Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
SATU SAMA


__ADS_3

Aroma kecemburuan itu sama seperti sebuah kain yang terbakar perlahan. Bau hangus menyebar, tapi tanpa kobaran api.


"Kau membiarkan pria lain menyentuhmu, meskipun kau tahu aku tidak menyukainya." ketus Daffin, sorot matanya menatapku dengan tajam.


Amarahnya begitu terasa, tapi entah mengapa aku begitu menikmati kecemburuannya. Tak ada niat sedikitpun di hatiku untuk menjelaskan maksud kedatangan Ersya padanya.


"Dia hanya menyentuh ini." Tanganku terangkat ke atas agar Daffin melihatnya.


Rahang kokoh Daffin menegang, suara gemeretak giginya bahkan sampai bisa ku dengar.


GUBRAK ...


Kursi kebesaran Daffin terjungkal ketika dia berdiri secara tiba-tiba dan mendorong kursinya dengan kuat.


Belum reda rasa terkejutku karena kursi yang terjungkal, Daffin sudah meraih tanganku dan menariknya untuk mengikuti langkahnya menuju ke suatu ruangan.


Sebuah pintu terbuka setelah Daffin menekan kodenya dan menampakkan ruangan yang lebih mirip dengan kamar hotel.


"Masuk!" titah Daffin, tangannya menarik tanganku dengan kasar.


"Daffin! Kau menyakitiku." teriakku, merasakan panas di pergelangan tanganku.


Mungkin inilah puncak kemarahan Daffin, dia seolah tak peduli dengan rasa sakitku dan terus saja menyeretku untuk mengikutinya.


Sekali lagi aku di buat terkejut karena Daffin langsung membawaku ke dalam kamar mandi dan memaksaku untuk berdiri di bawah shower.


Sorot mata Daffin begitu tajam. Bola matanya bergerak naik turun mengamati tubuhku dari atas ke bawah, sedangkan tangannya sibuk membuka jasnya dan menggulung lengan kemejanya.


Tanpa aku sadari, kucuran air hangat menimpa wajahku dan mengaburkan pandanganku hingga aku tidak bisa melihat wajah Daffin dengan jelas.


Bagaimana raut wajah Daffin saat ini? Hatiku terus bertanya-tanya. Dia sedihkah atau bahagiakah, atau mungkin dia masih begitu marah padaku. Entahlah, aku tidak bisa melihatnya karena air terus menerus menimpa wajahku sedangkan kedua tanganku di tahan oleh Daffin sehingga aku tak bisa menyeka airnya.


Aku tersentak ketika Daffin menggosok-gosokkan kedua tanganku dengan sabun seolah ingin menghilangkan kotoran yang membandel. Berulang kali dia melakukannya dan aku hanya terdiam mengikuti keinginannya. Setelah Daffin merasa yakin jika tanganku sudah bersih, dia beralih ke wajahku. Tangannya dengan hati-hati mengusap wajahku dan membersihkan make up yang menempel di wajahku.


"Daffin, kenapa di hapus?" tanyaku bingung, ketika tangan Daffin mengusap kelopak mataku.


Bibir Daffin bungkam. Diam seribu bahasa. Dia membersihkan setiap jengkal wajahku, dan hanya tinggal tersisa lipstik di bibirku.


Tangan Daffin mengulas bibirku dengan lembut, kemudian tanpa di sangka dia menghapus warna di bibirku dengan cara lain dan menyisakan wajah polosku tanpa polesan sedikitpun.

__ADS_1


"Seperti ini baru wanitaku." Mata biru itu memancarkan kepuasaan setelah berhasil melakukan semua yang dia inginkan. "Jangan pernah membuat dirimu terlihat sangat cantik di hadapan pria lain!" pintanya.


Astaga! Bagaimana aku menjelaskan padanya bahwa aku merias diriku secantik ini untuk dirinya? Untuk membahagiakannya.


"Kau bodoh!" sungutku kesal, tak tahan lagi dengan sikap Daffin.


Aku bisa merasakan tangan Daffin di pergelangan tanganku. "Ganti pakaianmu! Aku tidak ingin kau sakit."


Daffin menggantikan aku untuk membuka pintu dan keluar dari kamar mandi.


"Aku sudah sakit, Plankton! Sakit jiwa karena ulahmu!"


***


Percaya atau tidak, aku benar-benar di buat kesal oleh Daffin karena dia menyuruhku memakai pakaian musim dingin seperti ini. Ya, memang bukan pakaian musim dingin sesungguhnya. Dia memintaku memakai kaus turtle neck dengan celana kulot yang kebesaran. Di tambah sebuah cardigan panjang dan juga sebuah topi rajut.


"Aku tidak suka, Daffin!" tolakku, kembali meletakkan topi dan cardigannya di atas tempat tidur.


"Kenapa? Kau lebih suka memakai pakaian terbuka agar banyak pria menatapmu? Hah!" bentak Daffin, rupanya dia masih marah padaku.


"Kau lupa? Pakaian itu kau yang memaksaku untuk memakainya. Dan lagi kau mengatakan untuk tidak memakai pakaian tertutup saat sedang bersamamu. Sebenarnya apa maumu?" keluhku, semakin frustasi dengan sikap Daffin.


"Ya ... ya ... pria mana yang menyukai ikan buntal dengan perut buncit sepertiku?" selorohku seraya melangkah untuk keluar dari ruang istirahat Daffin.


Tiba-tiba tangan Daffin dengan cepat menarik tanganku hingga membuatku jatuh dalam pelukannya. Mata biru itu menatapku dalam ketika aku mendongakkan kepalaku.


"Aku! Aku bahkan tergila-gila padamu, My Starfish." ungkap Daffin, di warnai dengan serangannya di atas bibirku.


Cukup lama bibir kami saling berpagut dan meninggalkan semua keresahan yang sempat tertinggal.


Daffin mencium keningku setelah puas bermain dengan bibirku. "Jangan pernah membuatku merasa takut kehilanganmu!"


Apa? Jadi semua yang dia lakukan karena dia takut aku meninggalkannya, tapi sikapnya sudah seperti aku habis melakukan dosa besar saja.


Mataku memicing menatap Daffin. "Kau cemburu pada kak Ersya?"


Semburat merah membuat wajah Daffin seperti kepiting yang kepanasan. Aku melihat samar-samar dia menganggukkan kepalanya.


Sudut bibirku menarik senyuman. "Kau tahu, kak Ersya datang untuk mendukung hubungan kita. Dia mengatakan bahwa perasaannya kepadaku selama ini hanyalah sebuah obsesi."

__ADS_1


"Kau percaya padanya?" tanya Daffin, kentara betul jika dia masih menaruh curiga pada Ersya.


"Tentu saja! Dia bukan seperti seseorang yang suka di dekati wanita manapun, terlebih mantan istrinya." sindirku.


Rasa terkejutnya membuat tangan Daffin mengendur dan memberiku ruang untuk melepaskan diri. Namun, belum sempat aku melangkah, Daffin sudah kembali memelukku.


"Dengarkan aku! Reena datang untuk meminta bantuanku karena ayahmu sudah mengusirnya." jelas Daffin, dia menumpukkan dagunya di puncak kepalaku.


"Sungguh?" tanyaku memastikan.


"Hemm ...."


"Apa yang dia minta darimu? Rumah? Uang? Perusahaan? Atau mungkin jabatan di sini?" Rentetan pertanyaan meluncur dari mulutku dan menunggu jawaban Daffin.


"Dia memintaku untuk menikahinya kembali," jawab Daffin gamang.


"APA!!!" Bola mataku hampir saja keluar saking terkejutnya.


CUP ...


Satu kecupan di kening sedikitnya menenangkan hatiku. Aku mendongak karena Daffin menangkup kedua pipiku.


"Aku minta maaf karena tak memberitahumu. Sebenarnya dia sudah datang ke kantor sejak pagi dan membuat keributan sehingga aku terpaksa datang untuk menemuinya." ucap Daffin menjelaskan.


"Itu sebabnya kau selalu sibuk dengan ponselmu?" selidikku, berlagak seperti seorang detektif.


Bukannya menjawab, Daffin justru kembali mendaratkan bibirnya di atas bibirku.


"Jadi, kita satu sama!" ucap Daffin, wajahnya di hiasi senyum usil.


Aku mengernyit, tak mengerti maksud Daffin. "Satu sama?"


"Iya, sama-sama sudah berhasil membuat cemburu."


Hallo semuanya 🤗


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI😍


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘

__ADS_1


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2