
" Dyah, apakah keputusanmu ada kaitan dengan pernikahan putraku" kata mami Atika.
" Tidak nyonya" kata Dyah, mengangkat kepalanya. " Saya sibuk dengan kuliah saya nyonya, saya takut tidak ada waktu untuk nona" kata Dyah dengan perasaan gugup.
Mami Atika berdiri dan memegang tangan Dyah. " Dyah, kamu jangan berbohong pada saya keputusanmu ini ada kaitan dengan pernikahan Azka. Kamu mencintainya" kata mami Atika.
Perkataan mami Atika membuat Dyah tak bisa lagi menutup kesedihannya, dia menangis mami Atika memeluknya untuk menenangkannya.
" Maaf nyonya saya sudah berani mencintai tuan muda" kata Dyah, melepas pelukannya dan menundukan kepalanya.
Mami Atika tersenyum dan mengajaknya duduk. " Dyah aku menghargai keputusanmu ini, jika saya ada di posisimu aku pasti akan melakukan hal yang sama" kata mami Atika.
" Nyonya tidak marah kalau saya" Dyah tak berani untuk melanjutkan bicaranya, mami Atika tersenyum.
" Kalau boleh saya jujur Dyah, saya kurang setuju dengan ini" kata mami Atika, tidak menyatakan kalau dia lebih menyukai putranya bersama Dyah.
__ADS_1
" Tapi tuan muda mencintainya, nyonya" kata Dyah kembali menundukan kepalanya.
" Baiklah saya terima pengunduran dirimu tapi setelah ini kamu mau kemana Dyah? " mami Atika, mengkhawatirkan Dyah yang hanya berdua dengan Fathan.
" Saya sudah menemukan kontrakan di dekat kampus, nyonya" kata Dyah.
" Jika kamu ingin saya mengizinkan kamu mengundurkan diri, kamu harus menerima tawaran dari saya" kata mami Atika.
Dyah menatap mami Atika meminta penjelasan mami Atika tersenyum.
" Tapi nyonya jika tuan muda tahu dia pasti akana marah" kata Dyah, tak ingin bertemu dengan Azka lagi setelah pernikahannya itu akan membuat hatinya kembali terluka.
" Kamu tenang saja tak ada yang tahu soal ini hanya saya dan bibi Sumi yang tahu rumah ini, karena rumah ini hadiah dari orangtuaku untuk ulangtahunku ke 25. Rumah itu belum sempat sempat di tinggalin karena papi mengajakku menikahiku sebelumnya.Dyah aku ingin kamu membawa bibi Sumi bersamamu dia akan menjaga Fathan selama kamu kuliah dan satu lagi aku juga memiliki cafe yang sudah lama terurus hanya ada bangunannya, aku tak sanggup menjualnya karena itu adalah hasil kerasku menjadi sekretaris sebelum menikah tolong kamu urus itu" kata mami Atika menitikan air matanya.
" Baik nyonya saya akan patuhi semua yang nyonya katakan" kata Dyah dengan tersenyum, ada rasa kasihan melihat majikannya yang selalu anggun sekarang seperti ini di hadapannya.
__ADS_1
" Kalau begitu saya pamit dulu nyonya karena sudah waktunya nona makan siang" kata Dyah, pamit pada mami Atika.
Mami Atika menanggukan kepalanya, dia melihat Dyah keluar dari kamarnya.
" Dyah maafkanku terpaksa aku memintamu hal seperti ini, entah kenapa aku yakin putraku itu akan menyadarinya kalau dia juga telah jatuh cinta padamu, saat ini dia hanya merasa keraguan dalam hatinya" kata mami Atika, menghela nafasnya.
Dyah menyuapi Aquira yang sedang bermain boneka bersama bibi Ina.
" Nona ayo satu suap lagi, nanti kak Fathan sebentar lagi pulang nona bisa mengajaknya bermain" kata Dyah, membujuk Aquira menghabisi makanannya.
" Tapi Ira sudah kenyang bunda" kata Aquira menutup bibirnya dengan kedua tangannya.
Bibi Ina tersenyum. " Nona ayo habisi makanannya nanti bunda sedih melihat nona tak menghabisi makanannya" kata bibi Ina.
Aquira melihat Dyah sedih kemudian dia membuka mulutnya, Dyah dan bibi Ina tersenyum melihat Dyah menghabisi makanannya.
__ADS_1