CEO Dan Pengasuh Cantik

CEO Dan Pengasuh Cantik
Episode 105


__ADS_3

Azka mempererat pelukannya Dyah berusaha melepaskannya karena malu di lihat semua orang di rumah sakit.


" Biarkan seperti ini sebentar" kata Azka, dengan lirihnya, Dyah yang tidak tahu apapun hanya membiarkan Azka memeluk dirinya.


Dyah membalas pelukannya Azka mencium wangi yang ada di tubuh Dyah membuatnya kecanduan.


" Hmm, hmm, hmm" kata mami Atika, baru saja datang bersama papi Ammar setelah dari acara reuni sesama sahabatnya.


Mereka segera meninggalkan acara yang belum selesai karena sangat bahagia mendengar kabar dari Dyah mengenai Aquira sudah di perbolehkan pulang.


" Dasar anak ini berpelukan sembarangan apa tidak malu di lihat orang " kata papi Ammar, mengajak istrinya masuk ke dalam Dyah menundukan kepalanya karena ketahuan oleh mami Atika dan papi Ammar ketika dia di peluk oleh azka.


Azka duduk di samping orangtuanya Dyah lebih memilih duduk di dekat Aquira yang tersenyum padanya.


" Azka segeralah urus administrasinya" kata papi Ammar, Azka menanggukan kepalanya keluar dari ruang rawat Aquira mejuju administrasi mengurus kepulangan putrinya.


Mami Atika membantu Dyah membereskan barang Aquira masuk ke dalam tas, setelah semua urusan beres Azka mengajak mereka pulang.


Dalam mobil.


Aquira duduk antara neneknya dan Dyah sedangkan Azka yang mengendarai mobilnya dan papi Ammar duduk di samping putranya, supir yang mengantar mereka sudah kembali kediaman keluarga Alexanders.


Selama dalam perjalanan tak ada berbicara Dyah melihat Aquira memeluknya sambil tersenyum, Dyah mengusap rambut Ira taklama mobil yang di kendarai oleh Azka memasuki kediaman keluarganya.


Kediaman keluarga Alexanders.


Fathan sudah berada di sana karena bibi Sumi menjemputnya dari sekolah dan mengajaknya ke kediaman keluarga Alexanders, Roger yang telah di beritahu oleh Azka juga telah berada di kediaman keluarga Alexanders dan membantu lainnya memberi kekutan pada Aquira.


" Selamat datang kembali nona muda Aquira " sorak pelayan dengan spanduk bertuliskan Selamat datang kembali nona muda Aquira ke kediaman keluarga Alexanders" seru mereka termasuk Fathan.


" Bunda, papi, nek kek. Aquira suka sekali kak Fathan juga datang " kata Aquira, dengan senyuman. Mereka tersenyum bahagia melihat Aquira kembali ceria.


Aquira mendekati Fathan mengajaknya bermain di taman samping. " Fathan jaga Ira ya jangan biarkan dia terlalu lelah karena dia baru saja pulang dari rumah sakit" kata Dyah, tersenyum pada keduanya.

__ADS_1


" Kakak tenang saja tadi Fathan membeli ini bersama bibi Sumi" kata Fathan, menunjukan susun gambar yang baru saja di belinya.


" Wah kak Ira menyukainya ayo kita susun bersama, dadah bunda papi kakek dan nenek" kata Ira, dengan senyum.


Fathan mengajak Ira ke taman samping di temani oleh salah satu pelayannya, bibi Sumi membantu bibi Ina menyiapkan makan malam.


" Bibi aku senang karena bibi datang kesini dan kita dapat kembali memasak bersama, oh ya bi kalian akan tinggal di sini lagi kan" kata bibi Ina.


Bibi Sumi tersenyum karena bibi Ina merindukannya karena dia juga merindukan saat mereka masih bersama.


" Bibi tak tahu Ina sekarangkan bibi tinggal bersama Dyah dan Fathan, sekarang tergantung pada Dyah karena Dyah yang memberi gaji bibi" kata bibi Sumi, dengan senyum.


" Saat bibi memberitahuku mengenai nyonya minta Dyah mengurus cafe dan tinggal di rumah pemberian nyonya aku vahagia, awalnya aku takut kalau mereka hanya berdua saja tapi mendengar perkataan bibi aku lega mendengarnya" sahut bibi Ina.


Kemudian bibi Sumi meminta jangan bicara lagi karena waktu makan malam akan tiba.


Ruang tengah.


Roger hanya diam menyaksikan mereka berdiri tak jauh dari Azka.


