CEO Dan Pengasuh Cantik

CEO Dan Pengasuh Cantik
Episode 164


__ADS_3

Perusahaan Alexanders Group


Azka terpaksa bekerja karena sydah beberapa hari ia tidak masuk untuk mencari keberadaan istrinya, hari ini dia masuk karena banyaknya laporan yang harus dia periksa sendiri walau papi Ammar sudah membantunya.


Azka berada di ruangannya memeriksa berkas yang di berikan oleh sekretaris dia hanya bisa menghela nafasnya melihat banyaknya berkas memupuk di atas meja, Azka berharap semuanya segera selesai dan kembali mencari keberadaan Dyah.


Sedangkan Xanders diminta oleh Azka terus mencari keberadaan seseorang yang telah dia curigai sebagai dalang penculikan istrinya, Aquira terus menangis memanggil Dyah begitu pula dengan Fathan yang murung hingga tak ada yang berani bicara dengannya selain Azka.


Kediaman keluarga Alexanders.


Mami Atika dan papi Ammar sudah berada di meja makan.


" Mami dimana Aquira sejak pulang sekolah papi tak melihatnya apalagi sekarang sudah waktunya makan siang?" Papi Ammar, bertanya keberadaan cucunya.


" Mungkin di kamarnya pi, mami akan panggilnya " kata mami Atika, mulai khawatir pada cucunya padahal sudah setengah jam Aquira pulang dari sekolah sedangkan Fathan masih ada kegiatan di sekolah Azka sudah menyiapkan bodygoard untuk menemaninya ke sekolah.


Mami Atika naik tangga menuju kamar cucunya.


Tok tok tok


" Sayang ini nenek ayo buka pintunya sudah waktunya makan siang" mami Atika terus mengetuk pintu.


Sudah lima menit mami Atika memanggil dan mrngetuk pintu cucunya tapi tak ada sahutan dari dalam membuat mi Atika khawatir.


" Papi" Mami Atika berteriak tak hanya papi yang terkejut tapi juga bibi Sumi dan. bibi Ina yang naik menuju tempat mami Atika.


" Mami" kata papi Ammar, melihat istrinya memanggil dan mengetuk pintu kamar cucunya.


" Papi lihat cucu kita tak mau membuka pintunya padahal mami sudah memanggil dan mengetuk pintu ini sudah lima menit" sahut mami Atika, yang khawatir terus mengetuk pintu kamar cucunya.


Mendengar perkataan istrinya membuat papi Ammar juga khawatir dia meminta bibi Ina mencari kunci cadangan kamar cucunya, bibi Ina segera mencari kunci itu di bantu oleh pelayan lainnya.


" Tuan ini kuncinya" kata bibi Ina, membawa kunci pada papi Ammar.


" Papi ayo buka pintunya mami takutnya ira kenapa" kata mami Atika, papi Ammar menanggukan kepalanya.

__ADS_1


Dengan menggunakan kunci cadangan papi Ammar membuka pintu kamar cucunya.


Saat papi Ammar membuka pintu lainnya terkejut melihat Aquira yang sudah tak sadarkan diri di lantai dengan memegang foto di tangannya.


" Ira" teriak papi Ammar dan mami Atika, mendekati cucunya, mereka terus memanggil nama Ira tapi tak ada respon.


" Bibi panggil supir siapkan mobil kita ke rumah sakit" kata papi Ammar, bibi Sumi dan bibi Ina menangis melihat keadaan cucunya. Bibi Ina langsung lari dan memanggil supir untuk menyiapkan mobil.


Papi Ammar menggendong cucunya keluar diikuti mami Atika menuju ke arah mobil.


" Bibi hubungi Azka katakan ke rumah sakit segera dan jaga Fathan " kata mami Atika, mengikuti papi Ammar masuk ke mobil dan bibi Sumi menanggukan kepalanya.


" Bibi kasihan nona kecil dan nona muda belum juga bertemu, Fathan dia mulai murung sejak itu" kata bibi Ina.


Rumah sakit


" Dokter tolong cucu kami" teriak papi Ammar,para dokter suster melihat papi Ammar menggendong Ira segera membawa brankar.


" Tuan, nyonya biar kami yang mengurus nona " kata dokter, meninta papi Ammar meletak Ira ke brankar menuju UGD.


