
" Beraninya kau menyentuhnya aku takkan mengampuni kalian" teriak Azka, tidak terima Rudi akan menampar Dyah.
Mereka membalikan tubuhnya menatap Azka dengan mengeringit heran.
" Siapa kau beraninya mengurusi urusanku" kata Rudi, yang tidak mengenalnya berbeda dengan Andre merasa ketakutan.
" Tuan dia Azka Abbiya Alexanders CEO Perusahaan Alexanders Group" bisik Andre, pada Rudi.
Rudi melihat ke arah Andre yang terlihatan ketakutan.
" Siapapun dia aku takkan takut karena rumah dan Toko Sembako Yusuf harus menjadi miliku karena dia memiliki utang besar padaku" kata Rudi, dengan percaya dirinya.
" Anda jangan sembarangan ayahku nggk memiliki utang padamu" kata Dyah.
Rudi tersenyum sinis mendekati Dyah dan memegang tangan Dyah dengan kuat hingga dia kesakitan.
" Aw sakit" kata Dyah, menahan rasa sakitnya, Rudi tersenyum.
Brug
Azka menendang Rudi beraninya dia melukai Dyah. " Sudah kutakan padamu jangan pernah sekalipun ada menyentuhnya" teriak Azka, Azka menghajar Rudi sampai dia terluka.
" Kalian tunggu apa lagin habisi dia" kata Rudi, pada anak buahnya, melihat Azka di kerumum Akbar membantunya Dyah menyingkir dan mendekati bu Rt.
" Pak apa kita tak bisa menghentikan pertarungan ini? " Dyah, pada Collin.
" Nona harus tanya pada mereka berapa besar utang yang dimiliki oleh ayahmu" kata Collin.
" Tapi untuk apa ayah tidak memiliki utang padanya" kata Dyah, masih memperhatikan pertarungan mereka.
" Nona dia hanya menginginkan surat di tangan anda" kata Collin.
" Tapi nona, tuan Azka takkan membiarkan anda memberikannya karena itu merupakan hak snda dan adik anda dan fikirkanlah" kata Collin.
" Lebih baik aku kehilangan ini daripada rumah dan Toko Sembako" kata Dyah, mendekati mereka dan menghentikan pertarungan ini.
" Hentikan " teriak Dyah. Mereka menghentikan pertarungannya, Dyah mendekati Rudi dan melempar surat dari kakeknya pada Rudi.
Rudi tersenyum mengambil surat yang terjatuh di tanah dan mendekati Dyah, Rudi melangkah beberapa langkah.
__ADS_1
" Hancurkan rumah itu dan semua akan menjadi miliku, hahaha" Rudi tertawa.
Dyah terkejut mendengarnya dan menghalangi mereka untuk menghancurkan rumahnya.
" Kau tidak bisa melakukan hal ini karena rumah ini atas namaku" kata Dyah, menarik tangan Rudi tapi Rudi mendorongnya sampai kepala Dyah terbentur oleh batu besar disana.
" Dyah" teriak azka, menariknya dan memeluknya Azka terkejut ada darah keluar dari kening Dyah.
" Mas Dyah harus menghentikannya" kata Dyah, Azka memintanya untuk diam.
" Akbar hentika mereka jika mereka menghancurkan rumah itu hancurkan semua keluarganya" kata Azka, dengan dingin.
Membuat orang terkejut tidak berani mendekat bahkan orang mengemudi alat berat itu turun.
" Hei mau kemana kau" kata Rudi, pada supir alat berat. " Maaf tuan saya tidak bisa melakukannya" kata supir, meninggalkan lokasi.
Andre sudah berkeringat dingin dia ingin pergi tapi anak buah Azka sudah menangkap dirinya ketika dia mencoba kabur pada saat pertarungan.
Dengan emosi Rudi menaiki alat berat tersebut dan mencoba untuk menghidupanya tapi Akbar terburu menariknya hingga terjatuh di tanah.
" Kau beraninya mengurus urusanku aku akan menuntut kalian" kata Rudi, menantang Akbar.
" Tuan tidak dapat menghancurkan peninggalan tuan Yusuf dan nyonya aisyah " kata Collin.
" Apa maksudmu, Ha, rumah dan toko sembako adalah milik adikku dan aku berhak atasnya, apalagi dia memiki utang yang besar rumah dan toko sembako itu menjadi jaminan" kata Rudi.
