
"Hahahaha ...."
Keceriaan penuh canda tawa mengisi suasana dapur siang ini. Awalnya aku dan ibu berencana untuk keluar rumah, tapi ayah menghubungi ibu dan meminta maaf karena ada beberapa hal yang harus dia kerjakan sehingga terpaksa harus membatalkan janjinya dengan ibu.
"Kenapa kau terlihat begitu bahagia, Sayang?" tanya ibu seraya menyelipkan surai rambutku yang tak terikat ke telinga.
"Aku senang bisa belajar memasak, Bu. Aku pikir memasak itu sesuatu yang menyeramkan, ternyata memasak itu suatu hal yang sangat menyenangkan." Aku tersenyum sambil terus mengaduk adonan kue di atas meja.
Bibir ibu mengulas senyum tipis. "Apa kau tidak pernah memasak sebelumnya, Sayang?"
Aku menggeleng cepat. "Tidak pernah! Kak Erlan selalu membawaku bermain setiap kali nenek memintaku ke dapur." Tawaku kembali menyembur mengingat hal itu. "Sampai akhirnya nenek pun menyerah dan membiarkan aku tumbuh tanpa bisa memasak." sambungku.
Wajah ibu terlihat bahagia, tapi sorot matanya menyiratkan kesedihan. Hal itu begitu membuatku penasaran hingga memaksaku untuk bertanya.
"Ada apa, Bu? Ibu terlihat gelisah," tanyaku seraya menatap mata ibu yang mulai berkaca-kaca.
Tangan hangat ibu mengusap pipiku dengan lembut. "Ibu bahagia, Sayang, ternyata selama ini kau hidup dengan baik. Keluarga nenek Kencana pasti sangat menyayangimu."
"Ibu benar sekali! Nenek dan kak Erlan begitu memanjakan aku. Mereka selalu menuruti semua keinginanku, hanya tante Ratih yang suka memarahiku. Apalagi jika aku tidak mau membantunya dan saat aku kabur dari sekolah." Bayangan wajah tante Ratih yang sedang marah membuatku bergidik ngeri. "Tapi aku tahu, tante Ratih juga menyayangiku, Bu."
"Iya, Sayang, Ibu tahu. Ibu bisa melihat kau tumbuh menjadi anak yang berani dan percaya diri." Tangan ibu berpindah untuk membelai rambutku.
Meskipun ibu tersenyum, tapi entah mengapa aku merasakan ada sesuatu yang menyakiti hati ibu. Aku hanya berharap ibu akan memberitahu padaku jika ada hal yang mengganggu pikirannya.
"Ibu boleh bertanya?" tanya ibu, yang langsung mengembalikan kesadaranku.
"Tentu, Bu!" jawabku pasti.
Ibu menghela nafasnya cukup dalam. "Apa kau mencintai Daffin, Sayang?"
Jika ibu menanyakan hal itu ketika aku baru saja menikah dengan Daffin, aku pasti akan menjawab tidak. Namun, saat ini hatiku telah berubah. Aku sudah menerima Daffin sebagai suamiku.
"Aku sedang mencobanya, Bu," jawabku ambigu, terlalu malu untuk mengakui.
"Baguslah! Daffin pria yang baik, Sayang. Dia sudah cukup menderita menahan perasaannya selama ini hanya demi Ibu," tutur ibu, bibirnya bergetar menahan tangis.
Dahiku mengernyit karena ucapan ibu. "Maksudnya, Bu?"
Ibu mengambil alih adonan kue yang sebelumnya ku aduk. Tangan ibu begitu tangkas mengaduk dan mencetak kue ke dalam loyang.
"Daffin tidak pernah mencintai Reena." ucap ibu, tangannya sibuk memasukkan kue ke dalam oven. "Ibu tahu semua itu di lakukan Daffin agar Anna tidak menyakiti Ibu. Dan sungguh, Sayang, itu sangat membebani hati Ibu. Maka saat Ibu pertama kali melihatmu, Ibu yakin bahwa Daffin mencintaimu. Ibu memintanya untuk memperjuangkan cintanya padamu dan dia melakukannya." tuturnya.
