
Kehamilan terkadang menjadi alasan semakin eratnya hubungan antara suami dan istri karena akan hadirnya buah cinta mereka, tapi hal itu tidak terjadi padaku dan juga Daffin. Semakin lama, aku semakin mual setiap kali melihat wajahnya. Aku bahkan mulai tidak menyukai suaranya.
"Diam!!!" Aku melemparkan sebuah bantal yang sebelumnya ada di pangkuanku ketika Daffin baru saja kembali dari kantor.
"Apa salahku? Aku hanya bertanya apa kau sudah makan," lirih Daffin.
Setiap harinya, dia hanya akan menjadi sasaran kemarahanku. Dan anehnya, Daffin hanya diam dan menerima semua perlakuanku padanya.
"Aku tidak tahu! Aku hanya tidak suka melihatmu, mendengarmu dan segalanya tentangmu!" sungutku seraya meninggalkan Daffin.
Ketika aku mencapai anak tangga teratas, aku sempat menoleh dan melihat Daffin sedang mengacak-acak rambutnya. Terlihat bahwa dia begitu frustasi menghadapiku.
"Maaf, Daffin," lirihku dengan airmata yang beruraian.
***
Pagi berikutnya, kepalaku terasa sangat berat hingga aku tidak bisa membuka mataku. Dengan mata yang sedikit terbuka, aku mencoba mencari ponselku untuk menghubungi Daffin.
"Apa kau merindukanku, Nyonya Stevano?" seloroh Daffin di seberang panggilan.
Aneh! Kali ini, ketika mendengar suaranya aku justru merasa lebih baik.
"Aku lapar, tapi aku tidak bisa bangun dari tempat tidur." rengekku.
Percayalah! Aku sungguh tidak ingin merengek seperti itu, tapi kenapa aku bisa melakukannya?
"Baiklah, kau tunggu saja! Aku akan meminta pelayan membawakan makanan untukmu."
Setelah mengatakan itu, Daffin memutuskan panggilannya tanpa menunggu jawaban dariku. Ada terselip rasa kecewa di hatiku ketika Daffin mengatakan bahwa dia hanya akan meminta pelayan untuk mengantarkan makanan padaku.
Tak lama kemudian, aku mendengar suara ketukan pintu yang aku pikir adalah pelayan yang membawakan makanan.
"Masuk!" teriakku dari balik selimut.
Suara pintu terbuka membuatku menyingkap selimut dan melihat sosok Daffin yang sedang membawa nampan berisi makanan.
"Morning, My Starfish," sapa Daffin lembut.
Dia meletakkan nampan itu di atas nakas, kemudian berjalan memutar untuk membuka tirai. Namun, begitu tirai terbuka dan menampakkan cahaya matahari yang begitu cerah, aku langsung menutupi kembali wajahku dengan selimut.
"Ayo, bangun, Nyonya Stevano!" Daffin menarik selimut yang menutupi seluruh tubuhku.
"Tutup dulu tirainya!" teriakku.
"Hei, apa kau vampire?" canda Daffin, dia masih mencoba untuk menarik selimutku.
"Daffin, aku tidak bisa membuka mataku." Mataku benar-benar tidak mau terbuka walaupun aku hanya mengintip dari balik selimut.
Tubuh besar Daffin menghalangi cahaya matahari yang akan menimpa wajahku hingga perlahan aku bisa membuka mataku.
__ADS_1
Begitu mataku terbuka, aku tidak bisa melihat wajah Daffin dengan jelas.
"Astaga!!! Apa aku buta? Kenapa aku tidak bisa melihat wajahmu dengan jelas?" tanyaku panik seraya terus mengucek kedua mataku dengan tangan.
Tangan besar Daffin menangkap tanganku. "Jangan melakukan itu! Kau bisa merusak matamu."
"Tapi aku tidak bisa melihat wajahmu dengan jelas, Plankton!" sungutku.
"Itu karena aku membelakangi cahaya matahari. Bukan karena matamu yang bermasalah! Dasar bintang laut! Tubuhmu saja yang gendut, tapi otakmu kecil." ejek Daffin dengan kekehan yang menyakiti telingaku.
"Aku gendut karena ulahmu, Plankton!" ketusku, kemudian mencoba berdiri.
"Kau mau kemana? Diam disini, dan habiskan makananmu!" titah Daffin, tangannya menekan kedua bahuku.
Dalam sekejap, nampan berisi makanan yang sebelumnya di bawa Daffin sudah berada di pangkuanku.
"Makanlah! Aku akan pergi," ucap Daffin lembut.
"Kau mau kemana?" tanyaku, masih belum bisa melihat wajah Daffin karena dia sepertinya sengaja menyembunyikan wajahnya dariku.
