
Hari pernikahan Azka dengan Helena tinggal seminggu lagi semua dekorasi dan lainnya sudah 99%, sudah beberapa hari ini Dyah tak pernah menegur sapa dengan Azka begitu pula sebaliknya dia hanya fokus merawat Aquira.
Papi Ammar dan bibi Sumi sudah mengetahui rencana pengunduran diri Dyah. mereka juga menyetujuinya karena tidak sanggup gadis itu terluka, bibi Sumi juga senang karena bisa menemani Dyah dan Fathan tempat tinggal barunya.
Hari ini Azka pergi ke luar kota untuk mengurus pekerjaan dia ditemani oleh Akbar mengurus ada masalah dengan proyek yang sedang mereka kerjakan.
Dyah sudah mempersiapkan semua barangnya dan Fathan ke dalam koper saat ini mereka berkumpul di ruang tengah, beruntung saat ini Aquira sedang tidur siang di kamarnya kalau tidak dia pasti akan menangis.
Bibi Ina yang baru saja di beritahu menangis dalam pelukan bibi Sumi.
" Dyah" panggil mami Atika, Dyah yang sedang memeriksa bawaannya takut ada ketinggalan, dia membalikan tubuhnya.
" Ya nyonya" seru Dyah, melihat mami Atikadan papi Ammar mendekatinya.
" Dyah ini gajimu bulan ini dan saya memberimu tambahan" kata mami Atika, menyerahkan amplop padanya.
Dyah mengucapkan terima kasih dan memasukan amplop ke dalam tasnya.
__ADS_1
" Dyah bisakah selama Azka belum kembali kamu kesini sepulang kampus menemui Aquira, dan kamu bisa pulang jika dia sudah tidur" kata mami Atika.
" Baik nyonya, saya akan kesini untuk menrmui nona kecil" kata Dyah, dengan sedihnya karena harus meninggalkan Aquira yang sudah putrinya sendiri.
" Bibi disana harus jaga kesehatan sering memberi kabar padaku" kata bibi Ina, menangis. Bubi Sumi menanggukan kepalanya.
Sebelum berangkat Dyah menemui Aquira di kamarnya dilihat anak asuhnya sangat myenyak tidur dengan memeluk boneka kesayangannya, Dyah tersenyum mengelus rambutnya dan diciunya.
" Selamat tinggal nona" kata Dyah, keluar dari kamar, ketika dia keluar terlihat kamar Azka di samping kamar Aquira.
Dyah mendekati dan memandang kamar yang ditempati oleh pria yang telah bertahta dihatinya untuk selamanya, Dyah hanya bisa menatapnya dengan kesedihan.
" Papi, apakah tindakan kita benar dengan tak memberitahunya tentang kepergian Dyah" kata mami Atika, mengingat putranya.
Papi Ammar tersenyum. " Papi rasa ini yang terbaik untuk mereka saat ini, semoga saja putra kita itu menyadari akan perasaannya sebrlum semuanya terlambat" kata papi Ammar, mengajak istrinya istirahat.
" Amin, semoga saja tuan muda menyadari kalau wanita itu tidak baik untuk nona kecil dan menyadari keberadaan Dyah" bisik bibi Ina, menghapus air matanya.
__ADS_1
Dalam mobil
Dyah tidak mengeluarkan suaranya sedikit pun dia menatap ke arah keluar sambil memenjamkan matanya.
" Tuan muda" guman Dyah sambil menitikan air matanya. Bibi Sumi hanya menatap kesedihan Dyah yang sudah dia anggap sebagai putrinya sendiri.
" Semoga kamu bahagia Dyah karena kamu berhak mendapatnya" guman Bibi Sumi melihat Dyah di kursi belakang, Fathan fokus membaca bulunya.
Di kota lainnya.
Azka baru saja kembali dari lokasi proyeknya dan saat ini berada di hotel untuk istirahat, Azka menyandarkan kepalanya sambil memenjamkan matanya.
Tiba saja dia mimpi Dyah, Aquira dan dirinya sedang bermain layangan di sebuah taman, mereka bertiga sangat merasa bahagia tertawa bersama. Dyah memintanya untuk memegang tali layangan.
Tiba saja Dyah pergi menjauh dari mereka. dia mencoba untuk memanggil Dyah dan putrinya menangis histeris memanggil bunda.
" Dyah" panggil Azka, dengan nafasnya ngongosan dia baru saja sadar itu hanya mimpi. Azka mengusap wajahnya secara kasar.
__ADS_1
" Itu hanya mimpi saat ini dia pasti menemani Aquira bermain" guman Azka, masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.