CEO Dan Pengasuh Cantik

CEO Dan Pengasuh Cantik
Episode 132


__ADS_3

Mereka berempat berteriak memanggil Dyah, Aquira sudah menangis dalam pelukan neneknya sedangkan Fathan diam dan air mata yang mengalir dalam matanya, dia tak sanggup untuk berbicara rasanya sangat berat untuk berbicara.


" Azka, ada apa dengan istrimu cepat gendong bawa ke atas kasur nanti ia kedingina?" papi Ammar, melihat pakaian menantunya sudah basah.


Azka langsung menggendong Dyah dan bawa ke atas kasur dengan perlahan ia merebshkan Dyah.


" Mami istri Azka kenapa?. Seharusnyatadi Azka nggak meninggalkannya" kata Azka, mengacak rambutnya, mami Atika hanya bisa menenangkan putranya karena ia juga khawatir.


Bibi Ina langsung mencari minyak angin untuk menyadarkan Dyah dari pingsannya.


" Nyonya ini" katac bibi Ina, memberikan minyak angin pada mami Atika.


" Azka berikan ini pada istrimu" kata mami Atika, tanpa berfikir panjang Azka memberikan minyak pada leher Dyah dan menciumkannya pada hidung Dyah


Dyah mulai sadar dan membuka matanya. " Mas" panggil Dyah, melihat suaminya dan lainnya di kamar. " Ya sayang mas di sini apa yang kamu rasakan? " Azka, memegang tangan Dyah.


" Dyah tidak apa mas hanya sedikit pusing" kata Dyah, memberikan senyuman di wajahnya walau dalam keadaan pucat.


" Bunda" kata Aquira, menangis Dyah tersenyum memintanya kesini dan melihat adiknya juga sedih dia memanggil adiknya dan memeluk keduanya.


" Azka panggil dokter" kata papi Ammar, melihat Azka akan memanggil dokter Dyah menghentikannya sambil menggelengkan kepalanya.


" Mas tidak perlu Dyah hanya kelelahan saja mungkin dengan istirahat sebentar sudah membaik, apalagi esok Dyah akan mengantar Aquira mendaftar ke sekolah" kata Dyah, senyum.


" Asyik esok Ira daftar ke sekolah bersama Bunda" kata Aquira dengan bahagianya, dan melompat mami Atika, papi Ammar dan Dyah tersenyum.


Dyah menatap Azka yang diam. " Mas" kata Dyah, memegang tangan Azka.


" Aquira esok daftar ke sekolah bersama nenek dan kamu sayang tadi kamu pingsan di kamar mandi, kamu tidak tahu betapa takutnya mas melihatmu pingsan sendirian di sana, Akbar hubungi dokter" kata Azka ,Akbar keluar dari kamar menghubungi dokter.


" Hiks, hiks, hiks". Mereka terkejut melihat Dyah menangis padahal sudah biasa Azka bersikap begitu.


" Sayang kenapa? " Azka, memegang tangan Dyah, mengelus pipi Dyah.


" Mas jahat pada Dyah, mas tak cinta Dyah lagi, mas marahi Dyah" kata Dyah, melepaskan tangan Azka dari wajahnya dan memalingkan wajahnya.


" Sayang bukan maksud mas begitu, mas hanya tak ingin kamu sakit" kata Azka, mengacak rambutnya melihat Dyah diam.


" Kakak" kata Fathan, mendekati Dyah, Dyah melihat Fathan langsung memeluk lengan adiknya itu, Azka hanya diam.

__ADS_1


Mami Atika dan papi Ammar hanya diam mereka bingung melihat menantunya tidak seperti biasanya sedangkan Aquira duduk di samping Dyah memainkan bajunya.


Tok tok tok


" Masuk" kata papi Ammar.


" Tuan dokternya sudah datang" kata Akbar, mempersilahkan doktet masuk.


" Dokter silahkan memeriksa menantu kami tadi dia jatuh pingsan" kata mami Atika, masih ada kekhawatiran dari bicaranya.


" Silahkan tuan, nyonya dan lainnya keluar saya akan memeriksa nona" kata dokter, mami Atika dan papi Ammar menanggukan kepalanya.


" Nggk saya takkan keluar" kata Azka.


" Azka keluarlah dulu biar dokter memeriksa Dyah" kata papi Ammar, Azka tetap menolak untuk keluar.