"Aku tidak mengerti satu hal, Bu, kenapa Daffin begitu menyayangimu?" tanyaku.
"Mungkin karena dia menganggapku seperti ibunya sendiri. Karena sejak kepergian ibunya, Daffin lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluarga kita. Ibu juga sudah menganggap Daffin seperti putra Ibu sendiri." jelas ibu, pandangannya menerawang entah kemana.
Bola mataku terus bergerak ke kiri dan ke kanan, seirama dengan gerakan bibirku. "Lalu, kenapa Daffin tidak memanggilmu dengan sebutan Ibu? Apa karena dia keturunan orang asing, Bu?"
__ADS_1
Ibu tersenyum hangat. "Karena Ibu yang memintanya. Ibu tidak ingin ada yang memanggilku ibu, selain putriku sendiri."
Astaga!!! Mataku mulai terasa panas. Dan tanpa terasa air mataku mulai menetes membasahi pipiku. Ternyata ibuku begitu menyayangi aku. Apa yang di katakan kak Erlan memang benar, bahwa setiap ibu adalah seorang malaikat.
***
Menjelang sore hari, aku dan ibu telah menyelesaikan acara memasak bersama. Lebih tepatnya acara memasak ibu karena tugasku hanyalah mengaduk adonan dan hal-hal ringan lainnya.
"Kau sudah siap, Sayang?" tanya ibu, ketika aku menuruni tangga.
Aku baru saja selesai membersihkan diriku serta mempersiapkan diriku secantik mungkin. Untuk siapa? Untuk suami Planktonku tentunya.
"Sudah, Bu," jawabku dengan mengulas senyum tipis, lalu memutar tubuhku. "Bagaimana menurut Ibu dengan gaun ini?"
"Cantik. Tapi kenapa kau memakai gaun hitam, Sayang?" tanya ibu dengan dahi yang mengerut.
Pandanganku turun untuk melihat gaun yang melekat di tubuhku. "Kenapa, Bu? Aku suka gaun ini. Dan entah mengapa, warna hitam menarik perhatianku."
Ibu tidak menjawab. Tangannya hanya membelai rambutku yang terurai. Membuatku menyadari betapa beruntungnya diriku memiliki ibu seperti dirinya.
"Kenapa Daffin belum pulang, Bu?" Aku mengamati sekeliling dimana belum ada tanda-tanda kepulangan Daffin.
"Mungkin Daffin sedang sibuk, tapi bukankah itu bagus? Anak Ibu yang cantik ini jadi memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan hati," jawab ibu, kedua alisnya naik turun seolah memberi isyarat.
Benar juga, sepertinya aku harus latihan lagi di depan cermin agar tidak gugup ketika berhadapan dengan Daffin nanti.
"Katakan bahwa kau juga mencintainya, Sayang, Ibu yakin itulah yang sangat di inginkan Daffin."
Dan inilah keputusanku, aku akan mengutarakan perasaanku kepada pria yang sebelumnya sangat aku benci. Pria yang selalu membuatku marah dan menangis, tapi pria itu juga yang membuatku bahagia hari ini. Pria yang juga menjadi jalan bagiku untuk mendapatkan kembali identitas dan juga hidupku.
Sudut bibirku menarik senyuman selebar mungkin. "Baiklah, Bu! Aku akan kembali ke kamar. Tolong beritahu aku ketika Daffin sudah kembali!"
Tanpa menunggu jawaban ibu, aku bergegas kembali ke kamar dan memasuki walk in closet. Di setiap sudut ruangan ini, entah mengapa hari ini rasanya ada aroma tubuh Daffin dimana-mana. Aku merasa dia sedang bersamaku saat ini, menggodaku seperti biasanya.
Kedua tanganku menutupi wajahku yang memerah karena teringat hal-hal panas yang pernah aku lakukan bersama Daffin.
