Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
PILIHAN HATI


__ADS_3

Deburan ombak saling bersahutan seolah tengah bersorak atas berdamainya hatiku dengan rasa sakit yang selama ini menyiksaku.


"Jadi, apa keputusanmu?" tanya Daffin, tangannya masih menggenggam tanganku dengan erat.


Saat ini, kami sedang duduk di bibir pantai untuk menunggu matahari terbenam. Suasana seperti ini selalu menjadi pelipur bagi laraku, baik dulu ataupun sekarang. Daffin beruntung, dia membawaku kesini sebelum menjelaskan semuanya sehingga aku bisa dengan mudah menerima penjelasannya dan juga mau memaafkan semua kesalahan serta kesalahpahaman di antara kami berdua selama ini.


Flashback on ...


"Daffin, sejak kapan kau tahu?" tanyaku lirih, dalam pelukan Daffin.


"Bahwa kau Lily?" tanya Daffin kembali dan mendapatkan anggukan kepala dariku.


"Sejak kau tiba-tiba pergi setelah penyatuan kita malam itu." Satu kecupan mendarat di puncak kepalaku.


Bayangan akan malam yang selalu ku sesali kembali berputar di dalam ingatanku layaknya sebuah film hingga membuat wajahnya rasanya terbakar oleh rasa malu.


Aku mencoba untuk melepaskan pelukan Daffin, tapi tangan besarnya tak mau bergerak sedikitpun. Akhirnya aku hanya bisa mendongakkan kepalaku untuk menatap Daffin.


"Jika kau sudah tahu, kenapa kau tidak mengatakannya padaku? Kau bahkan membiarkan aku pergi dan tidak langsung menjemputku?" tanyaku penasaran.


Mata biru itu menatapku lekat. Tak lama kemudian, aku kembali merasakan kehangatan di bibirku. Bedanya, kali ini serangan itu hanya sesaat dan tak sampai membuatku kehabisan nafas.


"Karena aku tahu, jika aku menghentikanmu saat itu kau pasti akan mengamuk dan melakukan hal yang lebih konyol lagi. Saat itu, aku hanya berpikir bahwa mungkin sesuatu telah mengganggu pikiranmu hingga kau tiba-tiba kembali ke rumahmu." jelas Daffin, matanya masih terfokus ke bibirku.


Dasar Plankton mesum!


Dahiku berkerut dalam. "Itu artinya, kau masih belum mengetahui tentang Lily?"


"That's right, My Starfish! Aku sempat melihatmu hampir menabrak pengawalku. Jadi, aku meminta mereka semua untuk memberi jalan padamu, tapi aku meminta Shaka untuk mengikutimu. Dan, saat dia mengatakan bahwa kau pergi menemui Erlangga palsu itu ...."


"Kenapa?"


Daffin menghela nafas, seolah ada beban berat di hatinya. "Aku sangat marah. Hatiku seperti terbakar karena kau lebih memilih pria itu daripada aku hingga aku memutuskan untuk melepaskanmu saat itu, tapi Rania datang dan memberikan aku dokumen rumahmu serta buku Lily yang kau bawa lari. Jujur, aku sangat marah karena aku pikir kau tidak pernah memahami cinta yang coba aku tunjukkan padamu. Tapi begitu aku melihat buku Lily dan melihat salah satu potret hilang, aku mulai menyadari sebuah kejanggalan."

__ADS_1


"Apa yang kau pikirkan saat itu?" tanyaku, masih menginginkan penjelasan Daffin.


"Awalnya aku berpikir bahwa mungkin kau cemburu pada Lily." Daffin mengedipkan sebelah matanya untuk menggodaku. "Tapi setelah aku merangkai semua kejadian dan pertanyaanmu tentang kode ruang bacaku ... aku baru ingat bahwa tanggal itu sama dengan ulang tahunmu, tapi aku juga belum bisa memastikannya karena aku tidak memiliki petunjuk lain." jelas Daffin.


Pikiranku berputar dan masih belum memahami ucapan Daffin. "Lalu, bagaimana kau tahu bahwa aku Lily?"


"Aku pergi ke rumahmu dan menemukan beberapa potret saat kau masih kecil. Dan, saat kau menjadi pengantinnya Erlangga ...," tutur Daffin lesu.


"Kenapa? Aku begitu cantik dan membuatmu terpesona bukan?" selorohku di iringi tawa renyah.


Aku bisa mendengar Daffin berdecak kesal. "Aku hanya menyesal karena kau belum sempat menjadi pengantiku, tapi kau sudah pergi menemui si Erlangga palsu! Tapi aku terkejut menyadari bahwa wajahmu begitu mirip dengan Maya. Aku bahkan membandingkan potret kalian berdua. Disana, aku mulai memikirkan kemungkinan bahwa kau Lily."


