
Setelah kepergian mami Atika, papi Ammar dan Akbar tinggalah Dyah dan Azka di ruang ICU dimana Aquira rawat.
" Dyah selama ini kamu berada dimana sebulan ini aku sudah mencarimu kemana saja tapi tak ketemu dan kami pernah mencarimu di kampus tapi kamu tak ada" kata Azka.
" Ketika tuan muda dan Ira mencariku di kampus aku mengetahuinya" kata Dyah.
" Hahaha, seharusnya aku mengetahuinya kalau kamu pasti akan bersembunyi dari kami" kata Azka tersenyum tipis.
" Maaf tuan muda saya tak ingin menanggu kebahagiaan kalian" kata Dyah, dengan lirihnya.
" Tuan kenapa anda membatalkan pernikahan kalian karena tidak ada berita mengenai hal ini" lanjutnya dan menghadap Azka.
Azka berdiri menuju ruangan putrinya hatinya sakit melihat keadaan putrinya tubuhnya di pasang alat.
" Dia bukan wanita yang baik untuk putriku" kata Azka.Tidak ada lagi pembicaraan antara mereka yang ada hanya kesunyian.
AZka dan Dyah menjauh karena pintu terbuka keluarlah suster.
" Suster apakah kami boleh masuk? " Dyah. Suster melihat mereka.
" " Hanya satu yang bisa menemani pasien di dalam" kata suster.
" Terima kasih suster" kata Dyah, suster pamit melanjutkan pekerjaan yang lainnya.
" Tuan masuklah ke dalam saya tahu anda ingin melihatnya" kata Dyah, Azka tersenyum dan membelai pipi Dyah.
Azka masuk ke dalam terlihat putrinya yang belum sadarkan diri, dia merintikan air matanya tak sanggup melihat putri kesayangannya koma.
" Maafkan aku telah membiarkan putri kita seperti ini" kata Azka, mengingat kebersamaannya dengan istri pertamanya yang sedang mengandung.
Azka mencium kening putrinya tersenyum dan duduk di kursi samping putrinya, dia senyum membelai rambut putrinya.
" Sayang bangunlah lihat di luar sana orang yang kamu rindukan berada disini, kamu tak ingin menemuinya. Sayang maafkan papi telah berteriak padamu" kata Azka, dengan sedihnya.
Dyah mengingat orang di rumahnya apalagi sejak pulang dari kampus dia belum juga memberi kabar pasti adiknya khawatir.
Dyah menjauh dari ruangan ICU menghubungi bibi Sumi.
" Assalamualaikum bi"
" Ya bi Dyah masih di rumah sakit disini ada tuan muda, Dyah baik saja bi"
__ADS_1
" Fathan dimana bi? "
" Alhamdulilah ya bi sebentar lagi Dyah akan pulang"
" Wassalam"
Dyah kembali ke ruangan ICU melihat Azka di dalam, Dyah akan pulang tapi langkahnya terhenti oleh Akbar datang membawa barang Azka dan Aquira.
" Tuan Akbar saya pamit dulu hari sudah mulai gelap katakan pada tuan muda esok saya akan usahakan datang sepulang dari kampus" kata Dyah.
" Nona ingin saya antar? " Akbar.
" Nggak perlu saya bisa sendiri kalau begitu saya pamit dulu" kata Dyah. Akbar menanggukan kepalanya melihat Dyah pergi.
Akbar menyewa salah satu ruangan yang tak jauh dari ruangan ICU di gunakan untuk istirahat keluarga Alexanders.
Dyah melajukan mobilnya ke taman karena hatinya tak tenang Dyah menyandarkan kepalanya di kursi.
" Dyah, apa yang kamu harapkan semuanya ini sudah sebulan kalian tak bertemu tuan muda takkan pernah melupakan nona Helena, walaupun mereka sudah berpisah aku tak ingin berada diantara kenangan mereka" guman.
Dyah menyadari kalau perasaan cinta untuk Azka masih berada di hatinya bahkan semakin mendalam, Dyah juga sudah tahu kalau Azka membatalkan pernikahannya tapi Dyah ragu dengan perasaan Azka sendiri.