Collin tersenyum. " Anda dapat berbohong pada kami tuan, tapi tidak dengan hukum karena rumah ini bukan atas nama tuan Yusuf tapi nama nona Dyah dan Toko sembako itu anda tidak berhak karena Toko itu dibangun dengan menjual perhiasan milik nyonya Aisyah dan Toko sembako tersebut atas nama putra mereka Fathan, kurasa pak Andre mengetahui hal tersebut karena dia adalah orang kepercayaan tuan Yusuf dan satu lagi kami memiliki surat yang sah" kata Collin menunjukan surat yang diberikan oleh Dyah di tunjukan padanya.
Rudi menatap tajam ke arah Andre yang tertunduk karena ketakutan.
Azka menggendong Dyah yang mana keningnya terluka mendekati mereka karena Dyah ingin taju apakah ayahnya benar memiliki utang.
" Saya hanya ingin tahu apakah ayah saya benar memiliki utang dan berapa utang yang dimilikinya" kata Dyah, tapi Rudi hanya diam dan memegang kuat surat ditangannya.
Azka tersenyum. " Akbar ambil surat itu darinya karena ayah mertua tidak memiliki utang padanya sedikit pun" kata Azka, Akbar menanggukan kepalanya mengambil kembali surat itu dari Rudi.
" Tapi mas Dyah ingin memastikannya" kata Dyah. " Sayang untuk apa kamu mengetahuinya ini sangat jelas ini hanyalah rekayasa agar dia dapat memiliki rumah dan toko sembako peninggalan orangtuamu" kata Azka.
Dyah diam dan menggelamkan kepalanya ke leher Azka, dia merasa kecewa karena keluarganya dapat melakukan hal itu.
__ADS_1
Taklama polisi datang untuk menangkap Rudi dan Andre atas kasus penipuan, mereka kembali ke rumah bu Rt karena Dyah harus mendapatkan perawatan untuk luka diterimanya.
Pak Rt menghubungi dokter untuk mengobati luka Dyah beruntung puskesmas tidak jauh dari rumah pak Rt.
" Assalamualaikum " ucap seseorang dari luar.
" Waalaikumsalam" ucap bu Rt, membuka pintu, terlihat orang asing di luar rumahnya.
" Maaf bu tadi saya dapat kabar kalau Dyah ada disini" kata seorang ibu.
" Ya bu nak Dyah di dalam ayo masuk" ajak bu Rt.
Bu Rt masuk dengan seorang wanita tidak muda lagi.
" Bu siapa dia? " pak Rt.
" Begini pak ini ada orang yang mencari Dyah" kata ibu Rt, menatap mereka satu persatu. Dyah menyandarkan kepalanya di bahu Azka mencoba untuk duduk walau dia masih pusing, Azka membantunya.
" Bu mencari saya, saya Dyah" kata Dyah, memperkenalkan dirinya.
" Alhamdulillah akhirnya ibu menemukanmu ibu sudah menunggumu di sini selama seminggu dan ngekost tak jauh dari sini" penjelasan ibu.
" Maaf ibu siapa?. Dan ada keperluan apa mencari saya" kata Dyah, memegang kuat tangan Azka dia merasa takut Azka memeluk pundaknya.
" Nama ibu Bella, ibu teman ibumu sewaktu sekolah dulu dan tinggal dekat rumah orangtua ibumu" kata Ibu Bella.
" Maaf bu Bella tolong diperjelas kedatangan ibu kesini" kata Azka.
" Sebenarnya ibu sudah lama ingin menyampaikannya karena ibumu hanya memberitahu alamat ini, kami masih mengirim pesan melalui surat ibumu selalu bertanya tentang orangtuanya. Nak Dyah kakek dan nenekmu sudah meninggal dua minggu yang lalu" kata ibu Bella.
Deg
Bella sangat terkejut dengan kabar yang dia terima padahal dia ingin mengeyahui keluarga ibunya, tapi sekarang harapan ini hanyalah omongan belaka orangtua dari ibunya sudah meninggal.
Azka memeluknya sangat erat terlihat Dyah sangat terpukul oleh berita inj.
" Ibu mereka meninggal karena apa? " Dyah, dengan suara yang serak.
" Sejak mereka dengar orangtuamu meninggal karena kecelakaan mereka sangat menyesal atas perbuatan mereka pada orangtuamu, mereka selama 1 tahun lebih selalu mencarimu dan adikmu kemana dan terakhir mereka sempat kesini dari alamat yang ibu berikan. Setelah mengetahui kalian tidak tinggal di kota ini mereka jatuh sakit dan di rawat di rumah sakit beberapa waktu" kata ibu Bella, memberikan surat pada Dyah.
__ADS_1
Mereka tidak bisa berkata apa hanya bisa mendengarkannya.