
Rumah sakit
Azka dan lainnya sudah sampai di rumah sakit saat ini mereka tiba di UGD Dyah di bawa ke sana karena keadaanya lemah dan bayinya yang seharian belum mendapatkan cairan.
Azka yang sedang emosi membuatnya memukul dinding membuat lainnya tetkejut.
" Tuan muda tenanglah nona dan kehamilannya pasti baik saja" kata Akbar, memegang tangan Azka yang ingin kembali memukul dinding padahal tangannya sudah mengeluarkan darah.
" Apa kau bilang baik saja ini semua karena mereka jika tidak membuat istriku cemburu ini takkan terjadi dan aku malah mendiamkannya hanya karena ingin dia merasa tenang" kata Azka, tertawa kembali memukul dinding.
" Astagfirurrah, Azka" pekik mami Atika, melihat darah mengalir di tangannya.
" Azka apa yang kau lakukan, kau sudah gila istrimu sedang dirawat dan kau" kata papi Ammar terpotong mendengar suara istrinya.
" Akbar bawa dia ke dokter periksa tangannya aku tak ingin Dyah melihatnya " kata papi Ammar, Akbar menanggukan kepalanya dan mengajak Azka periksa ke dokter. Azka hanya bisa menurut.
Azka di periksa oleh dokter tapi matanya terus melihat ke arah UGD.
" Dok gimana? " Akbar. Dokter tersenyum dan menanggukan kepalanya Akbar menghela nafasnya luka Azka baik saja, Azka memaksa menuju ruang UGD Akbar terpaksa menurut tak ingin Azka kembali emosi.
Di kediaman keluarga Alexanders.
Aquira terus menangis memanggil nama Dyah bibi Ina terus membujuk Aquira ke kamar tapi tak mau, Fathan walau merasa takut melihat keadaan Dyah tapi dia tetap tenang tak ingin suasana semakin kacau.
Bibi Ina baru merasa tenang melihat Aquira tertidur, dengan hati-hati bibi Ina menggendong Aquira membawa ke ruang tamu, jika ke kamarnya bibi Ina tak kuat.
" Bibi, kak Dyah baik saja kan? " Fathan, melihat bibi Sumi masuk membawa susu.
" Nona Dyah pasti baik saja ada dokter yang memeriksanya, Fathan minum susu dulu terus tidur sebelum itu sholat jangan lupa berdoa" kata bibi Sumi, Fathan menanggukan kepalanya.
Setelah minum susu Fathan masuk kamar mandi berwudhu dan melaksanakan sholat, tidak lupa berdoa agar Dyah baik saja, bibi Sumi memang sengaja Aquira dan Fathan di satu kamar agar memudahkan mereka jika ada yang bangun.
__ADS_1
Kret
Pintu terbuka Dokter keluar. " Tuan, nyonya dimana tuan muda Azka saya ingin menypaikan keadaan nona Dyah" kata dokter.
" Dokter saya di sini, gimana keadaan istriku dia dan bayi kami baik saja kan? " tanya beruntun Azka.
" Alhamdulillah bayi tuan dan nona baik saja mereka sangat kuat, tapi nona Dyah sepertinya memikirkan sesuatu hingga tak ada satu makanan yang masuk sebaiknya nona Dyah istirahat beberapa hari di rumah sakit hingga fisiknya kembali stabil" kata dokter.
Azka dan lainnya merasa lega mendengar penjelasan dari dokter , suster keluar membawa brankar terlihat Dyah masuh belum sadar karena bius.
Papi Ammar sudah mengurus kamar VVIP ditempati oleh Dyah yang di kerjakan oleh Akbar.
" Papi, mami sebaiknya pulang biar aku yang menjaganya " kata Azka, memegang tangan Dyah, pandangannya terus menatap istrinya.
Mami Atika ingin menolak karena juga ingin menemani menantunya tapi karena papi melarangnya terpaksa mami Atika mengikuti papi Ammar pulang, apalagi ada Aquira dan Fathan ada di rumah.
Akbar mengirim pada Gracya memberitahu kalau Dyah di rawat di rumah sakit, Gracya membalas kalau esok pulang kampus dia akan menjenguk Dyah.
