
Xanders terus mengikuti mobil di depannya mereka harus berhati agar tidak ketahuan dengan bodohnya mobil di depannya tidak menyadari kalau mereka sedang diikuti oleh Xanders orang kepercayaannya Azka di dunia bawah.
" Bos bukankah ini hutan yang tak pernah di kunjung oleh penduduk" kata supir.
" Benar ternyata mereka pintar memilih lokasi yang tak pernah di kunjung oleh masyarakat" kata Xanders, terus mengikuti mobil di depannya.
Xanders meminta supir memberhentikan mobil yang agak hauh dari lokasi agar tidak ketahuan, Xanders menghubungi Azka kalau lokasi persembunyian mereka telah ditemukan.
Rumah sakit
Azka sedang menemani Aquira menikmati sarapan siang dibawa oleh suster Fathan fokus dengan membaca buku yang dia bawa, mami Atika dan papi Ammar hanya melihat mereka tanpa ada suara dan Akbar juga kembali ke rumah sakit setelah dari perusahaan.
Drt drt drt
" Xanders, apa mereka sudah mendapat kabar" guman Azka, mengangkat teleponnya.
" Halo"
" Halo, tuan muda kami telah berhasil menemukan lokasi persembunyian mereka " kata Xanders.
" Dimana" kata Azka, dengan suara yang tegas membuat orang sekitarnya terkejut melihat Azka yang berdiri dan menggengam tangannya.
" Baiklah aku ke sana sekarang kalian tetaplah mengawasi lokasi" kata Azka, menutup panggilan.
" Tuan muda, Azka ada apa? " Akbar dan papi Ammar. Azka menatap mereka satu persatu dan menatap putrinya dengan senyuman dan mencium keningnya.
" Sayang, papi sudah janjikan akan bawa bunda pulang dan sekarang papi akan menjemputnya" kata Azka, tersenyum.
" Benarkah pi, papi akan menjemput bynda" kata Aquira, terlihat bahagia di wajahnya.
" Azka benarkah itu" kata papi Ammar, mami Atika juga bahagia mendengarnya tapi ia belum berani untuk menatap putranya.
Azka tersenyum menanggukan kepalanya semua orang bahagia melihatnya.
" Mami Azka akan membawa menantu dan calon cucu mami pulang" kata Azka, sebelum meninggalkan ruangan.
Mami Atika terkejut sekaligus bahagia mendengarnya dan memeluk suaminya dengan air mata.
__ADS_1
" Papi hiks his Azka sudah mau bicara dengan mami" kata mami Atika, papi Ammar menanggukan kepalanya dan senyuman.
Fathan yang mendengar perkataan Azka yang akan menjemput kakaknya segera mengikuti Azka dan Akbar yang telah meninggalkan ruangan.
" Kakak" panggil Fathan, Azka dan Akbar berhenti.
" Kakak Fathan tahu kalau kak Dyah berada di tempat yang jauh makanya kakak sulit menemukannya tapi Fathan ingin ikut menjemput kak Dyah" kata Fathan, menatap tajam ke arah Azka.
Azka tersenyum melihat keyakinan Fathan tapi ini berbahaya untuknya.
" Fathan kakak takkan berbohong padamu lokasi yang kakak tuju cukup bahaya untukmu jika kamu ikut bersama kami pasti kakakmu akan marah karena membiarkan adik kesayangannnya bahaya, makanya kamu disini menjaga lainnya nanti setelah pulang pasti kakakmu sudah kembali" kata Azka, Fathan menanggukan kepalanya.
Akbar menghubungi Gracya agar menemani Fathan dan lainnya di rumah sakit, kemudian mereka menuju lokasi yang diberitahu oleh Xanders sebelum pergi Azka menghubungi anak buahnya untuk menjaga mereka.
Gracya yang mendapat kabar dari suaminya segera menuju rumah sakit beruntung pelajaran kuliahnya telah selesai, memang Gracya belum mengajukan cuti kuliah selama ia kuat akan melanjutkan kuliahnya dua telah membicarakannya bersama Akbar dan setuju tapi jika telah memasuki usia delapan bulan baru ia mengajukan cuti berbeda dengan Dyah yang kandungannya lemah sejak awal kehamilan.
