
Sungguh aku tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagiaku ketika melihat sosok Ersya yang memasuki rumah bersama dengan Rania. Wajahnya terus menyunggingkan senyuman, mengingatkan aku akan sosok kak Erlan yang sangat aku rindukan dan selalu menempati relung hatiku yang paling dalam.
"Kak Ersya! Apa kabar, Kak? Kenapa tidak pernah menghubungiku?" seruku, antusias dengan kedatangan Ersya.
Bukannya menjawab pertanyaanku, Ersya justru menatap tajam ke arah Daffin yang tak bereaksi sedikitpun. Dia seolah tidak peduli akan kedatangan Ersya.
"Kak ...," Aku menarik jemari Ersya dan membuatnya mengerjap sehingga mengalihkan perhatiannya padaku.
"Iya, Ayasya, maaf aku tidak mendengarmu." Ersya menyambut tanganku dengan menggenggamnya.
"Bagaimana kabarmu?" tanyaku, mengulang pertanyaan yang sama.
Ersya tersenyum simpul. "Aku baik, bagaimana denganmu?"
Belum sempat aku menjawab Ersya, tiba-tiba ada suara yang mengalihkan perhatianku.
"Ehem ...."
Aku menoleh ke arah suara dan melihat Daffin sedang berdeham, tapi sikapnya seolah acuh dengan apa yang sedang terjadi.
"Kenapa kau menatapku, Nyonya Stevano?" tanya Daffin bingung hingga sebelah alisnya terangkat.
"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau berdeham?" ketusku, merasa Daffin mengacuhkan aku.
Hatiku ini semakin lama semakin membuatku kesal karena selalu menginginkan Daffin. Sikap posesif dan kecemburuan Daffin seperti menjadi kebiasaan bagiku, jadi saat dia bersikap acuh seperti ini membuatku merasa tak lagi di cintai.
"Aku tersedak masa lalu." Daffin langsung berdiri dan meninggalkan ruang makan.
"Pergi! Pergilah! Kau selalu seperti itu." teriakku, tak terasa air mataku sudah membasahi pipiku.
Ibu yang sedari tadi hanya diam pun mulai terlihat panik. "Ada apa, Sayang?"
Tangan lembut ibu mengusap air mataku dan membelai rambutku untuk memberikan ketenangan.
"Maaf, Ayasya, sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat." lirih Ersya, dia sudah berniat untuk pergi. Namun, aku menahannya.
__ADS_1
"Tidak, Kak! Kau datang di saat yang tepat. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu."
***
"Aku turut berbahagia, Ayasya, aku yakin Erlangga juga pasti bahagia melihatmu sudah menemukan orang tua kandungmu." ucap Ersya tulus di hiasi senyuman hangat di wajahnya setelah aku menceritakan tentang ibu dan tuan Kafeel.
Mataku nyalang mencari sosok kak Erlan dalam ingatan. "Kau benar, Kak! Kak Erlan akan jadi orang yang paling bahagia mendengar hal ini."
Flashback on ...
Isak tangisku masih terdengar memilukan meskipun di tengah keramaian. Bagaimana tidak, minggu depan aku sudah akan menikah dengan kak Erlan, tapi kami masih belum juga menemukan keberadaan orang tua kandungku atau apapun tentang masa laluku.
"Kak ... apa Aca terlahir di luar nikah sehingga tidak ada yang mengetahui kelahiran Aca karena orang tua Aca malu?" lirihku di sela isak tangis.
Tangan kekar kak Erlan meraih kepalaku dan menyandarkannya di dada bidangnya. "Jangan berpikiran seperti itu, Aca! Aku yakin, semua ini hanyalah masalah waktu."
"Sudah waktunya kita menikah, Kak, tapi Aca belum juga menemukan siapa orang tua Aca? Bagaimana asal-usul Aca? Bagaimana jika ... jika ... jika Aca benar-benar terlahir dari wanita malam dan ibu kandung Aca sendiri pun tidak tahu siapa ayah Aca?" cicitku, pikiran buruk tiba-tiba menghinggapi hati dan pikiranku.
Kak Erlan menutup mulutku dengan jari telunjuknya. "Husst! Jangan bicara buruk tentang orang tuamu! Kau tahu, semua orang tua menyayangi anaknya. Bahkan harimau yang ganas sekalipun tidak akan pernah menyakiti anaknya."
"Tapi, Kak, jika mereka menyayangi Aca, kenapa mereka membuang Aca? Memangnya Aca sampah!" keluhku, di barengi deraian air mata yang semakin deras.
Aku berdecak. "Jika hanya di titipkan, kenapa sampai Aca tumbuh dewasa tidak ada yang menjemput Aca?"
Kak Erlan terdiam, mungkin kehabisan akal untuk menjelaskan padaku. Tak lama kemudian terdengar kak Erlan menghela nafas.
