
Dyah berada di kamarnya terus memikirkan kejadian waktu pernikahan Farel dan Dyah melihat kedua senior di kampusnya berusaha mendekati suaminya membuatnya cemburu entah karena kehamilannya atau memang dia cemburu.
" Apa karena perutku mulai buncit dan berat badanku bertambah makanya mas Azka mencari yang lain, hiks hiks hiks" Dyah menangis dalam diam.
Mami Atika baru saja menyelesaikan masak untuk makan siang.
" Bibi tolong letak ini di meja saya akan memanggil Dyah di kamarnya" kata mami Atika, melepas celemek.
" Baik nyonya" kata Bibi Sumi, yang kebetulan berada di dekatnya. Dengan bantuan bibi Ina meletakan makanan di atas meja.
Mami Atika mengetuk pintu kamar putranya yang berada di pantai satu.
" Dyah, ayo kita makan siang " kata mami Atika, mengetuk pintu tapi Dyah tidak merespon.
" Nak, kamu sedang hamil ayo kita makan bersama" kata mami Atika mulai mrngkhawatirkan menantunya.
Papi Ammar turun dari lantai dua baru saja dari ruang kerja, saat tiba di lantai satu papi Ammar melihat istrinya memanggil menantunya membuatnya juga khawatir.
" Mami,ada apa ini" kata papi Ammar. " Papi cepat bujuk menantu kita sekarang sudah waktunya makan siang tapi dia tak mau membuka pintunya, mami takut menantu kita kenapa pi" kata mami Atika, dengab suara yang serak.
Mendengar perkataan mami Atik membuat papi Ammar juga khawatir dia juga merasa sejak pulang dari pesta kemaren membuat menantunya murung.
" Nak ayo makan dulu atau kamu ingin sesuatu? " papi Ammar, mami Atika mengiyakan perkataan suaminya.
Dalam kamar Dyah seakan tuli orang memanggilnya dia hanya menangis dan murung, sampai ia menghiraukan kehamilannya.
" Papi kita tak busa begini terus mami sangat mengkhawatirkan menantu kita, papi hubungi Azka sekarang suruh pulang saat ini" kata mami Atika dengan sendu.
Papi Ammar menanggukan kepalanya menghubungi putranya.
Azka berada di restoran T sedang ada pertemuan dengan klien membahas proyek yang mereka kerjakan, Azka sejak tadi terlihat gelisah ia terus memikirkan istrinya.
Hingga apa yang di sampaikan oleh sekretaris pihak lawan tidak di dengar oleh Azka, Klien menatap Akbar dan menoleh pada Azka yang tetlihat tidak fokus.
" Tuan muda baik saja apa perlu kita menunda pertemuan ini" kata Akbar, mengkhawatirkan bosnya.
__ADS_1
"Benar tuan Azka kita bisa melanjutkan pertemuan ini esok hari kebetulan saya di sini selama seminggu, sebelum kembali ke negeri Australia" kata klien memgerti dengan keadaan Azka terutama dia tak ingin proyek ini gagal.
Azka menghela nafasnya mengusap wajahnya secara kasar dan meminta pada kliennya dan meminta sekretarisnya mengatur kembali jadwal pertemuan, Klien dan sekretaris mohon pamit kembali ke hotel.
Ketika Azka dan Lainnya akan kembali ke perusahaan terdengar suara HP berbunyi.
" Azka cepat pulang istrimu sejak tadi memurung diri di kamar, papi dan mami sudah memanggilnya untuk makan siang Dyah tak mau membukakan pintunya. Azka cepatlah pulang" kata papi Ammar, terburu.
Azka mendengar kabar istrinya membuat termenung ia tak mengira keadaan kemaren membuat istrinya memurung kamar, seharusnya dia kemaren membujuk istrinya tidak memberinya waktu sendiri.
Padahal Azka diam agar istrinya menenangkan diri dan setelah dari pertemuan ini dia akan menemui istrinya.
" Tuan muda? " Akbar, merasa bungung dengan ini.
" Akbar ayo kita pulang sekarang" tekan Azka, telah sadar Akbar meminta sekretaris kembali ke kantor dan dia akan mengikuti Azka.
Aquira dan Fathan sudah pulang dari sekolah melihat mami Atika dan papi Ammar berdiri di depan kamar Dyah membuat mereka juga berdiri di sana, bahkan mami Atika dan papi Ammar sudah meminta mereka untuk berganti pakaian tidak mau.
