
Sudah dua hari Dyah di rawat di rumah sakit keadaan fisik dan kehamilannya sudah stabil Gracya setiap hari menjenguknya ketika pulang dari kampus, dia menceritakan acara lamarannya di laksanakan minggu depan dan Dyah harus datang Dyah merasa bahagia mendengarnya.
Mami Atika dan papi Ammar akan mengajak Aquira dan Fathan menjenguk Dyah sepulang dari sekolah, Aquira dan Fathan sangat mengkhawatirkannya sampai Aquira nggk mau meninggalkan rumah sakit berbeda dengan Fathan merasa sedih tapi ia tetap tenang.
Selama Azka di rumah sakit urusan kantor di serahkan pada Akbar sekali ia akan ke rumah sakit memberikan berkas untuk di tanda tangani Azka.
Hubungan Azka dan Dyah sudah seperti biasa bahkan Dyah semakin manja pada suaminya seperti saat ini.
" Mas" kata Dyah. " Hmm" Azka sibuk membaca email yang dikirim oleh sekretaris.
Mendengar hanya suara mendehem membuat Dyah sedih mengira kalau suaminya masih marah, Dyah membalikan tubuhnya terdengar suara isak tangis Azka mendengar tangisan ia melihat ke arah istrinya terkejut melihat tubuh Dyah gemetaran.
Azka segera menutup IPAD segera mendekati Dyah.
" Sayang, kenapa menangis?. Apakah ada yang sakit mas akan panggil dokter" kata Azka, dengan khawatir mengelus rambut Dyah.
Dyah membalikan tubuhnya dengan air mata membasahi pipinya ia menggelengkan kepalanya dan memeluk lengan Azka di rambutnya, melihat keadaan istrinya Azka menaiki brankar dan tidur di sampingnya sambil memeluknya beruntung brankarnya besar.
" Dyah kira mas masih marah pada Dyah karena sikap Dyah kemaren, Dyah kesal mas dia beraninya mendekati mas di depan Dyah" kata Dyah, dengan serak.
Azka tersenyum mengelus punggung istrinya yang masih gemetaran setelah sedikit merasa tenang, Azka memegang pipi Dyah sambil senyum.
" Sayang dengar hanya kamu yang mas cintai dan anak-anak dan tidak ada wanita lain yang mas sukai, jadi istri mas ini jangan kesal dan cemburu lagi ternyata kamu cemburu sangat buruk sayang sampai kamu tidak makan seharian" kata Azka, mencubit hidung Dyah dan kembali memeluk istrinya.
" Mas Dyah minta maaf" kata Dyah, dengan membalas pelukan suami.
" Mas tadi sedang apa Dyah panggil hanya jawab hmm" kata Dyah, memajukan bibirnya.
" Mas sedang membaca email sayang, nah sekarang apa yang diinginkan oleh istri mas ini? " Azka.
" Mas Dyah ingin pulang, Dyah dan dedek sudah sehat lagi pula Dyah merindukan suasana rumah" kata Dyah.
" Baiklah jika itu diinginkan oleh istri mas tapi kita tunggu dokter dulu ya, jika kata dokter sudah boleh pulang kita akan pulang" kata Azka, Dyah menanggukan kepalanya Azka turun dan pamit harus kembali memeriksa email.
Universitas.
Para mahasiswa mulai berdatangan ke kampus mengikuti pelajaran hari ini Gracya sudah sampai di kampus dan berada dalam kelas, keadaan kelas masih sepi Gracya melihat ke arah jendela.
__ADS_1
" Seandainya Dyah ada di sini pasti merasa seru" guman Gracya.
Drt drt drt.
" Assalamualaikum " ucap Gracya, tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
" Waalaikumsalam, sayang"
Gracya mengeringit dahinya dan melihat panggilan ternyata dari Akbar.
" Maaf mas Gracya nggk lihat siapa yang menelepon"
Akbar hanya tersenyum. " Sayang nggk apa kamu pasti sedang sibuk, Sayang nanti mas jemput ya kita udah janji di butik A untuk mengambil pakaian untuk lamaran"
Gracya tersenyum dan menanggukan kepalanya seakan Akbar melihatnya.Beberapa hari lalu Gracya dan Akbar pergi ke butik A untuk mengukur pakaian untuk acara lamarannya.
Melihat temannya memasuki kelas Gracya mengakhiri panggilannya dengan Akbar, dosen masuk kelas memulai pelajaran.
Rumah sakit.