Mami Atika menatap ke arah dokter dan menanggukan kepalanya, Mami Atika mengajak Aquira dan Fathan keluar agar Dyah dapat di periksa.


Mami Atika dan lainnya keluar termasuk Akbar mereka menunggu dokter memeriksa Dyah.


" Nona apa yang anda rasakan sebelum mengalami pingsan? " Dokter.


" Maaf nona boleh saya tahu kapan anda terakhir kali datang bulan? " Dokter.


" Apa yang kau katakan pada istriku beraninya kau bertanya seperti hal itu " teriak Azka, menarik kerah baju dokter.


" Mas" kata Dyah, dengan lirihnya.


" Sayang kamu tak dengar perkataannya" kata Azka, menatap tajam ke arah dokter.


Melihat suaminya marah pada dokter Dyah turun dari kasurnya.


" Mas turunkan tanganmu dari tubuh dokter" kata Dyah. " Sayang" kata Azka, terpotong oleh perkataan Dyah.


" Mas jika tak mau melepaskanmya aku akan keluar dari kamar" kata Dyah, mendengar perkataan Dyah Azka terpaksa melepaskannya.


Sebelum dilanjutkan pemeriksaan Dyah meminta maaf karena perilaku Azka.


" Nona bisa menjawab pertanyaan saya tadi" kata dokter.

__ADS_1


Dyah menghitung kapan dia melewati datang bulan dia terkejut setelah mengetahui kalau dia telah telat dua minggu.


" Tuan, nona dari pemeriksaan saya dapat di perkirakan kalau nona sedang hamil dua minggu, untuk memastikannya anda bisa membawa nona ke dokter kandungan" kata dokter.


" Apa dokter istri saya hamil? " Azka, dengan suara yang gemetaran, Dyah sudah menangis dan mengusap perutnya yang masih rata.


Azka melihat Dyah menangis langsung memeluknya.


" Sayang" kata Azka, menatap Dyah dengan kelembutan Dyah tersenyum dan meletakan tangan Azka di atas perutnya, Dokter melihat keduanya menangis bahagia pamit kembali ke rumah sakit dan tidak lupa mengatakan Azka harus membawa Dyah ke rumah sakit untuk di periksa oleh dokter kandungan.


Melihat dokter keluar dari kamar mami Atika dan lainnya segera menghampirinya.


" Dokter gimana menantu kami? " mami Atika.


" Nona tidak apa nyonya, saya perkira kalau nona sedang hamil dua minggu" kata dokter.


" Hamil, pi menantu kita memberi kita cucu lagi" kata mami Atika, dengan bahagianya.


" Nek Ira punya adik baru" kata Ira. " Ya Sayang cucu nenek cantik ini akan menjai seorang kakak dan Fathan menjadi seorang uncle, Fathan tersenyum bahagia.


Papi Ammar meminta Akbar untuk mengamtar dokter keluar dan mereka masuk ke kamar Dyah


" Sayang terima kasih telah memberi kami cucu lagi" kata mami Atika. Saat mereka masuk mami Atika langsung memeluk menantunya papi Ammar menepuk punggung Azka, Aquira dan Fathan langsung duduk di tempat Dyah.


Dyah tersenyum haru melihat kebahagiaan keluarganya yang mendengar kabar kehamilannya.


" Kakak Fathan akan selalu menjaga kakak" kata Fathan, Dyah mengelus rambut adiknya, Aquira seperti mencari sesuatu dan terlihat oleh papi Ammar.


" Ira, apa yang kamu cari nak? " papi Ammar.


" Kakek katanya ada adik Ira Dimana kek?. Hiks hiks adik Ira hilang" kata Aquira. Semua orang tercengang mendengar perkataan Aquira.


" Sayang disini sama Bunda" kata Dyah. Aquira yang sedang menangis masuk ke dalan pelukan Dyah.


" Sayang adiknya Ira nggk hilang dia ada di dalam sini, jadi kakak Ira jangan menangis lagi" kata Dyah, Aquira memandang perut Dyah dan menatap Dyah yang tersenyum dan menanggukan kepalanya.


" Halo adik ini kakak" kata Aquira, Azka tersenyum dan mencium kening Dyah.


Papi Ammar dan mami Atika keluar dari kamar membiarkan mereka berempat di dalam, Dyah menginginkan mereka tidur di kamarnya dan Azka mengiyakan.

__ADS_1


__ADS_2