
Tak terasa sudah beberapa waktu Dyah menemani anak kembarnya bermain sampai ia lupa kalau sedang bekerja dan Azka tidak mau menghentikan mereka, Azka benar memberikan waktu pada mereka menghabiskan waktu bersama dia ingin sikembar merasakan kasih sayang Dyah yabg tidak pernah mereka dapatkan.
" Kalian memang pintar bisa memainkannya dengan cepat" kata Dyah, memuji Diaz dan Dika mereka bermain suit ala jepang.
Dika dan Diaz tersipu malu karena Dyah memuji mereka, Dyah mengambil kaca menghela nafasnya melihat wajahnya sudah tercoret dengan bedak.
" Astaghfirrurrah" Dyah terkejut melihat jam di tangannya ternyata sudah waktunya bertemu dengan klien dari PT Gunawan Group dan dia menghabiskan waktu dengan bermain dia menjadi takut jika Azka marah dan memecatnya.
"Tuan muda" kata Dyah, dengan nada ketakutan menundukan kepalanya tak berani untuk melihat Azka.
Azka membiarkan Dyah menyelesaikan bicaranya dan melihat Dyah dengan ketakutan seperti itu membuatnya gemes.
" Tuan muda, saya minta maaf karena tidak melaksanakan pekerjaan. Tuan muda ini sudah wakttunya bertemu klien" kata Dyah, masih tak berani menatap Azka.
Azka berusaha menyembunyikan senyumannya.
" Ayo kita berangkat sekarang panggil Akbar dan Gracya kita berangkat sekarang" kata Azka, mengambil jasnya di kursi.
Dyah mengangkat kepalanya berfikir apakah bosnya ini tidak marah.
" Tuan muda tidak marah karena saya sejak tadi belum mengerjakan apa pun" kata Dyah.
" Ayo berangkat sekarang jangan berfikir sembarangan kamu tidak bersalah hanya karena menemami anak kembar saya. " kata Azka.
Dyah merasa lega karena bosnya tidak memecatnya sebelumnya Dyah sempat mendengar saat dia baru datang mendengar gosip kalau bosnya kejam dan tak mengenal apapun apa lagi melakukan kesalahan walaupun itu hal kecil.
Azka memanggil Diaz dan Dika untuk mengikutinya dan Dyah menghubungi Akbar kalau mereka akan menemui klien di restoran.
" Tante kami ingin jalan bersama" kata Dika, mendekati Dyah yang berjalan di belakang dan diikuti oleh Diaz.
Dyah tersenyum melihat mereka sudah memegang tangannya satu persatu. Gracya tersenyum melihat sahabatnya sudah dekat dengan anak kembarnya walau dia tak mengingatnya tapi ikatan seorang ibu pada anaknya tak bisa dibohongi.
__ADS_1
Azka dan Akbar juga senang melihat sikembar bahagia bersama dan Azka berharap ada keajaiban yang membuat istrinya segera mengingatnya.
Para karyawan yang melihat mereka hanya bisa berguman dalam hati tak ada satu pun yang mengeluarkan suaranya apalagi saat Akbar menatap mereka dengan tajam, Dyah melihat sekitarnya menjadi bingung kenapa karyawan lainnya seperti tegang.
Supir melihat kedatangan mereka segera membuka pintu.
" Dyah ayo naik mobil ini" kata Gracya, mendorong Dyah masuk dalam mobil Azka.
" Tapi nona " kata Dyah, berusaha menolak melihat Azka sudah duluan masuk dalam mobil.
" Apa? " Gracya. " Ya Allah Dyah dia itu suamimu sendiri kenapa harus takut sih". Kata Gracya dalam hati.
" Tuan muda Diaz dan tuan muda Dika dimana duduk kalau saya duduk disini" kata Dyah, tetap menolak.
" Tante kami duduk bersama om Akbar, kami ingin menghubungi Agra" kata Dika, menarik Diaz masuk ke dalam mobil Akbar yang sebelumnya dibawa oleh Gracya.
" Kalian memang anak papi yang pintar" kata Azka, dalam hati memuji anak kembarnya kalau begini dia bisa berduaan dengan Dyah.
Dyah hanya menghela nafasnya hanya menatap arah jendela tak berani untuk menatap Azka.
