CEO Dan Pengasuh Cantik

CEO Dan Pengasuh Cantik
Episode 173


__ADS_3

Malam harinya Dyah hanya berdua dengan Azka ada rasa kecanggungan antara mereka, Dyah yang diam tanpa memandang Azka dan Azka curi- curi pandang terhadap Dyah.


" Sayang mau makan " kata Azka, melihat suster membawa makanan untuk Dyah.


' Nggk dan terima kasih tuan jika lapar saya bisa mengambilnya sendiri" kata Dyah, menatap datar pada Azka dia mencoba untuk menghindari Azka.


Azka tidak bisa bicara apa dia tak ingin Dyah semakin menjauh makanya dia membiarkan Dyah.


Dokter datang untuk melakukan pemeriksaan. " Alhamdulillah keadaan nona sudah stabil dan dalam tiga hari anda bisa pulang" kata dokter, Dyah mengucapkan terima kasih.


Azka mengajak dokter bicara di luar dia ingin mengetahui keadaan ingatan istrinya.


" Apa yang ingin anda bicarakan tuan muda" kata dokter.


" Dokter gimana dengan ingatannya? " Azka.


" Tuan muda seringlah mengajak nona bicara mengenai kenangan kalian atau tempat yang sering kalian menghabiskan waktu bersama, tuan muda semangatlah nona akan pulih seperti semula" kata doktet, menepuk punggung Azka.


Azka mengabari keluarganya dan memberitahu kalau Dyah akan pulang tiga hari lagi, mami Atika sangat bahagia mendengarnya dan minta bibi Sumi membersihkan kamar Azka.


" Nenek yang tadi itu papi ya " kata Aquira, melihat neneknya menutup panggilannya.


" Nenek ada kabar baik untuk cucu nenek yang cantik ini" kata mami Atika, tersenyum dan mencium keningnya.


" Apa nek, bunda pasti ingat Ira kan?" Aquira, berharap besar kalau Dyah akan mengingatnya.


Mami Atika menggelengkan kepalanya Aquira menjadi sedih. " Cucu nenek jangan bersedih bunda akan segera pulang tiga hari lagi, jadi cucu nenek ini bisa menyiapkan kejutan untuk bunda mungkin bunda akan mengingat sesuatu" kata mami Atika, Aquira tersenyum dan menanggukan kepalanya.


Fathan dan papi Ammar juga merasa bahagia karena sebentar lagi Dyah akan pulang ke kediaman keluarganya semoga saja menamtunya cepat kembali ingatannya papi Ammar sangat sedih melihat keadaan putra dan cucu -cucunya.


Tiga hari kemudian

__ADS_1


Kabar kepulangan Dyah merupakan kebahagiaan sendiri bagi keluarga Alexanders walau dia masih belum mengingat apapun, tapi mereka tak menyerah untuk membantu Dyah dalam mengingat ingatannya.


Aquira memberi kejutan untuk Dyah dengan mengumpulkan semua foto kebersamaan mereka dan dibingkai seindah mungkin dan Fathan menyiapkan kue kesukaan kakaknya dibantu oleh bibi Sumi menyiapkannya.


Rumah sakit


Akbar dan Gracya menjemput Dyah ke rumah sakit sebelum menuju ke kediaman keluarga Alexanders.


" Nona biar saya yang membereskannya" kata Dyah, pada Gracya yang memasukan barangnya ke dalam koper.


" Dyah, kamu duduk saja biar aku yang merapikannya kamu baru saja sembuh" kata Gracya, tersenyum.


" Tapi anda sedang hamil" kata Dyah, dengan tak enak dan khawatir melihat kehamilan Gracya.


" Anda nggk perlu cemas malah dokter menyarankan saya banyak bergerak" kata Gracya, dengan yakim.


Akhirnya Dyah membiarkan Gracya merapikan barangnya.


Azka dan Akbar masuk ke dalam mereka baru saja menyelesaikan administrasi.