Azka ditemani oleh Akbar sedang membahas kerja sama bersama klien, awalnya sebelum makan siang Azka telah menyelesaikan laporan yang diberikan oleh sekretaris dan berniat ke markas tapi terpaksa mundur karena Akbar beritahu kalau klien dari luar kota datang dan ingin membahas kerja sama mereka.


Drt drt drt


Azka melihat panggilan dari kediamannya dan minta maaf harus mengangkatnya.


" Assalamualaikum "


" Waaalaikumsalam, tuan muda segeralah ke rumah sakit nona Ira tak sadarkan diri tuan dan nyonya besar telah membawanya ke rumah sakit" kata bibi Sumi, tanpa memberi waktu Azka bicara.


" Akbar urus semuanya aku harus ke rumah sakit sekarang " kata Azka, terburu- buru karena terkejut mendengar putrinya masuk ke rumah sakit.


Azka meninggalkan ruangannya dengan berlari terlihat tegang membuat karyawan bertanya dan Akbar telah memberi pengertian pada klien untung mereka mengerti, Akbar segera menyusul Azka soal perusahaan telah dia titip pada sekretaris Azka.


Lokasi dimana Dyah berada.

__ADS_1


Dyah sudah sadar merasa sangat takut melihat keadaan sekitarnya, dia terus mengucap istighfar untuk menghilangkan rasa takutnya dia percaya suaminya pasti akan menemukannya.


" Wah lihat siapa ini yang telah membuka matanya, sayang lihat inilah wanita kampung yang dinikahi Azka" kata Selly, menggelut manja di lengan Ergando, Ergando terus menatap Dyah dengan senyum smirk.


" Ternyata dia pandai juga mencari seorang istri dulu istri pertamanya cantik dan sekarang tak kalah cantiknya" kata Ergando menatap Dyah dengan smirk membuat Dyah ketakutan.


" Sayang apa yang kamu katakan cantik darimana dia hanya wanita kampungan cantikan aku" kata Selly, dengan kesalnya, Ergando mencium bibir Selly tepat di hadapan Dyah. Dyah memenjamkan matanya membuatnya jijik dengan mereka.


" Kamu tahu kenapa berada disini? "Ergando, Dyah menggelengkan kepalanya dengan matanya menatap ke bawah.


" Baiklah aku beritahu suamimu itu telah membuat kesalahan pada adik kesayanganku" kata Ergando, meninggalkan Dyah dan mengajak Selly keluar.


" Mas Azka apa maksudnya?" Dyah, memikirkan ucapan Ergando.


Ergando berada di kursinya ditemani oleh Selly di pangkuannya dengan menikmati minuman wine di tangannya.


" Ternyata dia cantik juga" guman Ergando, memikirkan Dyah.


"Sayang apa yang kamu fikirkan?. Jangan wanita itu" kata Selly, kesal melihat Ergando memikirkan Dyah. Ergando tersenyum dan mengajak Selly ke kamar.


Azka dan Akbar sudah berada di rumah sakit bertanya pada resepsionis keberadaan Ira, setelah mendapat kabar tentang putrinya mereka segera ke ruang UGD.


" Papi mami" kata Azka, sudah sampai di UGD.


" Kamu sudah datang Ira sedang di periksa oleh dokter" kata papi Ammar.


Azka duduk di samping papi Ammar mami Atika tidak berani menyapa putranya karena terlihat putranya masih marah, Akbar berdiri di samping Azka.


Tidak membutuhkan waktu dokter keluar dari UGD.


" Dokter gimana keadaan putriku? " Azka, mereka berdiri di samping Azka menunggu jawaban dokter.


" Tuan muda, nona kecil sepertinya banyak fikiran hingga membuat tubuhnya lemah, makanya dia tak sadarkan diri dan saya sudah memindahkan nona ke ruang VVIP" kata dokter, pamit harus memeriksa pasien lainnya. Mereka merasa lega mendengar perkataan dokter dan menuju kamar VVIP.


Di tempat Dyah.

__ADS_1


" Ya Allah ada apa ini kenapa aku terus memikirkan putriku" guman Dyah, wajah Ira yang tersenyum terus membayanginya. Dyah hanya berharap putri dan lainnya baik saja.


__ADS_2