"Ya Tuhan, apakah begini rasanya jatuh cinta? Aku merasa seperti orang bodoh." Aku mematut diriku di cermin. "Lihat tubuhku! Aku semakin gemuk dan sebentar lagi aku akan menjadi seorang ibu. Rasanya memalukan jika aku bertingkah seperti seorang remaja yang sedang kasmaran." ocehku.
Ingatan akan sikap lembut dan kesabaran Daffin serta semua kegilaannya semakin mengundang semburat merah di wajahku. Lelah tersenyum dan berkhayal, aku memilih duduk di sofa yang berada tepat di bawah jendela.
Aku menaikkan kakiku ke sofa dan meluruskannya lalu mengusap perutku yang sudah membesar. "Kau tahu? Ayahmu itu, ah tidak! Dia tidak cocok di panggil ayah. Daddy! Ya, daddy! Daddymu itu sangat menyebalkan."
Ada gerakan halus di perutku yang membuatku semakin semangat untuk bercerita.
"Kau mendengarkan aku? Baguslah! Kau harus menjadi pendengar yang baik karena aku sangat suka bicara." Tawa ringan lepas dari bibirku. "Tapi kau juga harus pintar seperti daddymu karena tanggung jawabmu nanti akan lebih besar darinya. DS Corp dan perusahaan Kafeel sudah menunggu tangan dinginmu, Plankton kecil."
Lagi, gerakan itu semakin kuat sehingga aku sedikit tersentak dan langsung mengusap perutku untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Hahaha ... sepertinya kau tidak suka karena aku menyebutmu Plankton kecil. Baiklah, Tuan muda, maafkanlah aku! Kau tahu aku siapa? Aku ibumu. Hemm ... tapi jangan panggil aku ibu! Mommy! Ok?" ocehku, tak peduli jika aku sebenarnya hanya sendirian di ruangan ini.
Kali ini tidak gerakan. Mungkin dia setuju, pikirku. Lelah mengoceh, aku memilih menatap ke luar jendela dengan tangan yang menumpu daguku.
"Daffin, cepatlah kembali atau aku akan lupa apa yang ingin aku katakan padamu."
***
"Nyonya Stevano ...."
Suara yang sangat aku kenal, memaksaku untuk membuka mata dan melihat sosok Daffin sudah berada di ambang pintu.
"Daffin?" Aku mengucek mataku karena pandanganku yang sedikit buram.
Entah sudah berapa lama aku tertidur. Rasa lelah dan kesendirian membuatku terlelap dengan posisi yang sama sesaat sebelum aku memejamkan mataku.
Aku melihat Daffin tersenyum dan melambaikan tangannya padaku lalu berbalik untuk meninggalkan aku.
"Daffin! Hei, kau mau kemana?" teriakku, bergegas menyusul Daffin.
Langkah kaki Daffin sedikit melambat, dia menoleh padaku dengan tatapan yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
"Jangan mengikutiku, Nyonya Stevano! Tetaplah disini!" pintanya, tapi tetap berjalan menjauhiku.
Dahiku mengernyit ketika menyadari ada yang aneh dengan wajah Daffin. Dia pucat! Benar, wajahnya sangat pucat.
"Daffin, kau sakit?" tanyaku, seraya terus berjalan untuk menahan Daffin.
Aku berhasil menyusulnya dan meraih tangan Daffin. Dingin! Tangannya sangat dingin, sedingin es.
"Daffin, lihat aku! Kau sakit?" tanyaku lagi, sedikit menarik tangan Daffin agar mau menatapku.
Perlahan Daffin memutar tubuhnya. Namun, apa yang aku lihat sungguh tidak pernah aku bayangkan. Tubuh Daffin bersimbah darah hingga kemejanya berubah warna menjadi semerah darah.
"Tidak! Tidak!" Tanganku lemas dan dengan sendirinya melepaskan tangan Daffin.
Kakiku melangkah mundur menjauhi Daffin yang diam seperti patung. Dia hanya menatapku dengan senyuman yang menakutkan hingga bayangannya menghilang bersamaan dengan jatuhnya tubuhku ke lantai.
"DAFFIN!!!"
Hallo semuanya π€
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI π
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
I β€ U readers kesayangan kuhh
__ADS_1