
" Ada apa ini? " Azka, membuat mereka membalikan tubuhnya dan terkejut melihat Azka sudah pulang, mami Atika dan papi Ammar saling memandang.
" Papi, hiks hiks hiks, bunda" kata Aquira, turun dari tempat duduknya menuju Azka dan memeluk papi Azka.Azka berjongkok dan membalas putrinya.
" Putri papi ini kenapa menangis?" Azka menghapus air mata putrinya. " Papi bunda tak ada " kata Aquira, menggelengkan kepalanya sambil menghapus air matanya.
Azka mengelus rambut putrinya. " Bunda pasti menemani kak Fathan di dalam" kata Azka yang tidak tahu yang sebenarnya mami Atika dan papi Ammar hanya diam sedangkan Akbar merasakan ada hal lainnya disini.
" Nggak ada papi kak Fathan dan bunda tak ada di rumah" teriak Aquira dengan histeris, Azka kembali memeluk putrinya dan menggendong nya.
" Mami pasti tahu dimana Dyah dan hari sudah malam dia takkan meninggalkan Ira sendirian" kata Azka menatap mami Atika.
Papi Ammar memanggil bibi Ina untuk membawa cucunya ke kamarnya awalnya Ira terus memberontak dan memanggil Dyah. Dengan bujukan mami Atika akhirnya Ira mau masuk ke dalam kamarnya.
" Papi, mami katakan ada apa ini sebenarnya dan dimana Dyah? " Azka.
" Dia sudah pergi dari sini untuk apa kamu mencarinya bukannya beberapa hari lagi pernikahanmu" kata mami Atika pergi dari sana.
__ADS_1
" Tak ada pernikahan, pernikahannya sudah batal. Azka tahu mami pasti tahu dimana dia sekarang karena Azka ingin menyatakan sesuatu padanya" kata Azka, memegang pundak maminya.
Mami Atika melepas tangan putranya dari pundaknya menatap mata putra. " Ceritakan pada mami apa yang membuatmu membatalkan pernikahan ini" kata mami Atika.
Azka memegang tangan mami Atika dan menceritakan kejadian ketika dia di luar kota dan dia sudah membatalkan pernikahannya dengan Helena
" Baguslah kamu membatalkan pernikahan kalian mami tidak menyukainya, tapi soal Dyah mami benar tak tahu dimana dia sekarang. Dyah kemaren sudah mengundurkan dirinya menjadi pengasuh Aquira papi ayo kita masuk" kata mami Atika pada suaminya.
Papi Ammar mengikuti langkah istrinya ke kamar mendengar perkataan mami Atika membuat Azka terdiam dan senyum kecut.
" Akbar" panggil Azka. " Ya tuan muda, anda ingin saya melakukan sesuatu untuk mencari Dyah" kata Akbar.
Azka menggelengkan kepalanya. " Dia sudah pergi ketika aku menyadari perasaanku, Akbar aku bodoh sekali kenapa baru sekarang aku menyadarinya, hahaha" Azka menertawakan dirinya.
" Tuan muda mari saya antar anda ke kamar " kata Akbar yang khawatir membimbing Azka masuk ke kamarnya.
Akbar membuka pintu kamar Azka kemudian dia mendudukan Azka di pinggir kasurnya, dia menatap sedih tuan mudanya yang terlihat sedih.
__ADS_1
" Akhirnya tuan Azka menyadari perasaannya sendiri semoga saja semuanya tak terlambat dan mereka cepat di pertemukan, sebaiknya aku hubungi mereka untuk mencari Dyah" guman Akbar, keluar dari kamar tidak lupa untuk menutup pintu.
Ketika Akbar akan menghubungi anak buahnya niatnya di hentikan oleh bibi Ina.
" Bibi" kata Akbar. " Sebaiknya tuan Akbar bicara dengan nyonya, maaf bibi tak bisa mengatakannya" kata bibi Ina.
Akbar menanggukan kepalanya pergi ke kamar tuan dan nyonya besar.
Tok, tok, tok
Mami Atika membuka pintu dan tersenyum melihat Akbar yang datang.
" Tante tahu kamu pasti kemari atau bibi Ina yang memberitahumu" kata mami Atika.
" Tante tahu keberadaan Dyah" kata Akbar. " Menurutmu, biar anak bodoh itu yang mencarinya karena semua ini terjadi disebabkan kebodohannya" kata mami Atika dengan senyuman.
" Saya paham tante" kata Akbar, kemudian pamit ke apartementnya.
__ADS_1