
Mirna sudah kembali dari kantin berbelanja yang di minta oleh Dyah tidak lupa membelinya untuk dirinya dan Dyah.
" Kak terima kasih maaf merepotkanmu" kata Dyah pada Mirna tang sudah duduk di hadapannya, Dyah menggelengkan kepalanya.
" Tidak apa nona, nona kecil ini ayo dimakan " kata Mirna membelikan pesanan Aquira. Dengan antusias Aquira memakan makanannya.
Di ruang rapat Azka belum mau keluar dia masih emosi dengan kejadian tadi.
" Tuan muda tak ingin kembali ke ruangan" kata Akbar melihat Azka memejamkan matanya, Azka menggelengkan kepalanya kemudian membuka matanya.
" Aku tak ingin putriku melihat dalam keadaan seperti ini" kata Azka, Akbar tersenyum mendengarnya.
" Bunda papi kenapa sekali datangnya? " Aquira mengucek matanya. " Ira ngantuk sayang" kata Dyah.Aquira menggelengkan kepalanya.
" Bunda ayo kita cari papi" kata Aquira dengan semangatnya menarik Dyah.
" Sayang tunggu dulu, kak apa tidak apa jika kami mengelilingi kantor mungkin nona bosan" kata Dyah. " Tentu boleh nona mari saya temani" kata Mirna tidak mungkin membiarkan Dyah sendirian menelilingi kantor bersama Aquira.
__ADS_1
" Terimakasih kak" sahut Dyah, mereka keluar dari ruangan Azka Dyah sydah mengirim pesan pada Azka agar dia tak khawatir.
Mereka bertiga keluar dari ruangan Azka dan masuk ke dalam life. " Bunda kita mau kemana? " Aquira menatap Dyah yang sedang menggendongnya di dalam life.
Dyah tersenyum mencium pipi Aquira, Aquira tersenyum dan memeluk leher Dyah dengan tangan mungilnya.
" Kita akan jalan-jalan jalan di kantor papi" kata Dyah menatap Aquira yanh tersenyum. " Nona terlihat nona Aquira sangat menyayangi, anda" kata Mirna dibalas dengan senyuman oleh Dyah.
Tin
Dyah hanya senyum canggung melihat semua mata tertuju padanya, ada juga menatapnya dengan senyum ada juga dengan banyak pertanyaan di kepala mereka.
" Mirna mereka siapa sih kenapa kamu membiarkan mereka kesini, lihat anaknya menanggu kami bekerja" kata salah satu karyawan keuangan yang menatap Dyah memantau Aquira.
" Jika kamu melarang mereka ke sini yanga TTS ada kamu yang kena marah" kata Mirna menghampiri Dyah mendekat bersama Aquira.
Kemudian mereka melajutkan ke ruangan yang lain sama seperti yang lain semua karyawan menatap ke arah mereka.
__ADS_1
" Kalian darimana saja? " Azka, mereka bertiga terkejut melihat Azka sudah di depan mereka, Dyah dan Mirna saling mengobrol sampai terdiam melihat tatapan Azka.
Dyah menundukan kepalanya takut jika Azka marah karena meninggalkan ruangan padahal dia sudah memberi kabar melalui pesan.
" Tuan saya minta maaf karena " ucapan Dyah terpotong karena suara Aquira. " Papi Ira senang disini kantor papi luas" kata Aquira menatap Azka dengan senyuman.
Azka tersenyum dan menggendong putrinya. " Dyah kenapa kamu tidak memberitahu saya" kata Azka. " Ha" Dyah langsung menatap Azka.
Dyah langsung menunduk kepalanya dan memejamkan matanya.
" Tuan saya sudah mengirim pesan pada anda" kata Dyah, Azka memikirkan ucapan Dyah dia tahu Dyah takkan membuat kesalahan seperti ini dia pun memeriksa HP ternyata ada pesan Dyah.
" Mirna, Akbar lanjutkanlah pekerjaan kalian mereka berdua biar bersama saya" kata Azka menghilangkan rasa malunya.
" Baik tuan" sahut Akbar dan Mirna meninggalkan Azka. " Sekarang putri papi mau kemana lagi biar papi yang menemani.
" Boleh papi" kata Aquira, Azka menanggukan kepala.Aquira merasa bahagia bisa jalan bersama papi dan bundanya bahkan semua karyawan terkejut melihat kasuh sayang Azka yang ditunjukannya pada sang putri.
__ADS_1