" Kalian ini" Akbar, memuji Gracya dan sikembar setelah mereka masuk kedalam mobil.
" Kami ingin bunda dekat dengan papi om dan dengan itu bunda pasti mengingat kami lagi" kata Dika, sangat berharap Dyah bisa pulang bersama mereka.
Gracya tersenyum dan tos bersama sikembar keadaan mobil Akbar bahagia dengan Azka bisa semobil dengan Dyah berbeda dengan mobil di depannya suasana tegang karena Dyah terus melihat arah luar dan Azka fokus dengan tabletnya membaca kerja sama dengan klien walau sekali matanya melirik Dyah.
Tak terasa sudah lima belas menit mereka sudah sampai di restoran A, Azka dan lainnya keluar dan masuk ke dalam restoran.
" Selamat datang ke restoran kami tuan, nona.Apakah kalian sudah memesan tempat sebelumnya " kata pelayan, mengenal Azka sebagai CEO dari perusahaan Alexanders.
" Kami sudah memesan tempat atas nama tuan Azka" kata Dyah, dengan senyuman sebelum bermain dengan sikembar Dyah sudah memesan tempat VVIP.
__ADS_1
Pelayan mengantar mereka ternyata tuan Gunawan belum datang.
" Kalian duduk sebelah sana ditemani tante Grac papi ingin menemui klien setelah itu kita makan bersama" kata Azka, pada sikembar yang tak ingin jauh dari Dyah.
" Kami ingin bersama tante Dyah pi" kata Diaz. Dyah merasa tak enak pada Azka sejak turun dari mobil Diaz dan Dika tak ingin jauh darinya.
" Sayang tante bekerja dulu ya nanti kita bisa bermain bersama lagi" kata Dyah, berjongkok mencium pipi sikembar. Diaz dan Dika tersenyum sedangkan Azka cemburu karena anak kembarnya dicium oleh Dyah padahal dia juga ingin dicium.
Gracya dan Akbar hanya bisa menahan tawa melihat Azka cemburu pada putra kembarnya yang mendapatkan ciuman dari Dyah, tak ingin membuang waktu Gracya mengajak mereka duduk di kursi sebelah apalagi klien sudah sampai.
Mereka saling menjelaskan proyek yang akan dikerjakan rencananya mereka akan membuat sekolah gratis di kota P dan pihak disana antusias dengan proyek ini, Gunawan adalah anak yatim dan kota P adalah tempat dia lahirkan saat Azka mengajukan kerja sama ini Gunawan langsung menerimanya.
Sudah satu jam mereka membahas kerja sama ini dan telah menentukan lokasi yang akan ditempatkan, Akbar memesan makanan untuk lainnya sebelum pergi Azka mengajak tuan Gunawan dan sekretarisnya makan bersama.
" Ayo kita kembali ke kantor kalian ingin pulang atau ikut papi ke kantor? " Azka, pada sikembar.
" kami ingin ikut tante Dyah pi, kami ingin melanjutkan bermain" kata Diaz, memeluk kaki Dyah.
" Tante Dyah kan bekerja bukannya menemani kalian" kata Gracya, menggoda keduanya. Diaz dan Dika kesal pada Gracya sedangkan Dyah hanya senyum.
Akhirnya Azka mengajak mereka ikut ke kantor mereka berjalan keluar bersama.
" Tuan muda maaf saya ingin ke toilet sebentar" kata Dyah, Azka menanggukan kepalanya melanjutkan jalan ke mobil dan Dyah segera ke toilet tak ingin Azka menunggu lama.
Saat Dyah selesai dengan urusannya dan tiba di pintu keluar tanpa sengaja matanya melihat motor berjalan dengan kencang dan Azka sedang menghubungi seseorang. Ketika motor itu akan menabrak Azka ada dorongan dari Dyah mendorong Azka.
Brug
" Dyah"
" Bunda"
__ADS_1
Gracya dan sikembar bersama berteriak melihat Dyah ditabrak motor dan kepalanya berdarah, Azka yang didorong oleh Dyah syok melihat istrinya ditabrak karena menolongnya dan Akbar yang awalnya ingin menolong Azka juga terkejut karena kejadian itu sangat cepat.