
Setelah mengantar Dyah dan Fathan, Azka menuju ke perusahaannya dalam perjalanan dia menghubungi Akbar untuk menunggunya di ruangannya karena ada hal yang penting mau di bicarakan.
Melihat Azka memasuki perusahaan karyawan memberinya hormat asa juga beberapa karyawan membisikan ketampanan bos mereka, Azka memaiki lift menuju ruangannya.
" Apakah Akbar sudah berada dalam ruangan saya? " Azka, pada sekretarisnya.
" Sudah tuan muda, pak Akbar sudah menunggu anda di dalam" kata sekretaris, Azka menanggukan kepalanya.
Azka membuka pintu terlihat Akbar duduk di sofa.
" Duduklah aku ingin bicara sesuatu denganmu" kata Azka, ketika Akbar berdiri.
" Tuan ingin saya mengerjakan apa? "Akbar, mengetahui kalau Azka membicarakan hal serius.
Azka menghela nafasnya." Aku ingin kamu mencari keluarga Dyah baik pihak ayahnya maupun ibunya" kata Azka, Akbar menanggukan kepalanya.
" Saya harus mulai mencarinya kemana tuan muda" kata Akbar.
" Kamu harus mencarinya di tempat tinggal lama Dyah dan kamu bisa bertanya sekitarnya" kata Azka, memberikan alamat kampung Dyah yang diberikan oleh mami Atika ketika Dyah melamar kerja dia menulis alamat kampungnya.
Akbar melihat sebuah alamat di kertas kecil Kampung Melayu kota A no 7 Rt 006 Rw 007.
" Baik tuan saya akan menyelidikinya kalau begitu saya pamit dulu" kata Akbar, keluar dari ruangan Azka.
Azka meminjit keningnya. " Semoga saja tidak ada masalah terdepannya" guman Azka. menuju meja kerjanya. Sekretaris masuk membawakan berkas yang harus diperiksa.
Universitas A
Gracya terus menatap Dyah yang terlihat khawatir sejak dosen masuk sampai pembelajaran berakhir Dyah hanya melamun.
" Dyah ada apa lagi denganmu kemaren k as mu terlihat bahagia tapi sekarang" kata Gracya. Beruntung kelas sudah sepi karena mahasiswa keluar dari kelas ada ke kantinada juga ke tempat lainnya.
" Mas Azka akan melamarku" kata Dyah, menundukan kepalanya.
" Wah bagus dong akhirnya penantian sahabatku ini berakhir juga" kata Gracya, bahagia mendengarnya.
" Tapi kenapa wajahmu ada kesedihan, eh tunggu kamu memanggilnya apa tadi mas waw romantis sekali" sambungnya.
__ADS_1
" Aku bahagia Grac karena perasaanku tak bertepuk sebelah tangan dan dia yang memintaku memanggilnya jangan tuan lagi. Tapi aku takut Grac tentang keluarga dari ibu dan ayah aku tak tahu mereka dimana kata Dyah, bersedih.
Gracya menepuk punggung Dyah. " Memangnya kamu tak pernah bertemu dengan mereka? " Gracya.
Dyah menggelengkan Kepalany. " Ayah dan ibu menikah tanpa restu keluarga mereka dan aku pernah di bawa mereka ke keluarganya saat itu aku berusia lima tahun. Tapi mereka malah menghina orangtuaku dan tak mengakuiku sebagai cucu mereka semenjak itulah kami pindah ke kampung melayu" kata Dyah, menangis.
Gracya menenangkan sahabatnya. " Dyah sebaiknya kamu ceritakan pada tuan muda agar dia bisa mencarikannya siapa sangka mereka sudah berubah" kata Gracya.
Dyah tersenyum menghapus air matanya dan menanggukan kepalanya.
Dyah dan Gracya pergi ke perusahaan Alexanders Group menemui Azka, beruntung mereka hanya memiliki satu mata kuliah hari ini. Dengan menaiki mobil Dyah menuju ke tempat Azka.
Mobil yang dikendarai oleh supir telah tiba di depan perusahaan Alexanders, mereka masih di dalam mobil karena Dyah merasa gugup.
" Dyah aku tahu kamu sedang gelisah tapi masalah ini dia harus tahu Dyah, kalian akan memulai hidup yang baru maka maafkanlah mereka yang menyakitimu waktu itu dan jadikan sebagai masa lalu saja" kata Gracya, Dyah tersenyum
Mereka keluar dari mobil menaiki lift karena karyawan sudah mengenal Dyah.