Mobil Azka terus melaju ke lokasi yang diberitahu oleh Xanders.
" Kenapa aku tak mengira kalau mereka akan membawa istriku ke sini" kata Azka, memasuki hutan.
" Benar tuan muda hutan ini telah lama tak dijangkau oleh masyarakat makanya kita tak terpikir dengan tempat ini, tuan muda sepertinya kita telah tiba" kata Akbar, melihat Xanders dan lainnya sedang memperhatikan sebuah rumah.
" Tuan muda kami curiga nona muda berada di dalam rumah itu" kata Xanders.
Azka menanggukan kepalanya menatap tajam ke arah rumah yang ditunjuk oleh Xanders bagaimana banyaknya orang yang menjaga rumah itu.
" Xanders bagaimana keadaannya?" Akbar.
" Rumah ini sangat di jaga ketat seakan mereka menyambut kedatangan tuan muda" kata Xanders.
" Baiklah jika itu keinginannya apalagi aku sudah lama tak bertemu dengannya jika mereka melukai istriku sedikit saja takkan ku biarkannya hidup" kata Azka, dengan dinginnya.
Mereka segera mengatur rencana untuk menyelamatan Dyah berbeda dengan keadaan di dalam.
" Kalian ikat wanita itu di kursi itu" kata Ergando, memerintahkan anak buahnya mengikat Dyah di kursi dan sekitarnya ada aliran listrik.
" Sayang apa yang kamu lakukan padanya? " Selly.
__ADS_1
" Lihat saja sayang sepertinya orang yang aku tunggu sebentar lagi akan datang makanya aku akan menyambutnya bukan" kata Ergando, Selly tersenyum manis mendengarnya ia bahagia apalagi melihat Azka secara langsung melihat istrinya tewas di hadapannya.
" Mas Azka" kata Dyah, dengan lirih tapi dapat di dengar oleh Ergando.
Ergando tersenyum smirk mendekati Dyah dan menatap tajam penuh nafsu.
" Jika kau meninggalkannya aku bersedia melepaskanmu dan menjadi ayah dari anakmu" kata Ergando, mencengkram perut Dyah hingga kesakitan.
Dyah menggelengkan kepalanya Ergando menatapnya penuh benci.
" Aaaa mas Azka " Dyah berteriak kesakitan karena Ergando memerintahkan anak buahnya memberi Dyah sengat listrik.
Selly tersenyum bahagia melihat Dyah kesakitan.
" Dyah" kata Azka, mendengar suara istrinya. " Tuan muda, anda harus tenang sebentar lagi kita akan menyelamatkan nona" kata Akbar, menghalanginya.
" Sial apa yang mereka lakukan padanya" kata Azka, mengacak rambutnya.
Xanders memberi kode agar mereka memulai aksinya karena tak mau membuang waktu lagi untuk menyelamatkan Dyah, secara hati-hati mereka mendekati lokasi.
Anak buah Ergando yang sedang mengawasi keadaan berteriak.
" Mereka datang" anak buahnya berteriak melihat kedatangan Azka dan lainnya.
Terjadilah pertarungan di luar antara Azka dan anak buah Xanders.
" Bos kita di serang" kata anak buah yang memberitahunya.
" Hahaha akhirnya dia datang juga sepertinya dia sangat mencintaimu" kata Ergando tersenyum.
" Mas Azka" guman Dyah.
" Kamu disini saja jaga dia dan kalian jaga mereka" kata Ergando pada Selly dan anak buahnya.
Mendengar nama Azka yang telah datang membuat Selly ketakutan mengingat kejadian benerapa bulan yang lalu saat mereka bertemu di perusahaan Alexanders Grup, tapi ia berusaha tenang yakin Ergando pasti bisa menghadapinya apalagi Dyah ada di tangannya Azka takkan berani melukainya.
Selly menatap sengit pada Dyah dia meletakan pisau di leher Dyah hingga mengeluarkan darah, Dyah mencoba menahannya karena dia tahu kalau suaminya sudah datang.
__ADS_1
" Azka"