" Nenek bunda Ira kenapa, hiks hiks hiks" Aquira, menangis dan mami Atika memeluknya.
" Nenek boong Bunda tak mau membuka pintunya, om ayo kita bujuk Bunda nanti dedeknya ikut sakit, Ira tak mau dedek dalam perut bunda sakit" kata Aquira, bersenggukan.
Fathan menanggukan kepalanya bahkan dia sudah menangis.
" Kakak ini Fathan dan Ira, kakak Fatahan belum makan" kata Fathan, tapi Dyah tetap tak mendengarnya. Mami Atika menangis dalam pelukan suaminya bahkan bibi Sumi dan bibi Ina saling berpelukan sudah dua jam Dyah mengurung diri tanpa makanan masuk di dalam tubuhnya.
"Papi, hiks hiks hiks" Aquira mengejar Azka dan memeluk kakinya.Azka dan Akbar sudah sampai di kediaman keluarga Alexanders.
" Sayang ayo bersama nenek biar papi berbicara dengan Bunda, ya sayang" kata mami Atika. Aquira menanggukan kepalanya.
" Papi harus membujuk bunda keluar ya nsnti dedeknya sakit" kata Aquira, melihat Azka. Azka terlihat frustasi sejak tadi dia terus menyalahkan dirinya sendiri.
Akbar juga mengajak Fathan menjauh dan membiarkan Azka membujuk Dyah.
" Sayang ayo buka pintunya mas minta maaf karena mendiamimu, mas hanya ingin memberimu sendiri bukan maksud mas mengacuhkanmu. Sayang ayo keluar kasihan si kembar mereka butuh nutrisi" kata Azka, dengan seraknya.
__ADS_1
Dyah mendengar perkataan suaminya dia mengelus perutnya dan air matanya turun semakin deras, Dyah merasa menyesal hanya karena kecemburuan membuat anak dalam perutnya menderita.
" Sayang bunda minta maaf karena telah membuat kalian menderita, ayo kita temui papi bunda sangat merindukan papi" kata Dyah senyum.
Dyah turun dari kasur sekali memegang kepalanya karena dia merasa pusing, Dyah terus berusaha menggapai pintu suara suaminya terdengar memanggil namanya.
Brug
Dyah jatuh pingsan saat ia hampir membuka pintu tiba saja pandangannya gelap.
" Sayang" Azka berteriak melihat istrinya pingsan.
Azka mendengar ada yang jatuh dari dalam tanpa berfikir panjang ia mendobrak pintu, disinilah dia terkejut melihat istrinya tak sadarkan diri.
Azka langsung memangku istrinya dan memanggil nama Dyah. " Sayang bangun jangan membuat mas takut" kata Azka, memeluk istrinya.
Mami Atika sudah menangis dalam pelukan suaminya sedangkan Aquira menangis di gendong bibi Ina, Fathan duduk di samping kakaknya ia sangat ketakutan melihat keadaan Dyah.
Akbar segera menghubungi dokter dan memberitahu papi Ammar kalau dokter segera datang, papi Ammar mengucap terima kadih karena dia tak berfikir menghubungi dokter.
" Dokter cepat panggil" teriak Azka. " Nak sabarlah Akbar telah menghubungi dokter sebaiknya kamu angkat istrimu ke atas kasur" kata papi Ammar, Azka segera menggendong istrinya dan senantiasa memegang tangannya.
" Tuan Akbar dokter sudah datang" kata bibi Sumi, Akbar segera memintanya untuk masuk ke dalam kamar.
" Siang tuan, nyonya" kata dokter.
" Dokter cepat periksa menantu kami" kata mami Atika, menceritakan apa yang terjadi sebelum Dyah jatuh pingsan.
" Tuan, nyonya harap minggir saya akan memeriksa nona" kata dokter. " Nak beri waktu dokter memeriksa Dyah" kata papi Smmar, menepuk punggung putranya.
Azka menjauh sedikit membiarkan dokter memeriksa Dyah.
" Dokter gimana keadaan istriku'kata Azka. " Tuan muda keadaan nona Dyah lemah apalagi setelah mendengar penjelasan dari nyonya, sepertinya nona kekurangan cairan dan stres sebaiknya nona di rawat rumah sakt beruntung janinnya kuat" kata dokter.
Tanpa membuang waktu Azka meminta Akbar untuk mempersiapkan semuanya.
__ADS_1