" Bukanlah itu gadis yang sering le kantor bersama putrinya bos dan sekarang ada urusan apa dia datang bersama temannya" bisik karyawan 1.
" Sudahlah sebaiknya kita melanjutkan pekerjaaan saja nant mereka dengar " kata karyawan 2.
Brak
Gracya tidak sengaja menabrak Akbar keluar dari ruangannya pergi melaksanakan perintah Azka mencari leluarga Dyah.
Adu sakit, Hei kalau jalan itu lihat ke depan" kata Gracya, melihat Akbar fokus dengan HP.
Akbar terus memandang Gracya yang cetewwt tapi lucu baginya.
" Hei jangan diam saja cepat minta maaf sudah salah malah diam saja" kata Gracya, dengan kesalnya, Dyah tersenyum karena Akbar terus menatap sahabatnya.
"Oh maaf saya tidak terburu karena saya ada urusan penting, Dyah beruntung kamu afa disini saya ingin memastikan sesuatu? " Akbar, baru menyadari ada Dyah di depannya.
" Pak Akbar ingin memastikan apa? " Dyah.
" Tuan muda meminta saya untuk mencari keluargamu" kata Akbar.
__ADS_1
Dyah memandang Geacya dan menatap Akbar, kemudian Dyah minta Akbar ikut dengannya ke ruangan Azka mungkin dengan informasi yang dia miliki dapat membantu Akbar.
Azka fokus membaca email yang baru masuk dia mendengar suara pintu terbuka dan tersenyum siapa yang datang.
Azka berdiri dan mencium kening Dyah, Dyah menjadi malu karena ada Gracya dan Akbar.
" Akbar kenapa belum pergi juga? " Azka, bingung melihat Akbar kembali keruangannya.
" Itu mas Dyah meminta pak Akbar untuk masuk karena ada Dyah katakan" kata Dyah. Azka meminta mereka duduk.
" Mas Dyah ingin mengatakan sesuatu mungkin ini bisa membantu pak Akbar mencarinya" kata Dyah, menundukan kepalanya.
Azka mengelus kepala Dyah sambil tersenyum dan menanggukan kepalanya Azka memegang tangan Dyah agar dia tenang, Dyah menghela nafasnya.
" Ibu dan ayah menikah tanpa restu kedua pihak keluarga ibu pernah bercerita kalau orangtua ayah tidak merestui mereka karena orangtua ayah sudah menjodohkannya dengan putri rekan kerjanya, Tapi ayah tidak menyukainya maka ayah mengajak ibu menikah secara diam-diam diam" kata Dyah, menangis.
Azka memeluknya agar Dyah tenang dapat melanjutkan ceritanya.
" Karena perjodohan itu di tolak oleh ayah mereka menghancurkan usaha keluarga ibu dan ketika ayah dan ibu mendatangi mereka. Mereka sangat marah besar bahkan menanggap ibu sebagai anak sial " Dyah, menarik nafasnya.
" Akhirnya ayah membawa ibu ke kampung melayu di kota disana mereka memulai hidup yang baru dan bahagia, saat aku berusia lima tahun ayah dan ibu mengajakku ke keluarga Ayah tapi mereka malah menghina dan tidak mengakuiku sebagai cucu mereka "Dyah menangis dalam pelukan Azka.
Azka menggengam tangannya menahan amarahnya dia sangat emosi mendengar cerita Dyah.
" Dyah, kamu tahu dimana mereka berada? " Akbar, Azka menatapnya tajam untuk apa bertanya seperti itu.
Dyah melepaskan pelukannya dan melihat Azka sedang emosi.
" Mas" kata Dyah, tersenyum memegang tangannya. "Sayang kita tak perlu mencari keberadaan mereka dengan adanya Fathan itu sudah cukup" kata Azka, dia tak ingin Dyah dihina lagi.
Dyah tahu kalau Azka mengkhawatirkannya. " Mas Dyah tahu sedang khawatir tapi sebagai wanita Dyah memerlukah restu mereka, setidakbya kita berusaha dulu" kata Dyah, tersenyum dan menanggukan kepalanya.
Azka membelai rambut Dyah. " Baiklah kita akan mencarinya tapi jika mereka menghinamu aku takkan mengizunkanmu bertemu dengan mereka" kata Azka, Dyah menanggukkan kepalanya.
Drt drt drt.
" Ibu Rt" kata Dyah melihat ada panggilan di HPnya.
__ADS_1
Dyah mengangkat panggilannya tiba saja dia syok dan jatuh pingsan.
" Dyah"