
Kehidupan yang sempurna dan bahagia selalu menjadi dambaan semua orang, tak ubahnya dengan diriku. Hidup yang nyaman, suami yang mapan, dan kedua putra yang tampan, semuanya telah aku miliki. Namun, aku tidak terlalu menggubris keinginan Daffin yang ingin memiliki anak lagi.
"Nyonya Stevano, apa kau sudah hamil?" tanya Daffin untuk yang kesekian kali di setiap pagi.
Bagi Daffin, wanita hamil akan selalu mual di pagi hari dan hal itu menjadi tolak ukur baginya, apakah aku hamil atau tidak. Dia tidak mengerti jika setiap kehamilan memiliki reaksi yang berbeda-beda.
Aku menggelengkan kepala saat menatap Daffin. "Apa kau merasa bahwa benihmu cukup unggul?"
"Tentu! Saat kau mengandung Shaka, aku hanya menyebar benih satu kali. Dan saat kau mengandung Gil, aku juga hanya -"
Aku langsung memotong ucapan Daffin. "Jangan katakan kau hanya menebar satu kali!"
Daffin terkekeh seraya mengecup keningku sekilas. "Aku tidak ingat berapa kali, tapi yang pasti aku tidak pernah gagal melakukannya!"
Astaga!!! Pembicaraan macam apa ini? Lambat laun aku jadi mesum seperti Daffin. Dan coba lihat jam, ini sudah hampir tengah hari, tapi aku masih terbungkus selimut dengan tubuh yang masih bersembunyi di balik tubuh raksasa Daffin.
"Daffin ...." panggilku manja.
"Hemm ...," jawab Daffin malas.
Aku mendongakkan kepalaku untuk melihat wajah Daffin, ternyata dia sudah memejamkan matanya kembali.
"Buka matamu, Daffin!!!" Aku berteriak sekeras mungkin.
Seketika Daffin melepaskan lingkaran tangannya di tubuhku. "Ya Tuhan, apa kau baru saja menelan pengeras suara?"
Tawaku menyembur keluar ketika melihat wajah kesal Daffin yang sedang mengusap telinganya.
"Itulah akibatnya jika kau terus tertidur! Ayo, bangun dan lihat anak-anak! Aku ingin mandi dan pergi berbelanja." Kakiku beringsut turun, sementara tanganku mengapit selimut yang membungkus tubuhku.
Ketika aku baru saja hendak melangkah, tiba-tiba aku kesulitan bergerak dan saat aku menoleh ternyata Daffin sudah menahan selimutku dengan tangan besarnya.
"Daffin, lepaskan!" pintaku dengan mata melotot yang hampir keluar.
Bisa di tebak jika Daffin tidak akan menurutiku, jadi aku berinisiatif untuk melepaskan selimut itu saja agar urusannya cepat selesai.
"Ambillah! Tidurlah sampai kau puas!" sergahku kesal kemudian berjalan dengan tubuh polos.
Semakin lama hidup bersama Daffin, aku sudah tidak begitu menjaga harga diri ataupun kesombonganku seperti dulu. Sekarang aku lebih banyak mengalah demi kedua putraku dan demi hidup yang tenang, walaupun setiap harinya selalu di warnai pertengkaran baik itu antara diriku dan Daffin ataupun pertengkaran antara Shaka dan juga Gil.
Belum sempat aku mencapai pintu kamar mandi, aku merasakan tangan besar Daffin yang hangat menyentuh kulit perutku yang dingin.
"Kenapa suka sekali menggoda Jhonny?" bisik Daffin, membuat seluruh inderaku tiba-tiba tak berfungsi.
Aku menarik nafas dalam. "Itu hanya asumsimu saja!"
Tidak ada jawaban, melainkan tubuhku yang langsung melayang karena Daffin sudah mengangkat tubuhku. Sudah ku katakan bukan, Daffin sangat suka menggendongku seperti ini! Aku berpikir untuk menambah berat badanku agar dia keberatan dan berhenti melakukan hal seperti ini.
"Daffin, turunkan aku!" jeritku, dengan tangan yang terus memukuli dada bidang Daffin yang terbuka.
"Akan aku lakukan, My Starfish," jawab Daffin lembut.
Daffin memang menurunkan aku, tapi percayalah dia tidak menurunkan aku di atas kakiku sendiri, melainkan di dalam bathtub dan langsung menyusulku tanpa perintah siapapun.
***
"Selamat pagi, Bu," sapa Daffin pada ibu yang sedang bermain dengan Gil.
Sejak aku resmi menikah dengan Daffin sebagai Lily Kafeel, Daffin merubah panggilannya pada ibu atas izin dari ibu karena sebelumnya ibu selalu menolak siapapun memanggilnya ibu selain putrinya sendiri. Kini aku sudah kembali dan menikah dengan Daffin, maka ibu pun membiarkan Daffin memanggilnya ibu, sama seperti diriku.
__ADS_1
Aku melirik sebal ke arah Daffin yang terlihat sangat bersemangat. "Kau tidak lihat jam berapa ini? Matahari bahkan sudah berada di atas kepalamu."
"Aku lihat, Nyonya Stevano," jawab Daffin lalu menggendong Gil. "Sedang apa, Gil?" tanyanya lembut.
Sebenarnya aku masih ingin berdebat dengan Daffin tentang ulahnya pagi ini yang membuatku harus terlambat turun untuk mengurus kedua putraku. Namun, melihat Daffin yang begitu bahagia bersama Gil, aku pun menunda protesku.
"Dimana Shaka, Bu?" tanyaku, ketika tak melihat putra sulungku itu dimana pun.
Ibu berdiri dan menghampiriku. "Shaka di taman bersama Rania."
