
Betapa terkejutnya Azka melihat isi lemarinya pakaian san lainnya yakni milik istrinya tak ada pada tempatnya dan begitu pula dengan foto pernikahan mereka yang terpasang di dinding.
" Sial siapa yabg berani melakukan semuanya ini tanpa seizinku" guman Azka, yang marah besar.
Tanpa berfikir panjang dia keluar dan mencari bibi , Azka mengira pelayannya yang melakukan semua ini.
" Bibi, bibi, bibi" teriak Azka, keluar dari kamar dengan tatapan matanya turun dari tangga.Mereka yang mendengar teriakannya menjadi terkejut dan takut karena sudah lama Azka tidak semarah ini.
" Papi, apa Azka sudah mengetahuinya" kata mami Atika, mengingat semua barang milik Dyah sudah di pindahkan.Mami Atika dan papi Ammar bangun dan terkejut mendengar teriakan Azka mereka memutuskan keluar dari kamar untuk menghadapi kemarahan Azka.
Bibi Sumi dan bibi Ina merasa ketakutan mendengarnya hingga tak berani untuk mendatangi Azka yang sudah berada di dapur.
" Bibi gimana nih tuan Azka sepertinya marah besar atau dia sudah melihatnya, bi" kata Bibi Ina, membicarakan lemari Azka.
" Ina, ayo kita hadapi jika tuan ingin kita keluar tuan dan nyonya besar pasti melarangnya karena ini permintaan nona muda" kata bibi Sumi, dengan suara yang gemetaran bibi Ina hanya bisa menanggukan kepalanya dan menghadapi Azka.
" Astaghfirrurrah, apa yang terjadi?" Dyah, terkejut mendengar suara teriakan dari arah dapur, Dyah melihat Fathan tak terganggu tidurnya merasa lega.
"Sebaiknya aku keluar dan melihat apa yang terjadi" guman Dyah, merapikan selimutnya turun dan keluar dari kamar dengan hati-hati agar Fathan tak bangun.
Dapur.
" Azka, apa yang terjadi?. " Kenapa kamu berteriak malam-malam" kata papi Ammar, papi dan mami sudah sampai di dapur.
" Papi diam saja ini urusanku dengan mereka" seru Azka, menunjuk arah bibi Sumi dan bibi Ina yang sudah berada di hadapannya.
Papi Ammar dan mami Atika terdiam, Azka menatap mereka dengan dingin dan marah besar bibi Sumi dan bibi Ina ketakutan dan tubuh mereka bergemetaran.
" Sekarang katakan padaku siapa antara kalian yang berani memasuki kamarku dan memindahkan semua barang istriku" tekan Azka, menatap mereka dengan tajam.
" Tuan muda itu" suara bibi Sumi terpotong dengan suara mami Atika, Mami Atika tak bisa diam melihat kemarahan putranya karena mereka tak bersalah.
__ADS_1
" Azka stop" kata mami Atika, dengan tegasnya menghampiri putranya dan menamparnya.
Plak
Mami menampar Azka bertepatan dengan Dyah yang sampai langkah kaki Dyah terhenti melihat mami Atika menampar Azka.
" Ada apa ini kenapa hatiku sakit melihat nyonya menamparnya dan kenapa dia marah besar pada bibi Sumi dan lainnya" kata Dyah, memegang dadanya dan air mata yang berjatuhan.
Azka memegang piipinya dan menatap tajam ke arah mami Atika.
" Azka, kamu lupa dengan keadaan istrimu dia tidak mengingat kita dan kami terpaksa melakukannya karena dia menganakan barangnya " kata mami Atika.
" Mami seharusnya bilang padaku Dyah itu istriku dan ibu anak-anakku" kata Azka.
" Kamu kira mami tidak memberitahumu lihat HPmu sudah berapa kali mami menghubungimu" kata mami Atika, Azka mengambil HPnya dan ternyata benar sudah ada sepuluh panggilan tak terjawab dari mami Atika.
" Sial kenapa terjadi padaku" tekan Azka, melempar HP hingga pecah.
Tiba saja kepala Dyah merasa sakit. " Awww" pekik Dyah memegang kepalanya. Semua orang terkejut melihat Dyah dengan keadaannya.
" Tuan muda ampun saya salah, saya minta maaf" kata Dyah, dengan lirihnya Azka terkekut melihatnya mami Atika dan lainnya mencoba mendekati Dyah tapi langkahnya terhenti mendengar tangisan Dyah.
