Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
KISAH TERSEMBUNYI


__ADS_3

"Jadi, apa yang bisa Om bantu?"


Suasana ruang praktek om Rei menjadi sedikit tegang karena Daffin terus menatap om Rei seperti musuhnya, walaupun om Rei sudah bersikap biasa saja dan tetap tersenyum.


"Maaf, Om, mungkin aku akan merepotkan Om kedepannya, tapi -"


"Langsung saja, Dokter Reinhard!" sergah Daffin, membuatku tak bisa melanjutkan ucapanku. "Seperti yang kau tahu, bahwa tuan Kafeel telah kehilangan putrinya beberapa tahun yang lalu. Aku disini ingin meminta bantuanmu untuk melakukan tes DNA terhadap tuan Kafeel dan juga putrinya." jelas Daffin.


"Kau bisa meminta bantuan dokter lain. Kenapa harus aku?" tanya om Rei curiga.


"Karena hanya kau yang bisa mengambil sampel darah tuan Kafeel tanpa menyebabkan kecurigaan." tegas Daffin, kedua tangannya terlipat di dada.


"Itu melanggar kode etik! Aku tidak ingin menodai sumpahku." tolak om Rei tegas. "Apalagi tuan Kafeel adalah ayah mertuamu, Tuan Stevano! Untuk apa kau mencari masalah dengannya?"


"Untuk Maya!" sergah Daffin, membuat om Rei membulatkan matanya dengan sempurna.


Selama beberapa saat, Daffin dan om Rei hanya saling menatap. Seolah berbicara melalui isyarat mata yang tak bisa terbaca olehku.


"Dimana Maya sekarang?" tanya om Rei, setelah kesadarannya kembali.


Daffin tersenyum sinis. "Lakukan apa yang ku minta, maka aku akan membiarkanmu bertemu dengan Maya."


Tunggu dulu! Ada apa ini? Apa maksudnya Daffin menggunakan ibuku untuk memaksa om Rei? Sepertinya masih banyak yang tidak aku ketahui tentang masa lalu ibuku.


"Kau tidak bisa memaksa om Rei, Daffin!" bentakku, karena melihat kebimbangan di mata om Rei.


"Dokter Reinhard! Panggil dia seperti itu." bentak Daffin, tak mau melemah padaku.


Memang apa salahnya? Om Rei sudah seperti ayah bagiku. Rasanya akan aneh jika aku memanggilnya dokter Reinhard.


"Tidak!" tolakku.


"Jangan memaksaku, Nyonya Stevano!" ancam Daffin, rahangnya sudah menegang karena menahan amarah.


"Ayasya, ada apa ini sebenarnya? Apakah Om melewatkan sesuatu? Ada hubungan apa antara kau dan tuan Stevano?" tanya om Rei, wajahnya terlihat kebingungan.


Aku sempat melirik Daffin sebelum menjawab om Rei. Dia terlihat tak bereaksi sedikitpun, tapi aku bisa melihat dari sorot matanya yang menginginkan aku mengatakan yang sebenarnya kepada om Rei.


"Dengan sangat menyesal, aku harus mengakui bahwa Daffin adalah suamiku, Om." ucapku lirih.


Om Rei tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, dahinya bahkan berkerut begitu dalam ketika mencoba mencerna ucapanku.


"Jadi kau adalah wanita yang telah menghancurkan rumah tangga Reena, Ayasya?" tanya om Rei ragu.


Aku menghela nafasku dalam. Ketika aku berniat untuk menjelaskan kepada om Rei, tiba-tiba Daffin mendahuluiku.


"Jaga bicaramu, Dokter Reinhard! Istriku wanita terhormat. Dia tidak pernah merusak rumah tangga siapapun." tegas Daffin.


"Benarkah? Tapi karena masalah itu Maya harus kehilangan segalanya." sinis om Rei, tatapannya padaku mulai berubah.

__ADS_1


Daffin berdecak kesal. "Seharusnya aku membawa Maya ketika berhadapan denganmu."


"Itu lebih baik!" seru om Rei, kemudian berdiri dan menunjuk ke arah pintu. "Silahkan! Pintunya sebelah sana."


***


Aku benar-benar tidak percaya bahwa om Rei mengusirku dan juga Daffin. Dia bahkan tidak berniat mendengarkan penjelasanku.


"Daffin?" lirih ku memanggil Daffin yang sedang sibuk dengan ponselnya.


"Hemm ...."


"Jika om Rei tidak mau membantu, bagaimana jika kita mencari dokter lain saja?" usulku, yang memicu tatapan dingin Daffin.


"Om Rei? Heh! Mesra sekali!" ketus Daffin, di tambah senyuman sinis yang membuatnya semakin menakutkan. "Aku akan memaksanya melakukan apa yang kita inginkan." ucapnya yakin.


"Kau akan mengancam om ... maksudku dokter Reinhard?" tanyaku ragu.


"Jika di perlukan." sergah Daffin seraya berdiri, berniat meninggalkan kursi tunggu.