"Hemm ...."


Bukannya aku tidak senang ataupun marah dengan penjelasan Daffin, tapi aku tiba-tiba kesal saat Daffin mengatakan bahwa wajahku begitu mirip dengan wanita jahat itu.


"Aku juga mendapat kabar dari Shaka bahwa kau pergi seorang diri menuju kampung halamannya Erlangga. Awalnya, aku berpikir untuk menyusulmu, tapi Maya tiba-tiba menghubungiku karena dia dalam masalah besar." terang Daffin.


"Benar! Masalah disana begitu rumit hingga aku tidak bisa menyusul ataupun menjemputmu lebih awal. Maafkan aku!" lirih Daffin penuh penyesalan.


"Ya, Maya mu itu memang jauh lebih penting dari apapun!" sergahku, tak ingin menunjukkan betapa kecewanya aku pada pilihan Daffin.


"Tidak, My Starfish! Saat itu, aku hanya berpikir bahwa Maya hanya memiliki diriku di dunia ini, sedangkan kau masih memiliki keluarga Erlangga yang begitu menyayangimu." sanggah Daffin.


Aku mencebik. "Kau tidak tahu, Daffin, tante Ratih sangat marah padaku ketika dia tahu bahwa aku sudah menikah lagi dan bahkan kehilangan anak-anakku. Semua itu ulah -"


"Reena!" sela Daffin, seketika dia melepaskan pelukannya dan berlutut di hadapanku. "Maafkan aku atas semua luka dan rasa sakit yang kau derita karena diriku! Tapi maukah kau memulai hidupmu yang baru bersamaku?" tanya Daffin penuh cinta, dia meraih tanganku dan menggenggamnya.


"Aku tidak yakin, Daffin, terlalu banyak coretan di dalam cerita kita. Lagi pula, aku tidak ingin kau mencintaiku sebagai Lily!" lontarku, seraya menarik tanganku kembali.


"Tidak, Nyonya Stevano! Aku sudah mencintaimu, jauh sebelum aku tahu bahwa kau Lily." ungkap Daffin.


Mata biru itu memperlihatkan ketulusan dan juga kasih sayang yang begitu dalam. Jujur saja, aku pun merasakan sesuatu yang aneh di hatiku setiap kali berhadapan dengan Daffin. Dan anehnya lagi, kali ini aku tidak mual ketika melihat wajahnya.

__ADS_1


"Lily ... Sorry! I mean, Ayasya Daffin Stevano, will you marry me?" tanya Daffin tiba-tiba, membuatku tersentak dan tak tahu harus berkata apa.


"Bukankah kau sudah menikahiku dengan paksa? Kenapa sekarang kau melamarku seperti orang bodoh?" sungutku.


"Astaga!!!" keluh Daffin, dia menggaruk-garuk tengkuknya. "Tidak bisakah kau bersikap sedikit romantis?" tanyanya.


"Bisa! Hanya pada pria yang aku cintai dan mencintaiku dengan sepenuh hati." hardikku.


"Aku sudah mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Dan aku hanya perlu membuatmu membalas cintaku." ucap Daffin yakin, tubuh tinggi besar bak raksasa itu kini sudah kembali berdiri di hadapanku. "Ayo, kita mulai hidup yang baru dengan kisah yang baru!"


"Tidak bisa, Daffin! Aku harus menyelesaikan penggalan masa laluku yang tertinggal." lirihku, menatap nanar jauh ke depan.


Daffin memegangi kedua bahuku. "Aku memang tidak tahu kenapa Maya menitipkanmu ke panti asuhan, tapi aku yakin Maya memiliki alasan yang tepat di balik tindakannya itu."


Tatapanku kini terfokus pada Daffin. "Kau juga tahu bahwa dia sengaja membuangku?"


"Tidak, My Starfish! Maya tidak membuangmu. Dia hanya ingin melindungimu, dan aku juga baru tahu saat aku menjemputnya di rumah keluarga Kafeel. Maya mengatakan bahwa putrinya masih hidup pada tuan Kafeel, tapi sayangnya dia tidak mempercayai Maya dan mengatakan bahwa Maya hanya membual agar dia tidak di usir dari rumah itu. Jika kau ingin tahu kebenarannya, kau lebih baik bertanya langsung kepada Maya. Setelah itu, kau bisa memutuskan untuk menerimanya ataupun membencinya. Aku tidak akan ikut campur."


Flashback off ...


Matahari mulai terbenam dan menyisakan warna jingga yang indah dan menenangkan hatiku. Bersamaan dengan itu, aku menoleh dan melihat Daffin yang masih setia di sampingku.


"Daffin?"


"Iya, Nyonya Stevano,"


"Aku ingin pulang dan mendengar kisah Lily."


Hallo semuanya 🤗


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇 sertakan votenya juga 'ya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2