"Jika sudah waktunya, meraka akan hadir sendiri ke dalam hidupmu sesuai dengan rencana Tuhan. Dan jika saat itu tiba, aku akan jadi orang pertama yang paling berbahagia."
Flashback off ...
"Sudahlah! Erlangga sudah bahagia bersama dengan kedua putra kalian." Ersya menepuk-nepuk bahuku dengan lembut.
Aku menyeka air mata yang hampir jatuh dari pelupuk mataku. "Terima kasih, Kak, kau membuatku merasa jika kak Erlan masih ada di sisiku."
Ersya tersenyum kecut. "Aku bahagia mengikuti caramu."
__ADS_1
Sejujurnya, aku tidak mengerti maksud ucapan Ersya, tapi aku tetap tersenyum dan berusaha terlihat setegar mungkin di hadapannya.
"Kau bahagia bersama tuan Stevano?" tanya Ersya tiba-tiba.
Manik mataku terfokus pada Ersya yang justru menolak untuk menatapku. Pandangannya lurus ke depan, seolah sedang menatap masa depannya nun jauh disana.
"Kau tahu, Ayasya?" tanyanya lagi sebelum aku sempat menjawab pertanyaannya. "Tante Ratih melarangku untuk datang menemuimu, tapi aku tetap bersikeras untuk datang. Tante mengatakan bahwa kau akan hidup bahagia karena kau mencintai tuan Stevano, tapi aku tidak mempercayainya. Aku memutuskan untuk mengikuti dan mengawasimu, sialnya tuan Stevano menjagamu dengan ketat hingga aku tidak memiliki kesempatan sedikitpun untuk mendekat padamu. Sebenarnya aku memiliki kesempatan saat kau pergi bersama tuan Stevano ke acara ulang tahun CV Group, tapi lagi-lagi aku tidak beruntung karena tuan Stevano menyadari kehadiranku disana dan dia langsung membawamu pulang. Dia memang sangat jeli." Tawa ringan menjadi selingan cerita Ersya. "Kesempatan kedua yang aku miliki adalah saat kita bertemu di pusat perbelanjaan. Aku membuntutimu sejak kalian keluar dari rumah, dan aku sangat senang mengetahui kau keluar dari restoran itu seorang diri. Namun, di saat yang bersamaan aku juga sangat marah pada tuan Stevano. Rasanya aku ingin langsung membawamu pergi menjauh darinya, tapi sekali lagi harapanku hancur saat aku mendengar sendiri perasaanmu terhadap tuan Stevano." lirih Ersya, di akhir ucapannya.
Saking terkejutnya aku dengan penuturan Ersya, aku sampai tidak bisa mengatakan apapun selain membungkam mulutku dengan kedua tanganku.
"Maaf, Kak, aku -"
"Tidak perlu meminta maaf! Awalnya, aku pikir aku mencintaimu, tapi akhir-akhir ini aku baru menyadari bahwa yang aku rasakan padamu bukanlah cinta. Melainkan rasa ingin memiliki karena iri dengan hidup Erlangga yang sempurna." ungkap Ersya, dia membuka kacamatanya yang berembun.
"Kau iri pada kak Erlan, Kak? Kau tahu, hidup kak Erlan tidaklah mudah. Dia harus kehilangan separuh ingatannya agar tidak mengalami depresi yang berkepanjangan." ucapku, hampir tersedak salivaku sendiri karena menahan tangis.
"Iya, Ayasya, aku baru mengetahuinya dari tante Ratih. Aku sungguh menyesal. Sekarang aku mengerti, aku tidak pernah benar-benar mencintaimu. Semua itu hanya obsesiku saja agar bisa menjadi seperti Erlangga." sesal Ersya.
Naluriku membimbing tanganku untuk menggenggam tangan Ersya. "Percayalah, Kak, setiap manusia memiliki hal istimewa dalam dirinya. Dan setiap hati memiliki cinta untuk mengisinya. Begitu juga dirimu, aku yakin kau akan menemukan wanita yang mencintaimu dengan tulus dan mampu mencairkan hatimu."
Akhirnya mata itu mau menatapku dan tersenyum dengan hangatnya. "Terima kasih, Ayasya. Erlangga beruntung sempat memilikimu."
Tiba-tiba tawa menyembul dari bibirku ketika mendengar ucapan Ersya. "Kau salah, Kak!"
"Kenapa?" Kedua alis Ersya menukik tajam.
"Kak Erlan justru sangat tersiksa karena hidup bersamaku selama bertahun-tahun, di tambah lagi harus menghadapiku selama satu hari penuh setelah kami menikah. Dan ya, akulah yang beruntung karena sempat memilikinya." tuturku seraya terus tersenyum karena mengingat kehangatan kak Erlan.
"Kalian beruntung!" lontar Ersya, dia menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Semoga aku juga bisa memiliki kisahku sendiri." harapnya.
"Semoga ...."
Hallo semuanya 🤗
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI 😍
__ADS_1
Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh