CEO Dan Pengasuh Cantik

CEO Dan Pengasuh Cantik
Episode 134


__ADS_3

Setelah mengurus cuti kuliah untuk Dyah, Akbar mengantar Gracya pulang ke rumah di tengah perjalanan Gracya merasa lapar karena sejak tadi belum makan.


" Mas bisa kita singgah di restoran sana" kata Gracya, dengan malunya. Akbar tersenyum karena wanitanya lapar.


Mobil berhenti sebuah restoran yang tidak mewah tapi tidak diragukan rasa makan yang ada di sana, Akbar dan Gracya memesan makanan dengan tenang.


Para pengunjung hanya berbisik karena orang nomor dua di perusahaan Alexanders makan siang di restoran yang tidak mewah dan bersama seorang gadis, tapi tak ada yang berani mengambil kesempatan untuk menanggu mereka.


Setelah makan Akbar mengantar Gracya pulang, setelah memastikan Gracya masuk ke dalam Akbar melajukan mobil ke kediaman keluarga Alexanders.


Kediaman keluarga Alexanders.


Untuk kenyaman istrinya Azka sudah memindahkan semua kebutuhan mereka di kamar lantai bawah agar Dyah tidak perlu menaiki tangga.


" Nenek Ira ingin ke tempat bunda" kata Ira berlarian membawa bonekanya, mami Atika tersenyum.


" Tapi Ira jangan ganggu bunda ya sayang, bunda membutuhkan istirahat yang banyak" kata mami Atika, Aquira menanggukan kepalanya masuk ke kamar Dyah.


" Bunda" kata Ira, memperlihatkan kepalanya Dyah tersenyum melihat putrinya.


" Sayang masuk"kata Dyah, Ira senyum masuk ke dalam kamar.


" Bunda kata papi adik Ira ada di sini ya" kata Ira, menunjuk perut Dyah.


Dyah tersenyum. " Ya sayang jadi Ira harus menjadi kakak yang baik dan selalu menjaga adiknya" kata Dyah, mengelus rambut Ira, Aquira menanggukan kepalanya dan mencium perut Dyah Yang masih rata.


Dyah tersenyum bahagia karena Aquira sangat menyayangi anak yang masih berada dalam perutnya, tapi ia sedih mengingat keadaan kehamilannya yang lemah.


Mobil Akbar sudah sampai di kediaman keluarga Alexanders satpam membuka pintu gerbang dan mempersilahkan Akbar masuk.


" Selamat datang tuan Akbar" kata bibi Sumi membuka pintu.


" Bibi tuan muda ada" kata Akbar. " Ada tuan, tuan muda ada di ruang kerja" kata bibi Sumi, Akbar menanggukan kepalanya segera menemui Azka di ruang kerja.


Ruang kerja.


Akbar sedang memeriksa laporan yang dikirim oleh sekretarisnya sebenarnya ia bisa mengerjakan di kamar tapi ia tak ingin menanggu istrinya yang diharuskan istirahat, Azka juga tak ingin istirahat Dyah terasa terganggu.


Tok, tok, tok


" Masuk" kata Azka, Akbar membuka pintu dan terlihat Azka fokus memperhatikan laptopnya.

__ADS_1


" Tuan muda" kata Akbar. " Hmm" sahut Azka.


" Saya sudah mengurus cuti kuliah nona muda " kata Akbar. " Terima kasih Akbar" kata Azka, melihat Akbar berdiri di hadapannya.


Akbar senyum karena tidak biasanya bos sekaligus sahabatnya mengucap kata terima kasih, kemudian Azka mengajaknya membahas pekerjaan.


Kamar Dyah.


Dyah sedang membaca novel untuk menghilangkan kebosannya, tiba saja ia merasa mual.


Dyah segera ke kamar mandi untuk muntah, Dyah mengeluarkan semua isi perutnya hingga membuatnya lemas.


" Sayang" kata Dyah mengelus perutnya. Dyah kembali mengeluarkan isi perutnya karena mualnya.


Kret pintu terbuka.


Fathan ingin menemui kakaknya sepulang dari sekolah dan membersihkan tubuhnya ia tak sabar untuk menemui Dyah.


" Kakak" kata Fathan, tapi tidak melihat di atas kasur." Kak Dyah dimana? " Fathan, mendengar suara air di kamar mandi.


" Kakak pasti di kamar mandi aku tunggu di sini saja" kata Fathan, meletakan bukunya di lantai. Fathan memang berniat belajar di kamar Dyah.


Fathan menyimpan bukunya dalam tas dan melihat keadaan Dyah,saat sampai di kamar mandi Fathan terkejut melihat kakaknya sudah terlulai lemas di kloset.


" Kakak" kata Fathan, dengan seraknya mendekati Dyah, Dyah berusaha untuk tersenyum meski ia sangat lemas sekedar kembali ke atas kasur ia tak sanggup.


" Fathan tolong panggil kak Azka, kakak tak sanggup untuk berdiri" kata Dyah dengan lirihnya. Fathan menanggukan kepalanya segera mencari Azka.


Bibi Sumi sedang membersihkan rumah ia mengeringit heran melihat Fathan mencari sesuatu.


" Tuan muda Fathan sedang mencari apa mungkin bibi bisa membantu" kata bibi Sumi, mendekati Fathan yang terlihat bingung.


" Bibi lihat kak Azka" kata Fathan, tapi wajahnya terlihat khawatir, mendengar perkataan Fathan membuat bibi Sumi juga khawatir ia mengingat keadaan Dyah.


" Tuan muda ada di ruang kerja" kata bibi Sumi, tanpa pamit Fathan segera menaiki tangga menuju lantai dua.


" Sebaiknya aku beritahu tuan dan nyonya besar" kata bibi Sumi, menaiki tangga menuju kamar mami Atika.


Azka fokus memperlajari laporan yabg dikirim oleh sekretarisnya karena perusahaannya akan mengerjakan proyek baru, Azka tidak ingin proyek baru ini bermasalah makanya ia bekerja keras untuk memperlajari laporan.


" Kakak" kata Fathan, dengan nafas yang bersengal, Azka terkejut melihat Fathan masuk ke ruangan kerjanya karena Fathan tidak pernah memasuki ruangan ini jika tidak bersamanya.

__ADS_1


" Fathan apakah ada yang perlu kakak bantu" kata Azka, mengira Fathan membutuhkan bantuannya.


Fathan menggelengkan kepalanya. " Kakak, Kak Dyah hiks hiks" Fathan tidak sanggup lagi menerus perkataannya mengingat keadaan Dyah.


Azka terkejut mendengar perkataan Fathan ia pun mendekatinya.


" Hiks hiks, hiks.Kakak, kak Dyah di kamar mandi tapi tak kuat untuk berdiri dan kak Dyah meminta Fathan untuk memanggil kakak" kata Fathan.


Azka menjadi khawatir pada Dyah setelah mendengar perkataan Fathan, Azka segera ke kamarnya.Mami Atika dan papi Ammar juga ke kamar Dyah mendengar perkataan bibi Sumi membuat mereka khawatir.


Akbar dan Fathan juga menuju ke kamar Azka, Akbar mengira kalau tuan mudanya akan membutuhkannya sedangkan Fathan khawatir dengan kakaknya.


" Astaghfirrurrah, sayang kenapa kamu tidak memanggil mas" kata Azka, terkejut melihat Dyah sudah bersandar pada kloset.


"Dyah tahu mas sedang sibuk tadi tiba saja perut Dyah merasa mual" kata Dyah, berusaha untuk senyum meski wajahnya pucat.


" Azka ayo angkat istrimu ke kasur tak baik untuknya berada di kamar mandi terlalu lama" kata mami Atika, mami Atika dan papi Ammar sudah sampai di kamar putra dan menantunya.


Tidak membuang waktu lagi Azka menggendong Dyah dan membawanya ke atas kasur.


" Sayang masih mual mas akan minta Akvar untuk memanggil dokter" kata Azka.


Dyah tersenyum dan menggelengkan kepalanya, Dyah menatap suaminya debgan senyuman Azka juga tersenyum membelai rambut Dyah.


" Mas" kata Dyah, dengan melipat bibirnya seakan ia menginginkan sesuatu.


" Ya sayang apakah kamu kembali merasa mual" kata Azka, dengan khawatir Dyah menggelengkan kepalanya.


Mami Atika tersenyum ia mengetahui kalau menantunya sedang ngidam.


" Sayang, kamu ingin sesuatu? " mami Atika pada Dyah dan Dyah menanggukan kepalanya mami Atika dan papi Ammar saling tersenyum.


" Sayang, kamu lapar mas akan panggil bibi Ina untuk menyiapkan makanan untukmu" kata Azka.


" Mas Dyah tidak mau makan nasi, Dyah ingin" Dyah tidak berani untuk menyatakannya.


Azka tersenyum akhirnya ia tahu kalau istrinya sedang ngidam.


" Sayang mas tahu kalau kamu sedang mengidam dan sekarang katakanlah apa yang diminta oleh anak papi ini" kata Azka, mencium perut Dyah.


" Dyah ingin buah kedondong".

__ADS_1


__ADS_2