Mereka mendengar Dyah berkata maaf dan minta ampun sambil kesakitan, dan alangkah terkejutnya mereka Dyah jatuh pingsan.
Azka segera membawanya ke kamar mereka diikuti oleh lainnya papi Ammar segera menghubungi dokter keluarga beruntung dia masih praktek walau hampir subuh, Azka merasa menyesal karena Istrinya mendengar keributan dan mengakibatkan kesehatan.
" Sayang maafkan aku, aku takut jika kamu melupakanku selamanya" kata Azka, dengan lirihnya. Mami Atika dan papi Ammar ikut sedih melihatnya.
Dokter keluarga yang dihubungi oleh papi Ammar telah sampai.
" Dok menantu saya jatuh pingsan" kata papi Ammar.
__ADS_1
" Harap tuan dan nyonya keluar dulu biar saya yang memeriksa nona muda" kata dokter, papi Ammar mengajak putranya kekuar dan membiarkan dokter meneriksa Dyah dengan berat Azka keluar.
" Dokter gimana keadaan istriku" kata Azka, melihat dokter keluar dari kamar.
Dokter menghela nafasnya. " Tuan muda, nona muda mengalami ketakutan yang berlebihan jika dia terus menerus merasa hal tersebut saya takut nona semakin tak ingin ingatannya kembali, saya harap nona muda jangan pernah merasa hal yang sama lagi jika tidak saya takut akan akibatnya" kata dokter.
Mereka terdiam mendengarnya. " Tuan muda buatlah hal yang indah nona pasti merasa bahagia" kata dokter, pamit karena dia harus pulang mami Atika meminta bibi Ina mengantarnya ke depan.
" Ini salahku aku yang membuatnya begini, Azka kenapa kamu bodoh Azka. Hahaha" Azka tertawa menangis membuat orangtuanya khawatir.
Mami Atika langsung memeluknya Azka mengeluarkan emosinya menangis histeris dalam pelukan mami Atika.
Semenjak terjadi hal tersebut Azka berusaha menghindari Dyah dia tak ingin membuat istrinya ketakutan kejadian tersebut sudah berlangsung tiga hari yang lalu, keadaan seperti ini membuat keluarganya sedih tapi tak bisa berbuat apa.
Malam hari Dyah tiba saja mengalami mimpi buruk dia mimpi melihat Azka marah besar pada seorang gadis,Dyah berkeringat dingin dan tubuhnya di penuhi oleh peluh.
" Astaghfirrurrah, Ya Allah " kata Dyah, dia sangat merasa ketakutan hingga dia ingin pergi dari rumah.
" Aku tak bisa tinggal disini " kata Dyah, melihat jam ternyata menunjuk jam empat pagi.
" Fathan" Dyah membangunkan adiknya yang tidur di sampingnya.
" Kakak kenapa? " Fathan bangun melihat wajah kakaknya pucat.
" Fathan ayo kita pergi dari sini kakak takut" kata Dyah, dengan suara yang gemetaran. Fathan bingung dengan keadaannya gimana mereka pergi dari sini, sini adalah keluarganya dan kakaknya seorang istri dan menantu, tapi melihat kakaknya ketakutan Fathan rela meninggalkan semuanya dan melindunginya.
" Kakak mandi dulu ya biar Fathan menyiapkan barang kita" kata Fathan, Dyah menanggukan kepalanya segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Fathan segera memasukan barang mereka ke dalam koper walau Fathan masih kecil tapi dia mampu memasukan barang mereka ke dalam koper dan ternyata ada tiga koper besar, Fathan melihat uang dalam tas kecil milik kakaknya juga beberapa perhiasan Fathan segera memasukannya ke dalam tas ransel.
Fathan juga memasukan semua perlengkapan sekolahnya dan tanpa tertinggal, Fathan juga membersihkan dirinya setelah Dyah keluar.
__ADS_1
Secara diam-diam mereka meninggalkan kediaman keluarga Alexanders dan membawa barang mereka secara bergantian, Dyah meminta adiknya menunggu di dekat pos dan dia segera mengambil barang yang tertinggal.
Setelah memastikan barang semuanya lengkap tanpa tertinggal Dyah segera menghubungi taksi online, mereka meninggalkan kota menuju kota Z.