Akbar membiarkan Azka berdua dengan Dyah berdua di kamar sedangkan dia pergi ke kantin membeli makanan, mereka belum makan sejak siang.
Akbar kembali dari kantin membawa dua kantong makanan.
" Tuan muda saya sudah membawa makan sebaiknya tuan muda makan dulu, agar dapat menunggu nona di sini" bujuk Akbar, Azka menatapnya dengan tajam membuat Akbar mengigit ngeri.
Walau marah Azka tetap memakan makanan yang di beli oleh Akbar, Akbar menghela nafasnya dan mereka menikmati makanan.
Azka tidak berselera makan matanya terus tertuju pada Dyah berharap istrinya sadar Azka kembali ke tempat istrinya duduk di hadapannya, Akbar lebih memilih memenjamkan matanya sungguh dia merasa lelah.
Azka mencium kening Dyah dan merebahkan kepalanya di samping istrinya, Azka tidak melepas tangannya dari tangan istrinya. Mami Atika mengirim supir membawa pakaian untuk mereka di rumah sakit.
Keesokan harinya terdengar suara adzan berkumandang Dyah bangun dia melihat kamar yang terlihat tak asing tapi ini bukan kamarnya, Dyah membalikan tubuhnya terlihat Azka tidur di sebelahnya.
__ADS_1
" Mas Azka" kata Dyah, dengan suara seraknya, Dyah memegang rambut suaminya dengan senyuman tipis terukir di wajahnya.
Azka merasakan ada sentuhan saat membuka mata ia tersenyum melihat Dyah sudah sadar dari pengaruh bius.
" Sayang" kata Azka, menghapus air mata yang jauh di mata Dyah.
"Mas bahagia melihatmu sudah sadar, mas panggil dokter dulu" kata Azka, menekan tombol di samping brankar.
Akbar bangun tidur mendengar suara pintu terbuka dia segera berdiri melihat Dyah sudah membuka mata.
" Tuan nona saya akan periksa dulu" kata dokter, Azka menjauh agar dokter memeriksa Dyah.
" Alhamdulillah keadaan nona sudah stabil tapi untuk memastikan keadaan janin nanti biar dokter kandungan yang memeriksanya" kata dokter.
" Terimakasih dok" kata Dyah, walau masih lemah sedangkan Azka tidak memperdulikannya dia hanya peduli pada istrinya, dokter hanya tersenyum melihat Azka hanya memeluk Dyah.
" Kalau begitu saya pamit dulu masih ada pasien saya periksa" kata dokter, Dyah tersenyum sambil menahan malu melihat tingkah suaminya.
" Mari dok" kata Akbar, Dokter menanggukan kepalanya setelah dokter keluar Akbar pamit menuju mushalla melaksanakan sholat subuh.
" Mas sholat dulu nanti jamnya habis" kata Dyah, Azka tersenyum mengelus kepala Dyah dan menuju kamar mandi, Dyah melakukan tayamum dan mereka melaksanakan sholat subuh berjamaah.
Setelah mengantar Aquira dan Fathan ke sekolah mami Atika dan papi Ammar ke rumah sakit menjenguk Dyah dan membawa makanan, sebenarnya Aquira dan Fathan sangat ingin ke rumah sakit menemui Dyah.
Papi Ammar berjanji akan mengajak mereka ke rumah sakit setelah pulang sekolah akhirnya mereka menurut berangkat ke sekolah meski berat.
Kret
Pintu terbuka mami Atika dan papi Ammar masuk dan meletakan makanan di atas meja.
" Sayang mami bahagia melihatmu sudah bangun" kata mami Atika, memegang tangan menantu.
__ADS_1
" Mami Dyah minta maaf karena Dyah membuat lainnya cemas" kata Dyah, merasa bersalah mami Atika dan papi Ammar menggelengkan kepalanya bertanda tidak apa.
Mami Atika membujuk putranya makan awalnya Azka tidak mau tapi bujukan Dyah Azka memakan makanan yang di bawa mami Atika, setelah sarapan Akbar pamit mau ke perusahaan masih banyak pekerjaan yang di urus apalagi Azka menemani Dyah selama rawat.