
Universitas A
Mahasiswa sudah berdatangan ke kampus mengikuti perkuliahan hari ini, begitu pula dengan Dyah dan lainnya sudah berada di kelasnya.
Gracya menatap sahabatnya yang terlihat sedih ketika dia akan bertanya dosen memasuki kelas, selama pelajaran Dyah tak memperhatikan sama sekali membuat Gracya khawatir pada sahabatnya itu.
" Nanti akan ku tanya apa yang terjadi padanya" kata Gracya dalam hati, menyaksikan dosen menerangkan pelajaran sekali melirik Dyah.
Setelah dosen keluar Gracya menatap intens pada Dyah dia melihat teman sekelas sudah keluar, dengan tegas dia bertanya pada sahabatnya.
" Dyah sejak tadi kuperhatikan kamu terlihat sedih apakah terjadi sesuatu?" Gracya, menepuk ringan punggung Dyah.
" Nggk ada Grac" kata Dyah, Gracya terus menatap Dyah. " Ayo kita ke kantin perutku sudah lapar" kata Gracya, tetapi Dyah masih tak mau bergerak.
Gracya menghela nafasnya kemudian dia menarik Dyah menuju kantin, setelah tiba di kantin Gracya memesan makanan untuk mereka berdua.
" Gracya, apakah kamu ada informasi mengenai kontrakan di dekat kampus" kata Dyah, ucapan Dyah membuatnya terkejut bukannya Dyah tinggal di tempat majikannya, pelayan mengantar makanannya untuk mereka.
__ADS_1
" Dyah, apa maksudmu mencari kontrakan? " Gracya takut jika dia salah dengar.
" Kalau tidak mau tidak apa" kata Dyah, Gracya merasa asa masalah yang sedang dihadapi oleh sahabatnya dia takkan bertanya saat ini.
" Baiklah saya akan mencari informasinya" kata Gracya, Dyah menanggukan kepalanya sambil makan bakso.
Farel dan lainnya duduk tak jauh dari Dyah dia hanya melihatnya dari kejauhan.
" Lionel lihat sepertinya dia ada masalah sejak tiba di kantin wajahnya ada masalah" kata Rayyan.
" Kamu jangan sok tahu mungkin dia memikirkan sesuatu mungkin" sahut Lionel, Frans hanya mendengarkan perkataan sahabatnya.
Lionel dan Rayyan saling menatap sambil tersenyum melirik Frans terus melihat arah Dyah, Prisia yang Frans terus memandang ke arah Dyah membuatnya emosi.
" Seandainya tuan Azka tidak membelanya pasti ku sudah memberinya pelajaran" kata Prisia, menggengam sendok dengann kuat.
Resia dan Abel saling melirik melihat kemarahan Prisia terhadap Dyah, apalagi Frans terus melihat ke arah Dyah.
__ADS_1
Perusahaan Alexanders
Kedatangan Helena ke kediaman keluarganya dan keinginan menikah membuatnya tidak fokus pada pekerjaan, saat ini Azka berada di ruang rapat sedang metting dengan karyawan lainnya.
Akbar yang menyadari bosnya tidak fokus jadi dia yang memimpin rapat.
Di lobi kedatangan wanita cantik dengan penampilan sexy semua mata tertuju padanya.
" Maaf nona apa ada yang bisa saya bantu? " resepsionis. Dengan angkuhnya bertanya mengenai Azka.
" Saya ingin bertemu calon suami saya" kata Helena. " Maaf nona siapa calon suami anda? " resepsionis.
Helena tersenyum. " Calon suami saya Azka Abbiya Alexanders" kata Helena dengan sombongnya, membuat suasana menjadi ricuh.
Karyawan saling berbisik mengenai calon istri dari bos mereka karena selama ini mereka ketshui Azka dekat dengan Dyah, apalagi Dyah sudah sering ke perusahaan bersama Aquira.
" Kamu tidak mendengar perkataan saya, saya ingin bertemu calon suami saya. Akan saya laporkan padanya dan kamu pasti akan dipecat dari sini" kata Helena dengan senyuman sinis.
__ADS_1
" Maaf nona tapi saat ini bos sedang rapat" kata resepsionis. " Saya akan menunggunya di ruangannya" kata Helena.
" Mari nona saya antar" kata resepsionis, dia pamit pada temannya untuk mengantar Helena ke ruangan Azka, mereka menaiki life menuju ruangan Azka.