" Kapan kalian akan Menikah? " papi Ammar, membuat kedua pasangan di depannya terkejut mendengarnya sedangkan mami Atika menanggukan kepalanya.


" Nyo nya tuan" seru Dyah dengan gemetaran Azka mengetahui kalau Dyah gemetaran merangkulnya untuk menenangkannya.


" Sayang tenanglah kita akan menghadapinya bersama" bisik Azka, Dyah menatapnya tersenyum dan menanggukan kepalanya.


Mami Atika menyadari kalau calon menantunya sedang ketakutan dia meminta putranya duduk di samping suaminya, mami Atika memegang tangan Dyah dengan senyuman.


" Nyonya" kata Dyah, dengan gugupnya.


Mami Atika tersenyum. " Sayang kami tahu ini adalah keputusan berat untukmu apalagi menikah dengan putra mami yang dingin sepertinya itu" kata mami Atika, tersenyum jahil pada putranya Azka hanya menghela nafasnya karena mami Atika meracuni fikiran calon istrinya.


" Nyonya, saya hanya anak yatim piatu bahkan keluarga saya yang lain tidak tahu ada dimana karena ibu dan bapak tak pernah memberitahunya, saya takut nantinya orang akan membicarakannya dan membuat nama keluarga ini buruk" kata Dyah, tertunduk.

__ADS_1


' Sayang aku tak peduli dengan apa yang mereka katakan karena kamu membuat keluarga ini kembali bahagia dan wanita yang kucintai saat ini aku tak butuh pendapat mereka" kata Azka, menatap Dyah dengan mesra membuat Dyah tertunduk malu.


" Dyah, bagaimana bersediakan menikahi putra kami? " mami Atika, dengan malu Dyah menanggukan kepalanya.


" Terima kasih sayang aku janji akan mencari keluargamu yang lainnya jika mereka tak ketemu biar aku yang urus" kata Azka.


" Tuan, nyonya kalau keluarga Dyah tidak ditemukan biar saya yang mewakilinya karena Dyah sudah seperti anak saya sendiri" kata Bibi Sumi baru datang.


Mereka menanggukan kepalanya dan Dyah mengeluarkan air matanya dia berdiri dan memeluk bibi Sumi.


" Bi terima kasih" ucap Dyah, dengan terharu. Aquira dan Fathan sudah puas dengan bermainnya kembali masuk ke dalam heran melihat Dyah menangis di pelukan bibi Sumi.


" Kakak kenapa menangis? " Fathan yang sudah berdiri di depan Dyah dan bibi Sumi, Aquira mendekati Azka dengan raut wajah yang kesal dan tangannya di letakan di pinggangnya.


" Ini pasti karena papi membuat bunda Aquira menangis" kata Aquira, dengan kesalnya. Azka tersenyum ingin memeluk putrinya tapi Aquira mundur.


" Cucu kakek yang cantik bunda dan papi akan menikah" kata papi Ammar. Seketika wajah Aquira memancarkan kebahagiaan dan langsung memeluk Azka.


" Papi benarkah akan menikah dengan bunda dan Aquira bisa setiap hari bisa ketemu bunda dan tidur bersama" kata Aquira dengan bahagia. Azka tersenyum masam mendengar kata putrinya akan tidur bersama Dyah tiap harinya dan lainnya mencoba menahan tawanya.


Dyah mendekati Fathan. ' Apakah itu benar kak, kakak akan menikah dengan tuan Azka? " Fathan. Dyah menanggukan kepalanya, semua mata tertuju pada mereka saat ini menunggu persetujuan Fathan.


" Apakah kakak bahagia sekarang? " Fathan, Dyah kembali menanggukan kepalanya dengan air mata mengalir di pipinya.


Fathan menghapus air matanya dan memeluk kakaknya.


" Jika kakak bahagia Fathan juga bahagia karena kebahagiaan kakak adalah utama" kata Fathan, Dyah tersenyum kembali memeluk adiknya dia tak menyangka kalau adiknya begitu mengkhawatirkan kebahagiannya.


Dyah memejamkan matanya" Dek sekarang kakak sudah bahagia jangan khawatir lagi" bisik Dyah, Fathan menanggukan kepalanya.


" Azka kamu tidak hanya membahagiakan dan melindungi istri dan putrimu tapi Fathan juga menjadi tanggung jawabmu" kata papi Ammar, menepuk punggung putranya.


Azka menatap keduanya berjanji akan melindungi keduanya termasuk putrinya berada dalam pelukan mami Atika.

__ADS_1


__ADS_2