
Semua orang telah berkumpul di kamar VVIP termasuk Aquira dan lainnya, sikembar tak sabar menemui Dyah hingga menarik tangan Meyriska hingga membuat tangannnya sakit.
Meyriska yang melihat Azka terus memandang Dyah membuatnya kesal, untuk mengambil hati Azka Meyriska berpura - pura perhatian.
" Tuan muda ini saya membawa makanan yang dibeli di kantin" kata Meyriska, mendekati Azka dan mencoba menyentuh pundaknya.
Gracya melihat hal itu segera membisik pada Aquira.
" Papi, ini untuk papi kata bunda jika tak makan nanti jatuh sakit" kata Aquira, menjauhkan tangan Meyrisk dari papinya. Meyriska menggengam tangannya dia sangat kesal sedangkan Gracya tersenyum melihat Meyriska kesal
Diaz dan Dika mendekati Dyah meminta bantuan pada Akbar kalau mereka ingin naik di brankar Dyah.
" Bunda ini Diaz dan ini Dika kami anak bunda dan papi" kata Diaz, memeluk lengan Dyah dan berbaring di dekat Dyah diikuti oleh Dika.
Gracya pamit pulang karena putranya hanya tinggal bersama bibi apalagi hari sudah mulai gelap.
" Papi mami sebaiknya pulang hari sudah mulai gelap kasihan anak-anak" kata Azka.
" Fathan ikut pulang bersama mami ya biar kak Azka yang menemani kak Dyah" kata mami Atika, membujuk Fathan yang terus berdiri di samping Dyah.
Fathan menatap Azka seakan mengingatkan ia harus menjaga kakaknya dan Azka menangguk dengan yakin kalau dia akan menjaga Dyah.
" Kalian ikut kakek dan nenek pulang ya esok kita kesini lagi" bujuk papi Ammar pada Aquira dan sikembar.
Mereka menanggukan kepalanya tidak lupa mencium pipi Dyah dan mencium tangan Azka.
" Papi jaga bunda ya" ingat Aquira, Azka tersenyum.
" Dadah bunda" kata mereka. Tanpa ada yang menyadari Dyah mengeluarkan air matanya. Mami Atika dan lainnya meninggalkan ruang rawat Dyah Akbar mengantar istrinya dan kembali lagi nanti ke rumah sakit.
" Sayang lihat mereka sangat menantikanmu cepatlah sadar dan kita bisa bersama lagi, jika kamu masih melupakan kami mas akan membuatmu mengingatnya kembali atau mencintai mas untuk kedua kalinya" kata Azka, memegang tangan Dyah yang tidak terpasang infus.
__ADS_1
" Mas sebaiknya katakan pada tuan Azka kalau wanita itu licik" kata Gracya, merasa kesal mengingat kelakuan Meyriska saat di rumah sakit.
Mereka masih dalam mobil menuju rumah Akbar melihat wajah Gracya yang kesal terlihat lucu.
" Kamu tenang saja tuan muda takkan terpedaya hanya karena wanita seperti itu apalagi nona Aquira sepertinya juga tidak menyukainya" kata Akbar, mengingatkan istrinya yang menyuruh Aquira menjauhkan Meyriska dari Azka.
Kediaman keluarga Alexanders.
" Om ayo ikut kami, kami akan mengajak om ke kamar kami " kata Dia, semangat mengajak Fathan ke kamar mereka.
" Papi lihat mereka bahagia sekali ini baru Fathan kembali nanti Dyah juga kembali rumah ini pasti di penuhi oleh kebahagiaan" kata Mami Atika, sedih bahagia papi Ammar menanggukan kepalanya.
Aquira, Fathan dan sikembar bermain bersama di kamar sikembar.
" Om, kamar om dulu masih ada nenek selalu meminta bibi membersihkannya" kata Aquira.
" Sekarang kamu sudah kelas tiga SD ya" kata Fathan, mengingat Aquira saat ditinggal masih TK, Aquira menanggukan kepalanya dan menceritakan seharian di sekolah.