Setelah om Rei mengusirku dan juga Daffin. Entah mengapa Daffin memutuskan untuk tetap bertahan di rumah sakit.


"Kau mau kemana, Daffin?" Aku menangkap pergelangan tangan Daffin.


Daffin menoleh dan tersenyum tipis. "Kenapa? Kau tidak bisa jauh dariku?"


"Kau terlalu percaya diri!" sungutku dengan bibir mengerucut.


"Jangan bertingkah!" Aku menepis tangan Daffin dengan cukup keras.


Bukannya marah, Daffin justru terkekeh ketika melihat wajahku yang semakin kusut dan juga kesal. "Menggemaskan!"


"Daffin!!!" teriakku, berniat mencubit hidung Daffin.


Tepat ketika aku akan melakukannya, ibu datang bersama Shaka yang berjalan di belakangnya.


"Sayang! Shaka mengatakan jika ada masalah serius terjadi padamu." tanya ibu panik, dia mengamati seluruh tubuhku dengan panik.


"Ada masalah, Bu, tapi bukan tentang kekerasan fisik." jelasku.


"Duduklah, Maya! Kami ingin berbicara denganmu." titah Daffin.


"Katakan ada apa?" tanya ibu setelah lebih tenang.


Daffin menggenggam tangan Maya. "Maaf, Maya, tapi sepertinya kau harus turun tangan sendiri menghadapi dokter Reinhard."


Wajah ibu memucat, seperti seseorang yang baru melihat hantu. Aku jadi semakin penasaran siapa sebenarnya om Rei atau dokter Reinhard ini.


"Apa aku di ijinkan untuk mendengar kisah tentangmu dan om Rei, bu?" tanyaku ragu.

__ADS_1


Kedua alis ibu menukik tajam. "Om Rei?"


"Dokter Reinhard, Bu! Aku sudah mengenalnya sejak lama. Om Rei sering berkunjung ke panti asuhan dan membawakan hadiah untukku." jelasku, di imbuhi senyuman yang memancing senyuman di wajah ibu.


Raut wajah ibu berubah muram. "Ibu akan menemui Rei terlebih dulu. Baru setelah itu Ibu akan menceritakan semuanya padamu."


***


Cukup lama aku dan Daffin menunggu ibu di depan ruang praktek om Rei. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Sesekali aku mengintip melalui kaca yang ada di tengah pintu, tapi aku tidak bisa mendengar apapun.


"Berhentilah menguping, Nyonya Stevano!" tukas Daffin, matanya tetap terfokus pada ponselnya.


"Daffin, kau itu seorang CEO. Kenapa tidak kau buat semuanya menjadi lebih mudah?" lontarku, kemudian duduk di samping Daffin.


"Segala sesuatu harus melalui proses, Nyonya Stevano. Mungkin inilah cara terbaik yang bisa kita lakukan." jelas Daffin, terdengar bijaksana, tapi tidak membantu.


Apa yang dikatakan Daffin memang benar! Seharusnya aku lebih bersabar dan menghargai setiap proses perjuanganku saat ini.


"Nyonya Stevano?" panggil Daffin, membuatku sedikit terperanjak.


"Ada apa?" tanyaku dengan wajah memberengut.


"Aku harus pergi. Ada sedikit masalah yang harus aku selesaikan." ucap Daffin, kemudian mencium keningku. "Jaga dirimu! Jangan lupa untuk menghubungiku." pintanya.


Sebelum aku sempat menjawab, Daffin sudah berjalan setelah memakai kembali jasnya.


"Kenapa dia tergesa-gesa seperti itu?" gumamku.


"Siapa yang tergesa-gesa, Sayang?" Suara ibu mengejutkanku yang tidak menyadari sejak kapan ibu sudah keluar dari ruang praktek om Rei dan berdiri di belakangku bersama om Rei di sampingnya.


"Ah, itu, Daffin, Bu." Aku menunjuk ke arah Daffin pergi tadi.


"Mungkin dia sibuk." ucap ibu, kemudian duduk di sampingku. Di susul om Rei yang memilih untuk duduk di hadapan kami.


"Rei, inilah putriku." Ibu meraih tanganku dan menggenggamnya dengan erat.


Om Rei menatapku sendu. "Pantas saja! Pertama kali aku melihatnya, aku teringat dirimu. Aku pikir mungkin karena aku terlalu merindukanmu."


Ibu menunduk sedih mendengar ucapan om Rei. Astaga!!! Aku semakin penasaran ada apa sebenarnya antara mereka berdua.


"Tolong jawab aku! Sebenarnya ada masalah apa di antara kalian? Kenapa Ibu begitu khawatir ketika mendengar nama om Rei? Dan Om, kenapa kau begitu bahagia ketika bertemu ibuku?" tanyaku, bergantian menatap wajah ibu dan om Rei.


"Aku mencintai ibumu, Ayasya."


Hallo semuanya 🤗


Terima kasih untuk dukungan dan mood boosternya 😍


Jangan lupa di tap jempolnya 👍dan tinggalkan jejak👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini😘

__ADS_1


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2