
Rumah sakit
Azka dan lainnya sudah tiba di rumah sakit membawa Aquira yang jatuh di tangga, dengan hati-hati Azka menggendong putrinya keluar dari mobil.
" Dokter, dokter" Akbar berteriak memanggil dokter, dokter dan suster berlarian karena yang datang adalah keluarga Alexanders, keluarga yang terkenal di negaranya.
" Dokter tolong cucu saya dia jatuh dari tangga" kata mami Atika dengan lirihnya, Azka tak bisa mengeluarkan suaranya karena kekhawatirannya pada putrinya.
" Suster siapkan ruangan operasi sekarang darahnya banyak yang keluar" kata dokter. " Baik dok" suster berlari dan menyiapkan ruangan operasi.
Dokter memanggil suster untuk bawa brankar dan meminta Azka meletakan Aquira ke atas brankar, suster dan dokter mendorong brankar menuju ruang operasi karena keadaan Aquira yang kritis, Azka dan lainnya mengikuti dokter ke ruang operasi.
" Kalian harus menyelamatkan putri saya jika terjadi sesuatu rumah sakit ini akan saya hancurkan" kata Azka dengan menatap tajam ke arah dokter dan mencengkram kerahnya.
Dokter merasa ketakutan melihat tatapan Azka yang dingin, Akbar berusaha melepaskan tangan Azka dari kerah baju dokter.
" Tuan Azka kami akan berusaha untuk menyelamatkan putri anda" kata dokter, menarik nafasnya dan membetulkan kerahnya.
" Dokter maafkan putra saya, dia sangat mengkhawatirkan putrinya" kata papi Ammar.
Dokter tersenyum. " Saya mengerti tuan Alexanders" kata dokter. Kemudian suster datang kalau operasi sudah siap untuk dilaksanakan.
Ketika dokter masuk Azka menghentikannya. " Dokter tolong selamatkan putri saya" kata Azka dengan memohon, dokter menanggukan kepalanya.
Dokter masuk memulai operasi Aquira di luar Azka dan lainnya menunggu lampu ruang operasi telah dihidupan.
Keluarga dengan perasaan gelisah menunggu di depan ruang operasi, sudah dua jam Aquira menjalani operasi dan belum juga selesai.
" Papi kenapa operasinya lama sekali ini sudah dua jam tapi belum juga selesai, mami takut pi" kata mami Atika, papi Ammar memeluk istrinya agar tenang sebab dia juga mengkhawatirkan keadaan cucu tersayangannya.
" Mami kita doakan saja agar operasinya berjalan lancar dan cucu kita baik saja" kata papi Ammar, mami Atika menanggukan kepalanya.
Azka duduk di kursi dengan tatapan yang kosong menghadap ke pintu operasi siapa pun yang melihatnya pasti merasa kasihan, seorang Azka Abbiya Alexanders CEO perusahaan Alexanders yang terkenal dengan dinginya sekarang tak berdaya di depan pintu ruang operasi.
__ADS_1
Akbar merasa kasihan melihat sahabatnya sudah beberapa hari lembur di perusahaan untuk mengalihkan perhatiannya dari kepergian Dyah dan sekarang Aquira yang mengalami kritis, Akbar sempat berfikir untuk mencari keberadaan Dyah tapi nggk berani takutnya Azka tidak menyetujuinya.
" Tuan, nyonya saya akan membeli kopi dan roti karena kalian belum makan sejak tadi" kata Akbar dengan hormat, papi Ammar menanggukan kepalanya karena juga khawatir pada istri dan putranya.
Akbar menuju kantin rumah sakit membeli kopi, roti dan air mineral, setelah membayar dia kembali ke ruangan operasi.
" Tuan besar ini minumannya dan roti" kata Akbar, papi Ammar mengambil untuknya dan mami Atika.
" Mami ayo minum dulu sejak tadi belum ada cairan yang masuk ke dalam perutmu" kata papi Ammar. " Mami nggak nafsu pi" sahut mami Atika menggelengkan kepalanya, papi Ammar tersenyum meletakan minuman dan roti di sebelahnya.
