
Azka dan Akbar baru saja tiba di kediaman keluarga Alexanders di sambut oleh pelayan.
" Bibi dimana mami, papi dan putriku? " Azka. " Mereka di ruang tengah tuan muda" kata bibi Ina, Azka menanggukan kepalanya.
" Tuan muda kalau begitu saya ke apartemen " kata Akbar. " Tidak masuk dulu, Akbar?" Azka. " Tidak usah tuan muda kalau begitu saya pamit dulu" kata Akbar, Azka menanggukan kepalanya.
Pelayan mengantar Akbar keluar Azka menemui orangtua dan putrinya di ruang tengah.
" Mami, papi" panggil Azka menyalami orangtuanya, orangtuanya tersenyum tapi ketika dia melihat putrinya terlihat sedih sedang bermain.
" Ira kenapa sayang?" Azka pada putrinya, Aquira melihat papinya berdiri kemudian memeluknya dengan kedua tangan mungilnya.
" Sayang katakan pada papi siapa yang membuatmu menangis? " Azka mengelus punggung putrinya.
" Bunda sakit papi terus bunda nggk semangat menemani Ira bermain, pasti Ira nakal makanya bunda sakit" kata Aquira bersenggukan.
Azka menatap orangtuanya minta penjelasan sedangkan mami Atika malah senyum.
" Mami jelaskan pada Azka sebrnarnya ada apa? tadi ketika Azka berangkat Dyah baik - baik saja" kata Azka.
__ADS_1
" Dyah tidak sakit nak dia malah sehat memang tadi dia banyak melamun hingga sedikit tidak memperhatikan Aquira" kata mami Dyah.
" Maksud mami? " Azka, tak ingin kembali membuat kesalahan hingga orangtuanya marah padanya.
" Kamu tahu sendiri Dyah sudah setahun bekerja sebagai pengasuh putrimu, tadi dia sudah bilang pada mami ingin melanjutkan pendidikannya" kata mami Atika.
Azka terkejut mendengar perkataan dari maminya Dyah ingin melanjutkan pendidikan, bahkan dia tak tahu menengai hal ini.
" Bibi panggil Dyah" kata Azka melihat bibi Ina. " Baik tuan muda" sahut bibi Ina segera memanggil Dyah yang sedang membantu bibi Sumi.
Dyah segera menemui Azka setelah mendengar bibi Ina yang mengatakan bahwa Azka memanggilnya.
" Kamu ikut saya ke ruang kerja" kata Azka pergi ke ruang kerja, Dyah menatap mami Atika yang tersenyum dan menanggukan kepalanya.
Dyah segera menemui Azka sebelum Azka menunggu lama, Aquira berada pangkuan kakeknya yang sedang tertidur.
Ruang kerja
Azka meminta Dyah duduk di sofa sedangkan dia duduk di hadapan Dyah, Azka menatap tajam pada Dyah dan menunggunya untuk berbicara.
__ADS_1
Sudah sepuluh menit meteka duduk di ruang kerja Azka tak ada yang mulai berbicara.
" Dyah, kamu tak ada ingin mengatakan sesuatu pada saya" kata Azka, Dyah tak menyangka bahwa Azka akan mengatakan itu.
" Apa nyonya dudah memberitahunya pada tusn muda" guman Dyah tapi masih dapat di dengar oleh Azka.
" Benar yang kamu fikirkan mami sudah mengatakannya, kenapa kamu tidak bilang pada saya dan kamu tidak menanggap saya" kata Azka dengan tegas.
" Maafkan saya tuan bukan maksud saya untuk menyembunyikannya tapi saya menunggu waktu yang tepat untuk membicarakannya" kata Dyah.
" Kapan kamu mendaftar untuk kuliah? " Azka. " Saya sedang mencari lokasi yang tak jauh dari sini tuan muda" kata Dyah.
Azka menatap Dyah kemudian dia menghubungi Akbar.
" Halo Akbar besok sebelum ke kantor kamu ke rumah saya, ada yang perlu katakan dan satu lagi carikan universitas terbaik, setelah mendapatkannya segera hubungi saya" kata Azka memutuskan panggilannya.
" Besok Akbar akan kemari membawakan informasi universitas terbaik di sini, ingat jangan ada bantahan" kata Azka.
" Baik tuan muda dan terima kasih" sajut Dyah kemudian pamit karena hari sudah larut, Azka kembali ke kamarnya karena juga merasa lelah.
__ADS_1