
Universitas A
Gracya dan Prisia duduk di taman sambil membaca buku dan membahas pelajaran yang di berikan dosen.
" Kak, kapan lak wisuda? " Gracya, asyik membaca buku di tangannya.
Prisia tersenyum. " Beberapa bulan lagi kak lagi sibuk mengumpulkan materi untuk dijadikan bahab skripsi" kata Prisia.
Gracya menanggukan kepalanya. " Terus hubungan kakak dengan kak Farel gimana?" Gracya.
Pertanyaan Gracya membuat Prisia terkejut. " Hubungan gimana maksudnya? " Prisia, tak berani menatap Gracya.
Gracya senyum menggoda dan menaiki alisnya. " Sejak kejadian kemaren tu yang mengantar kakak ke restoran ku lihat kak Farel nggk pernah menghindari kakak lagi, biasanya tu setiap kakak dekati pasti kak Farel menjauh. Apakah terjadi sesuatu saat itu? " Gracya, tersenyum jahil, Prisia menggelengkan kepalanya.
Resia dan Abel menatap mereka dengan tatapan iri. "Dasar miskin ayo kita pergi dari sini " kata Resia, dengan tatap sinis pada Prisia dan Gracya.
Prisia mengetahui kalau sahabatnya dulu menatap mereka ia hanya bisa menghela nafasnya, sejak mereka tahu kalau Prisia jatuh miskin mereka menjauhinya bahkan menghinanya.
Akbar pergi ke Universitas A atas perintah Azka untuk memeriksa laporan, Azka merupakan salah satu donatur terbesar di Universitas A makanya dia ingin laporan setiap tahunnya.
Mahasiswa histeris melihat asisten Azka mengunjungi kampus mereka.
" Mereka lihat apa sih pakai histeris segala" kata Gracya, melihat mahasiswa lainnya histeris.
" Paling ada idola, ayo kita masuk sebentar lagi dosen kakak masuk" kata Prisia.
" Ya kak Gracya juga mau ke perpustakaan mencari beberapa buku" kata Gracya.
Mereka meninggalkan taman menuju ke tujuan masing-masing Prisia menuju ke kelas sedangakan Gracya ke perpustakaan.
Ketika melewati lorong menuju Perpustakaan Gracya sedang mengirim pesan pada Dyah tak sengaja bertabrak dengan sesuatu hingga keningnya merasa sakit.
" Aduh sakit siapa sih jalan tak hati-hati" keluh Gracya, mengusap keningnya. Gracya terkejut melihat ada beberapa sepatu di hadapannya, saat ia mengangkatan kepalanya matanya membesar melihat siapa yang di depannya.
Gracya sampai bengong melihat Akbar di hadapannya bersama petinggi kampusnya.
__ADS_1
" Nak, kamu tidak apa-apa" kata salah satu dosen." Maaf pak saya tak hati-hati" kata Gracya, dengan gugupnya, Akbar tersenyum.
Akbar mendekatinya dan membisikannya. " Aku tahu pelajaranmu hari ini sudah selesai setelah dari perpustakaan aku menunggumu di luar" bisik Akbar, Gracya yang tak mengerti ia menanggukan lepalanya secara refleks Akbar tersenyum dan menegakan tubuhnya secara tegak.
" Lain kali hati-hati jangan bermain HP jika sedang jalan, ayo" kata Akbar, meninggalkan Gracya yang melamun dan diikuti oleh lainnya.
Gracya baru sadar mendengar suara mahasiswa yang lewat dengan menundukan kepalanya Gracya menuju ke perpustakaan, Gracya mencari beberapa buku untuk bahan pembelajarannya setelah menemukan buku yang ia cari. Gracya menemui perpustakawan untuk meminjam buku tersebut beberapa waktu.
Ketika keluar kampus kebetulan mobilnya ada di bengkel terdengar suara klakson di seberang jalan.
Tin tin tin.
Gracya memencingkan matanya karena dia mengenal mobil di seberang jalan, Gracya menghela nafasnya dengan kesal Gracya menuju mobil di seberang jalan.
" Kakak kenapa bunyi klaksonnya begitu keras apa nggk malu di dengar lainnya, apa tidak hubungiku saja" kata Gracya, dengan kesal Akbar tersenyum. " Jika aku menghubungimu yang ada terjadi kecelakaan" kata Akbar, tersenyum. dengan kesal Gracya memukul lengan Akbar.