Saat Azka dan Dyah mengobrol terdengar suara ketukan pintu.
" Sebentar ya sayang itu pasti dokter" kata Azka, dia memang sengaja mengunci pintu tak ingin terganggu, Dyah tersenyum menanggukan kepalanya.
" Selamat siang tuan, nona saya akan melakukan pemeriksaan " kata Azka, mempersilahkan dokter masuk untuk memeriksa Dyah.
" Nona izinkan saya memeriksa " kata dokter, tersenyum Dyah menanggukan kepalanya.
" Dokter saya sudah boleh pulang kan? " Dyah, saat dokter melakukan pemeriksaan.
" sebaiknya kita tunggu infus habis dan keadaan nona sudah stabil untuk kehamilan nona saya akan panggil dokter kandungan agar pemeriksaannya lebih jelas" kata dokter.
Azka dan Dyah menanggukan kepalanya kemudian dokter pamit harus melakukan pemeriksaan selanjutnya.
Mami Atika dan papi Ammar datang ke rumah sakit menjenguk Dyah sedangkan Aquira dan Fathan tidak ikut karena asyik bermain.
" Mami papi" kata Azka, melihat orangtuanya datang.
__ADS_1
" Sayang gimana keadaanmu? " mamivAtika.
" Alhamdulillah sehat mi, pi. mami Ira dan Fathan? " Dyah.
" Mereka nggk ikut mereka sedang bermain " kata mami Atika, duduk di samping Dyah.
" Azka, apa kata dokter tadi kami melihat dokter keluar dari ruangan ini? " papi Ammar. Azka pun mengatakan apa yang di katakan oleh dokter pada orangtuanya, mami Atika dan papi Ammar merasa senang dengan kabar ini.
Taklama suster datang mengatakan dokter kehamilan sudah datang dan sedang menunggu Dyah, Azka mengambil kursi roda dan mengantar istrinya ke ruang dokter obigyn.
Dokter menyambut mereka mempersilahkan mereka masuk.
" Tuan tolong bantu nona berbaring saya akan memeriksa" kata dokter, Azka membantu Dyah berbaring mami Atika dan papi Ammar menunggu di luar.
Dokter membuka baju Dyah sedikit mengoles gel di perut, dokter melakukan USG.
" Tuan silahkan lihat di layar janin kembar kalian kuat hingga tidak perlu di khawatirkan " kata dokter, Azka dan Dyah tersenyum bahagia karena janin mereka baik saja.
" Sayang papi bahagia karena kalian kuat dan seterusnya sehatlah nak dan beri kekuatan untuk mami" kata Azka, mengelus perut Dyah yang mulai buncit.
Dokter meminta mereka duduk." Tuan saya akan memberikan vitamin dan obat untuk memperkuat kandungan, nona sekali lagi saya tekankan keadaan kandungan anda lemah tolong di perhatikan" kata dokter.
Azka mendengarkan penjelasan dokter Dyah mengelus perutnya ia semakin menyesal aras tindakannya, hanya karena cemburu dia hampir mencelakai anak dalam perutnya untuk kandungannya kuat.
Kemudian Azka pamit ia memeluk istrinya karena ia tahu bahwa istrinya merasa sedih, mami Atika menangakan pada Azka menjadi khawatir melihat Dyah sedih. Azka menjelaskan apa yang di katakan oleh dokter mami Atika memberi pengertian pada Dyah bahwa semuanya baik saja.
Sebelum pulang mereka menembus obat dan vitamin di apotik, kemudian mereka pulang ke kediaman keluarga Alexanders kedatangan mereka di sambut oleh Aquira dan Fathan.
Akbar menuju Universitas A menjemput Gracya untuk ke butik menjemput pakaian untuk lamaran.
" Sayang kita berangkat sekarang" kata Akbar, Gracya menanggukan kepala.Akbar melajukan mobil menuju butik.
Mereka di sambut oleh karyawan butik. " Selamat datang ke butik kami tuan, nona" kata pegawai.
" Kami sudah ada janji dengan bu Sonia" kata Gracya. Sonia merupakan desainer sekaligus pemilik butik.
Pegawai butik mengantar mereka ke ruangan bu Sonia.
__ADS_1
" Tuan, nona silahkan saya sudah menunggu " kata Sonia, meminta pegawainya mengambil pesanan mereka.Setelah memastikan sesuai yang diinginkan Gracya mereka pamit tidak lupa membawa pesanan.
Akbar dan Gracya tak sabar lagi menunggu esok hari.