Dyah memenjamkan matanya bayangan Helena yang memintanya untuk menjauhi Azka kembali membayanginya dan juga kenangannya bersama Aquira dan Azka juga melintas dalam fikirannya.
Keesokan harinya terdengar suara adzan berkumandang membuat Dyah bangun dari tidurnya. Dyah menyandarkan kepalanya meminjit kepalanya karena pusing.
Dyah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap ke kampus, Dyah melaksanakan sholat subuh. Setelah shalat dia menuju ke kamar adiknya apakah sudah bangun.
Dyah tersenyum melihat adiknya baru saja selesai shalat.
" Kakak jam berapa pulangnya? " Fathan menatap tajam ke arah kakaknya.
Dyah tersenyum. " Kakak pulang jam 08 malam ketika kakak sampai adik kakak ini sudah tidur, baiklah ayo bersiap ke sekolah kakak ke dapur dulu" kata Dyah, Fathan tersenyum Dyah menutup pintu kamar Fathan menuju dapur.
Tiba di dapur Dyah melihat bibi Sumi memasak. " Bibi masak apa hari ini? " Dyah.
" Bibi tersenyum. " Bibi masak nasi goreng, Dyah bagaimana keadaan nona? " bibi Sumi.
Dyah menghela nafasnya. " Nona Ira koma bi" kata Dyah, dengan sedihnya.
" Semoga tuan dan nyonya kuat menghadapinya dan nona Ira cepat sadar" kata bibi Sumi, Dyah menanggukan kepalanya.
__ADS_1
" Bibi tahu mengenai tuan Azka yang membatalkan pernikahannya? " Dyah.
" Bibi tahu Dyah bi Ina yang memberitahu, Dyah ?" Bibi Sumi.
" Ya bi, Dyah tahu yang ada dalam fikiran bibi, Dyah tak tahu bi benar rasa itu masih ada untuknya tapi Dyah takut bi" kata Dyah, duduk di kursi.
Bibi mematikan kompor dan duduk di samping Dyah. " Apa yang kamu takutan Dyah, seharusnya kamu senang karena tuan membatalkan pernikahannya" kata bibi Sumi.
Dyah menghela nafasnya. " Dyah tahu bi, Dyah takut tuan muda masih mencintai nona Helena dan Dyah tak ingin hanya di jadikan pelarian bi " kata Dyah, menundukan kepalanya.
Bibi Sumi menanggukan kepalanya menatap sedih melihat Dyah yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri.
" Semoga tuan muda dapat membuat Dyah menyadari kalau tuan muda benar mencintainya" guman bibi Sumi.
Fathan yang sudah rapi menuju ke dapur mereka makan nasi goreng yang disiapkan oleh bibi Sumi, kemudian mereka pamit pada bibi berangkat ke sekolah dan kampus.
Dyah mengantar adiknya ke sekolah memang sudah sebulan ini Dyah mengantar Fathan ke sekolahnya baru dia ke kampus.
Universitas A
Mobil Dyah memasuki kampus keluar dari mobil menuju ke kelas.
" Hei mau kemana kamu? " Prisia, menghentikan langkah Dyah menuju kelas.
Dyah menatap Prisia dan kedua sahabatnya. " Kak ada apa? " Dyah.
" Ada apa kau bilang, hei sudah sering aku bilang jauhi Farel karena dia adalah miliku" kata Prisia.
" Kak tenang saja kami tak ada hubungan yang spesial kami hanya berteman" kata Dyah.
" Kau kira aku percaya dengan ucapanmu itu" kata Prisia.
" Kalau kakak tidak percaya tanyakan saja pada kak Farel nah itu dia" kata Gracya, yang baru saja datang dan berdiri di samping Dyah.
" Kalau kakak tidak mau memanggilnya biar aku yang panggil" kata Gracya.
" Kak Farel sini" panggil Gracya. Farel bersama kedua sahabatnya mendekat.
" Gracya ada apa memanggil kami apakah kamu rindu padaku" kata Lionel dengan jahilnya.
" Kakak jangan asal bicara siapa juga yang rindu padanya, ini kak Prisia katanya mau bicara sama kak Farel. Baiklah kami pergi dulu karena dosen segera masuk" kata Gracya menarik Dyah.
__ADS_1
Sekarang hanya mereka ada di lorong tak ada suara yang terdengar.