Gracya mendekap tangannya di dadanya dan memajukan bibirnya membuat Akbar gemes." Jangan bersikap seperti ini di hadapan orang lain aku tak menyukainya" kata Akbar, Gracya tersenyum.
Akbar melajukan mobilnya ke restoran ia ingin mengajak Gracya makan siang bersama.
Dosen baru saja meninggalkan kelas karena pembelajaran selesai satu persatu mahasiswa meninggalkan kelas,Prisia, Resia , Abel juga beberapa mahasiswa lainnya masih berada di dalam kelas sekedar menggosip.
Resia dan Abel mendekati Prisia yang sedang merapikan mejanya dan memasukan buku di dalam tas.
" Kalian" kata Prisia, melihat Resia dan Abel sudah di depannya.
" Kalian pergilah dari kelas ini" kata Abel, meminta teman sekelasnya meninggalkan kelas, mahasiswa yang sedang bergosip itu langsung keluar dari kelas.
Abel dan Prisia menatap tajam ke arah Prisia dengan tangannya mendekap di dadanya.
" Kalian ingin mengatakan sesuatu? " Prisia, dengan senyuman.
" Apa benar kau bekerja di restoran sebagai pelayan? " Resia.
" Ya aku bekerja di restoran sebagai pelayan di sana lain kali kalian datanglah kesana" kata Prisia.
__ADS_1
Abel dan Resia tersenyum sinis. " Paling makanannya tak enak, satu lagi ternyata kalian cocok berteman sama miskin" kata Resia, dengan senyuman sinis. Prisia hanya tersenyum.
" Apa yang kamu senyumkan" kata Resia.
" Nggak ada sikapmu mengingatku seperti diriku sendiri,kalian berubahlah jangan seperti ini terus kalian takkan bahagia" kata Prisia.
" Ini bukan urusanmu" kata Resia, dengan tajam menunjuk ke arah Prisia.
" Bukankah jika Prisia bekerja di restoran juga bukan urusan kalian" kata Farel.
Prisia dan keduanya terkejut melihat Farel, Lionel dan Rayyan berada di depan pintu.
" Lionel ayo kita pergi dari sini, disini ada orang miskin" kata Abel, mendekati Lionel. Lionel hanya diam menanggapinya.
" Kalian kenapa ada disini?" Resia. " Seharusnya aku yang bertanya bukannya kalian bersahabat kenapa sekarang menjauhnya? " Farel, menatap Prisia menundukan kepalanya.
" Hahaha, Farel jangan bercanda sekarang ia jatuh miskin karena perusahaan keluarganya telah bangkrut dan ayahnya memilikk utang yang besar pada rentiner padahal ayahnya pernah meminjam uang tentu ayahku menolak mana ada uang untuk membayarnya" kata Resia, tersenyum sinis melihat Prisia mengeluarkan air matanya.
Prisia menarik nafasnya dan berdiri. " Aku dan keluargaku memang jatuh miskin tapi aku tak pernah meratapi apa yang telah terjadi, tapi aku bersyukur sekarang aku menemukan sahabat yang sejati daripada hanya mementingkan harta kekayaan,soal utang ayahku sudah di bayar lunas maaf aku harus ke restoran" kata Prisia, meninggalkan mereka.
Resia menggengam tangannya menahan amarahnya Farel keluar dari kelas diikuti oleh kedua sahabatnya.
" Prisia aku akan mengantarkanmu ke restoran" kata Farel.
" Ha" Prisia terkejut mendengarnya.
" Ada apa? " Farel, melihat Prisia hanya diam.
"Tapi disana Dyah tak ada dia sedang cuti" kata Prisia, mengira kalau Farel ingin menemui Dyah.
Farel tersenyum. " Siapa yang mencari Dyah aku hanya ingin mengantarkanmu ke resoran sekalian makan" kata Farel, menarik tangan Prisia ke motornya, Prisia tersenyum malu
Lionel dan Rayyan saling memandang dan menggelengkan kepalanya kemudian mengikuti Farel ke restoran.
Selama perjalanan tak ada suara antara mereka Farel fokus menyetir mobilnya menuju restoran, Prisia merasa deg degan duduk di samping Farel walau ia tak berharap perasaannya di balas tapi melihat perubahan sikap Farel padanya membuat Prisia mengingat perkataan Gracya.
__ADS_1
Taklama mereka tiba di restoran tidak lupa Prisia mempersilahkan mereka masuk.