" Mami ayo makan rotinya sedikit nanti mami jatuh sakit juga siapa yang akan menjaga cucu kita" kata papi Ammar dengan senyuman, mami Atika menatap wajah suaminya dan mengambil rotinya dan memakannya papi Ammar tersenyum.
" Tuan muda" kata Akbar, menyerahkan kopi pada Azka tapi Azka hanya diam saja, Akbar menatap papi Ammar yang menanggukan kepalanya, Akbar meletakan kopi dan roti di samping Azka.
Dalam ruangan operasi.
Tiba saja keadaan Aquira menurun membuat para dokter terkejut.
" Dokter alat vital pasien menurun" kata suster, dokter segera bertindak agar keadaan pasien kembali stabil.
Suster keluar dari ruangan operasi dengan terburu. " Suster apa yang terjadi pada putri saya semuanya baik saja kan? " Azka, berdiri melihat suster keluar dari ruangan segera mendekat.
" Keadaan pasien menurun karena kekurangan darah maaf tuan saya harus mengambil darah dulu" kata suster berlari.
Azka mengusap wajahnya secara kasar dan meninju dinding membuat lainnya terkejut.
" Azka, apa yang kamu perbuat" kata papi Ammar, membalikan tubuh putranya, Azka memeluk papi Ammar dan mengeluarkan kesedihannya.
" Papi ini salahku seharusnya aku lebih mengontrol emosiku, putriku takkan mengalami hal seperti ini" kata Azka dengan lirihnya, papi Ammar menepuk punggung putranya agar tenang.
Suster yang mengambil darah kembali ke ruangan operasi.
" Maaf tuan apakah antara kalian ada yang memiliki darah dorongan A, karena pihak rumah sakit kehabisan darah golongan A" kata suster.
__ADS_1
" Apa kehabisan darah rumah sakit macam apa ini sampai kehabisan stok darah" teriak papi Ammar, mami Atika menenangkan putranya.
" Maaf suster kami tidak memiliki darah golongan A karena kami golongan darah O, Akbar golongan darahmu apa? " papi Ammar.
" Maaf tuan besar golongan darah saya B" dahut Akbar dengan menyesalnya. " ****" Azka mengusap wajahnya secara kasar.
" Kalau begitu kami harap tuan, nyonya mencari darah golongan A kami membutuhkan 3 kantong darah karena pasien mengalami kekurangan darah yang banyak" suster pamit memberitahu hal ini pada dokter.
" Papi, mami kita mencari kemana, Azka tak menyangka kalau Ira memiliki darah yang sama dengan almahum ibunya" kata Azka menundukan kepalanya.
" Akbar hubungi karyawan di perusahaan dan pelayan di rumah siapa tahu ada yang memiliki golongan darah yang sama dengan Ira" kata papi Ammar.
" Baik tuan besar" kata Akbar, menjauh dari ruangan operasi untuk menghubungi sekretaris Azka dan pelayan.
Di kampus.
Selama pembelajaran Dyah terlihat sangat gelisah hingga tak mendengar penjelasan dari dosen dengan fokus, wajah Aquira selalu membayanginya.
Sampai dosen keluar pun Dyah tak menyadarinya Gracya terlihat bingung dengan sahabatnya karena sejak di cafe terlihat murung.
Tin
" Dyah ada pesan di HPmu" kata Gracya, Dyah mengambil HP diatas dan membuka pesan ternyata dari bibi Sumi.
" Dyah bibi baru saja mendapat kabar dari bi Ina kalau nona masuk rumah sakit karena jatuh dari tangga, kabarnya nona membutuhkan darah golongan A"
Pesan dari bibi Sumi membuat Dyah terkejut dan gemetaran.
" Dyah apa yang terjadi? " Gracya. " Grac, aku ke rumah sakit dulu" kata Dyah dengan lirihnya, keluar dari kelas.
" Dyah aku ikut" kata Gracya, ketika meteka keluar dari kelas ada Farel dan lainnya.
" Kalian mau kemana? " Lionel.
__ADS_1
" Kami mau ke" ucapan Gracya terhenti karena Dyah pergi duluan. " Kak aku pamit dulu" sahut Gracya.
" Ayo kita ikuti mereka sepertinya ada masalah" kata Rayyan. Mereka mengikuti Dyah dan Gracya.