat kakaknya pulang dia segera mendekat dan bertanya.
" Kakak gimana? " Fathan, sangat percaya kalau kakaknya akan diterima apakah kakaknya sudah bertemu Azka dan gimana reaksinya.
Dyah menceritakan kalau dia diterima bekerja Fathan bahagia mendengarnya, melihat kakaknya senang dia nggk berani mengatakan sesuatu.
Kediaman keluarga Alexanders.
Papi Ammar dan lainnya berkumpul di ruang tengah menemani sikembar bermain dan Aquira mengerjakan tugas sekolahnya.
"Bibi Sumi, bibi Ina" teriak Azka, berlarian masuk ke dalam mami Atika dan lainnya terkejut mendengar teriakan putranya.
" Azka, apa terjadi sesuatu hingga berteriak seperti itu" kata Mami Atika, dengan tenangnya meminum teh.
Azka langsung memeluk mami Atika dengan erat sampai minumanmya tumpah bibi Sumi dan bibi Ina mendengar teriakan Azka segera menemuinya.
" Azka ada apa ini dan kalian menangis" kata papi Ammar, melihat Gracya dan Akbar menangis Aquira dan kedua adiknya memandang Azka menangis di pelukan mami Atika.
" Azka, katakan pada mami ada apa ini? " mami Atika, mengusap punggung putranya. Azka menghapus air matanya menatap semua orang.
__ADS_1