Beruntung saat pulang mereka singgah ke restoran untuk makan jadi malam nanti mereka tidak merasa lapar.
Keesokan harinya terdengar suara adzan mengkumandang dan cahaya matahari masuk ke kamar VVIP.
Dyah sadar setelah semalam tak sadarkan diri dia melihat tangannya terpasang infus dan menyadari kalau dia berada di rumah sakit, Dyah memegang kepalanya yang terasa sakit dia melihat sebelahnya melihat Azka tertidur di lengannya.
" Mas pasti tak enak tidur seperti ini" kata Dyah, mengelus rambut Azka ia tersenyum.
" Aw" tiba saja kepalanya sakit bayang-bayang bayangan melintas ke ingatannya, Azka mendengar suara Dyah terkejut dan senang karena istrinya sudah sadar.
" Aku akan memanggil dokter" kata Azka, mengira istrinya masih lupa ingatan. Saat Azka pergi tiba saja tangannya di pegang oleh Dyah.
" Mas" kata Dyah, air matanya membasahi wajahnya Azka terpaku nama itu sudah lama tak terdengar olehnya. Azka membalikan badannya melihat Dyah menangis.
__ADS_1
" Mas maafkan aku hiks hiks hiks, aku melupakanmu dan semuanya hiks hiks hiks" Dyah, bersenggukan tak tahan menahan kesedihannya ia kembali mengingat semuanya.
Azka menggelengkan kepalanya dan memeluk istrinya yang kembali padanya.
' Nggk sayang ini bukan salahmu aku yang tidak menjagamu sehingga peristiwa itu terjadi" kata Azka.
" Mas " ucap Dyah. " Hmm" Azka mengangkat kepalanya mengelus pipi Dyah dan menciumnya dengan mesra.
" Mas, dimana mereka?" Dyah, disaat Azka melepas ciumannya. Azka tersenyum ia tahu siapa yang dikatakan oleh Dyah.
" Mereka sehat sayang dan sekarang sudah berusia tiga tahun dan Dia Putra Alexanders dan Dika Putra Alexanders itulah nama mereka, mas memberi nama kita pada mereka" kata Azka.
Dyah tersenyum. " Mereka pasti kesulitan selama ini dan tak mengenalku sebagai bunda mereka" kata Dyah, tertunduk sedih Azka tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
" Kamu salah sayang putri kita selalu membicarakanmu pada mereka dan mereka memiliki fotomu, mas takkan membiarkan mereka tak mengenalmu" kata Azka, memeluk istrinya.
Azka memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Dyah, Akbar yang baru saja kembali setelah mengantar istrinya pulang segera ke ruang Dyah saat melihat dokter masuk.
" Tuan muda" kata Akbar, melihat dokter memeriksa Dyah dan terkejut melihat Azka memegang tangan Dyah. Azka tersenyum bahagia melihat hal itu Akbar mengucap bassmallah.
" Alhamdulillah keadaan pasien sudah stabil" kata dokter.
" Dokter kapan aku diperbolehkan pulang, saya sangat merindukan anak-anak saya" kata Dyah.
" Sayang" kata Azka. Dokter tersenyum. " Jika infus anda sudah habis, anda bisa pulang apalagi keadaan anda sudah stabil tak perlu di khawatirkan " kata Dokter. Dyah dan Azka merasa senang mendengarnya.
" Mas jangan beritahu mereka dulu aku ingin memberi kejutan, Mas Akbar gimana Gracya? " Dyah. Mengingat sahabatnya Azka memenuhi keinginan dari istrinya memberi kejutan pada lainnya.
" Kami sudah memiliki seorang putra seusia dengan si kembar bernama Agra Yudhistira" kata Akbar, senyum.
Dyah merasa bahagia karena sahabatnya sudah memiliki seorang putra tapi ia juga sedih karena melupakan orang-orang yang menyayanginya dan kehilangan semua yang terlewati. Tapi sekarang Dyah bersyukur karena sekarang dia bisa bersama mereka.
__ADS_1