"Aku tidak ingin kau memuntahkan makananmu lagi. Jadi, aku akan pergi ke kantor sekarang!" jawab Daffin, tanpa berbalik menatapku. Namun, begitu dia sampai di ambang pintu langkah kakinya terhenti. "Makanlah pelan-pelan! Jangan sampai tersedak!" ucapnya.
Setelah kepergian Daffin, hatiku seperti kehilangan sesuatu. Dadaku juga terasa berdenyut dan sesak.
"Apa ini? Perasaan apa ini?" tanyaku seraya mencengkram bajuku.
***
Aku berjalan ke dapur dan melihat Maya sedang membuat sesuatu disana. Dia begitu lincah menggunakan semua alat-alat dapur. Tangannya begitu cekatan meracik semua bahan yang ada.
"Ayasya?" panggil Maya, begitu dia menyadari kehadiranku. "Kau tidak perlu membantuku," lontar Maya.
Aku berdecak. "Aku memang tidak berniat membantumu! Lagi pula, aku tidak bisa dan tidak tahu caranya memasak."
Maya menatapku keheranan, lalu segera mencuci tangannya sebelum menghampiriku.
"Kau tidak bisa memasak?" tanya Maya, yang ku jawab dengan gelengan kepala. "Bagaimana mungkin? Kau besar di panti asuhan, harusnya kau tumbuh menjadi wanita yang mandiri." sambungnya.
Dahiku berkerut cukup dalam. "Bagaimana kau tahu, jika aku di besarkan di panti asuhan?"
Maya terlihat gugup. "Aku ... Daffin yang memberi tahu padaku."
"Oh, perlu kau tahu! Aku memang di besarkan di panti asuhan, tapi aku di perlakukan dengan sangat baik. Mereka semua menyayangiku dengan sangat tulus. Tidak seperti ibu kandungku sendiri yang telah membuangku!" Emosi mulai menguasai pikiranku.
Cairan bening keluar dari mata indah Maya dan dengan cepat dia menyekanya. "Baguslah, itu artinya ibumu tidak salah mengambil keputusan."
Ucapan Maya mengandung makna yang begitu mendalam karena aku merasakan Maya mengatakan hal itu dengan sepenuh hatinya.
"Maya?"
__ADS_1
"Tunggu saja, Ayasya! Setelah semuanya siap, aku akan membawakannya untukmu." pinta Maya, aku tidak bisa melihat wajahnya karena dia membelakangiku.
"Aku tidak lapar, Maya! Sebenarnya, aku ingin bertanya padamu. Apakah kau tahu dimana alamat CV Group? Aku ingin pergi kesana," tanyaku, berharap Maya akan memberikan jawaban yang aku inginkan.
"Untuk apa kau kesana, Ayasya?" Maya balik bertanya dengan nada curiga.
"Aku ingin bertemu Davin," jawabku antusias.
"Daffin? Tapi Daffin ada di DS Corp bukan di CV Group." hardik Maya.
"Maksudku, aku ingin bertemu tuan Davino temannya Shaka." jelasku.
"Ah, iya, aku baru ingat! Aku tidak tahu alamat CV Group, tapi kau bisa meminta Shaka untuk mengantarmu."
***
Beberapa menit kemudian, aku mendengar sebuah mobil memasuki halaman rumah dan aku pun segera berlari keluar.
"Ayo, Shaka!" seruku pada Shaka yang baru saja keluar dari mobil.
"Anda mau kemana, Nyonya muda?" tanya Shaka bingung, tapi dia terlihat salah tingkah setelahnya. "Maksud saya, Anda mau kemana, Nyonya?" ralatnya.
"Aku ingin menemui Davin!" tegasku.
"Aku disini, Nyonya Stevano." Suara Daffin terdengar bersamaan dengan pintu mobil yang terbuka.
Aku mendengus kesal. "Aku bukan ingin menemuimu, Plankton! Tapi aku ingin menemui tuan Davino temannya Shaka!"
Mata biru Daffin menatap tajam ke arah Shaka yang langsung tertunduk ketika pandangan mereka bertemu.
"Siapa dia?" tanya Daffin kesal.
"Dia temannya Shaka! Wajahnya sangat tampan dan aku ingin sekali menyentuh wajah bersinarnya itu agar anakku nanti mirip dengannya." celotehku, tak memperdulikan tatapan kesal Daffin padaku.
"Dia anakku. Aku tidak mengizinkan wajah siapa pun ada di wajah anakku." hardik Daffin.
"Terserah kau saja!" Aku melangkah melewati Daffin dan masuk ke dalam mobil. "Ayo, Shaka!"
"Hei, kau mau kemana?" tanya Daffin, tangannya mencoba untuk membuka pintu mobil yang sudah aku kunci.
"Sudah ku katakan, aku ingin menemui Davin!" jawabku seraya mencebik.
"Tidak cukupkah satu Daffin untukmu?"
Hallo semuanya π€
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
I β€ U readers kesayangan kuhh
__ADS_1