Entah kenapa Dyah merasa jantungnya berdetak sangat kencang tapi dia tak tahu kenapa. " Nggk perlu tuan saya bisa sendiri" kata Dyah, menolak Azka mendorong kursi rodanya.


Gracya menatap sedih melihat sahabatnya menjauhi suaminya sendiri akhirnya Gracya memanggil suster untuk mendorong kursi roda sedangkan dia berjalan di samping Dyah, Azka hanya menghela nafasnya Akbar membawa barang Dyah dan mereka menuju kediaman keluarga Alexanders.


Selama perjalanan tak ada suara yang terdengar Dyah menatap arah luar sedangkan Azka memenjamkan matanya, Gracya duduk di samping Akbar yang mengendarai mobilnya.


Satu jam kemudian mereka sampai di kediaman keluarga Alexanders Dyah menatapnya dengan perasaan takjub, pintu terbuka oleh bibi Sumi terlihatlah semua keluarga menyambut kedatangan Dyah.


" Bunda hiks hiks hiks Ira senang bunda sudah pulang dan kita bisa bersama lagi" kata Aquira, memeluk Dyah dan mengangkat kepalanya menatap Dyah. Dyah memberinya senyuman.


Mami Atika dan papi Ammar menggendong cucu kembarnya terlihat mereka menatap Dyah dengan senyum.

__ADS_1


Tiba saja Dyah merasa kepalanya merasa sakit saat matanya menatap kedua putra kembar.


" Aww" Dyah memegang kepalanya membuat lainnya terkejut.


" Sayang ada apa? " Azka, mengkhawatirkan istrinya dan memegang pundak Dyah.


" Kepalaku sakit sekali" kata Dyah, masih memegang kepalanya Aquira bersenggukan melihat Dyah kesakitan.


"Sebaiknya bawa Dyah ke kamar" kata papi Ammar dan lainnya menanggukan kepalanya.


Saat Azka mengajak Dyah ke kamar mereka tiba saja tangannya di tepis oleh Dyah, Dyah menggelengkan kepalanya.


' Kakak biar Fathan yang membawa kak Dyah ke kamar" kata Fathan, Azka hanya menanggukan kepalanya membiarkan istrinya masuk ke kamar bersama Fathan.


Azka telah meminta mami Atika untuk menyimpan semua foto mereka agar Dyah tidak stress, makanya saat masuk ke kamar Dyah tidak melihat ada fotonya.


" Nenek kapan bunda mengingat Ira lagi" kata Aquira, menundukan kepalanya.


Azka melihat putrinya sedih berjongkok. " Sayang kita akan berusaha agar bunda kembali mengingat kita, jadi putri cantik papi nggk boleh sedih " kata Azka, senyum mengelus kepala putrinya Aquira menanggukan kepalanya.


Papi Ammar mengajak mereka istirahat Akbar dan Gracya juga menginap atas permintaan papi Ammar.


Azka dan Aquira masuk ke kamar terlihat Dyah tertidur bersama Fathan.


" Sayang kita istirahat di kamar kamu saja biar bunda bersama om Fathan tidur di sini" kata Azka, Aguira menanggukan kepalanya.


Mereka tidak ingin menanggu Dyah yang sedang istirahat sekali-kali si kembar menangis dan Azka yang mengurusnya.


" Diaz dan Dika berdoa ya agar bunda mengingat kita lagi dan bunda dapat merawat kalian dengan penuh cinta, papi yakin sebentar lagi bunda akan mengingat kita" kata Azka, memberi kedua cucunya minum susu.


Dalam kamar sebenarnya Dyah sudah bangun saat Azka dan Aquira masuk kamar tapi dia tak membuka matanya.

__ADS_1


" Ya Allah sebenarnya mereka siapa dan kenapa Fathan sangat akrab dengan mereka, bukannya saya baru saja tamat SMA dan kenapa kami berada disini terus gimana dengan rumah ibu" guman Dyah, mengingat rumah peninggalan orangtuanya.


Dyah hanya mengingat kalau dia baru saja tamat SMA dan mereka masih berada di desa, makanya dia bingung dengan situasi saat ini.


__ADS_2