"Baiklah, aku akan menyusul mereka." Aku segera melangkah, tapi Daffin menahan tanganku. "Kenapa?" tanyaku.
"Kau belum mencium putramu pagi ini." Sudut mata Daffin menilik wajah Gil yang murung.
Aku tersenyum simpul dan langsung mengecup kedua pipi bulat Gil. "Maaf, Sayang, Mommy lupa karena pagi ini Daddymu sudah menghabiskan stok ciuman pagi hari Mommy."
Tanpa ku duga, wajah Daffin bersemu merah ketika aku mengatakan hal itu. Aku pikir ucapanku tidak akan mempengaruhi dirinya, tapi dia terlihat begitu malu saat aku mengatakannya.
"Pergilah temui Shaka! Kami akan menunggumu di meja makan." Daffin langsung berbalik untuk menghindariku.
"Ada apa dengannya?" gumamku.
Sentuhan di bahuku membuatku menoleh dan melihat ibu sudah tersenyum hangat. "Daffin sangat mencintaimu, Sayang. Sehingga apapun yang kau lakukan dan katakan, meskipun itu hal kecil. Semua itu akan membuatnya bahagia dan merasa di cintai olehmu."
"Tapi aku memang mencintainya, Bu," ucapku sedikit ragu.
"Ibu tahu, Sayang, tapi terkadang cinta itu perlu di tunjukkan." Tangan lembut ibu membelai rambutku.
Aku mengerti! Daffin rela melakukan apapun di dunia ini hanya agar aku bahagia karena dia mencintaiku. Maka aku pun harus melakukan sesuatu yang membuatnya bahagia sebagai pembuktian bahwa aku juga mencintainya, tapi bukankah aku sudah membuktikan cintaku padanya dengan memberikan dua orang putra yang tampan untuknya? Apakah aku harus menuruti keinginannya untuk memiliki satu orang anak lagi? Tapi jika dia benar-benar ingin delapan anak, bagaimana? Ah, perutku langsung mulas seperti ingin melahirkan.
"Kenapa, Sayang?" tanya ibu, langsung menarikku kembali ke alam nyata.
Ibu Tersenyum seraya menepuk bahuku. "Kalau begitu, cepat temui putramu!"
Aku mengangguk dan langsung berjalan menuju taman. Begitu sampai disana, aku melihat Shaka sedang bermain puzzle seorang diri, sementara Rania sedang berbicara dengan Ersya.
"Kapan dia datang?" gumamku, berniat menghampiri keduanya.
Saat aku hampir mendekat, aku mendengar sesuatu yang aneh dari pembicaraan keduanya.
"Aku sudah mengatakan, aku tidak akan melakukannya selama tuan muda masih memerlukan diriku!" hardik Rania.
"Tapi aku sudah terlalu lama menunggumu! Sampai kapan aku harus menunggu?" tanya Ersya, dia terlihat putus asa.
"Siapa yang memintamu untuk menungguku, Tuan? Pergilah dan cari wanita lain! Aku tidak pantas untukmu." Rania melepaskan paksa tangan Ersya yang menggenggam tangannya.
Sejauh ini, aku masih mencerna pembicaraan mereka hingga aku mendengar Ersya berteriak tepat setelah Rania berbalik untuk menjauhinya.
"Aku bersumpah, tidak akan menikahi wanita manapun selain dirimu, Rania!" teriak Ersya, dengan tangan mengepal.
Aku benar-benar terkejut hingga hampir berteriak, jika saja tanganku terlambat membungkam mulutku.
Rania berbalik dan menatap nanar sosok Ersya yang masih menanti jawabannya. "Jangan mempersulit hidupku, Tuan! Aku tidak akan menikah denganmu."
Ada apa dengan Rania? Haruskah aku ikut campur? Pantaskah aku terlibat dalam urusan cinta mereka? Tapi Rania adalah temanku dan aku juga sudah menganggap Ersya sebagai kakakku, jadi tidak masalah bukan jika aku menceburkan diriku ke dalam cinta mereka.
"Kenapa kau menolak kak Ersya, Rania?" tanyaku, begitu posisiku sudah mendekat pada Rania.
"Nyo- Nyonya ...," Wajah Rania memucat ketika melihat kedatanganku.
__ADS_1
"Aku menunggu jawabanmu, Rania! Bukankah kita teman? Kenapa kau menyembunyikan hal ini dariku?" desakku, mencoba menekan Rania agar dia mau menjawab.
Kepala Rania tertunduk, tak berani bertatapan denganku. "Maaf, Nyonya."
"Aku tidak memintamu untuk memohon maaf dariku karena kau tidak bersalah! Aku hanya ingin tahu kenapa kau menolak lamaran kak Ersya?" tanyaku, kali ini sedikit melemah.
Tiba-tiba Ersya melangkah maju dan berdiri di antara aku dan Rania. "Ini semua karena tuan Stevano!"
Dahiku mengernyit. "Hei, kenapa kau menyalahkan suamiku, Kak?"
Ersya mendengus kesal. "Karena dia menghidupkan kembali Shaka di hati Rania!"
"Apa maksudmu?" tanyaku sinis.
"Putramu, Shaka. Kenapa tuan Stevano memberinya nama itu? Bukankah agar Shaka tetap hidup di antara kalian? Agar kalian bisa merasakan kehadirannya?" Telunjuk Ersya mengarah pada Shaka yang tengah bermain. "Ada banyak nama di dunia ini, kenapa harus memakai nama Shaka? Apakah dia tidak tahu, jika hal itu membuat Rania sulit melupakan Shaka? Pria tak berhati yang terus menyakiti hatinya!" tegasnya.
Mataku menatap putraku yang suci, tapi sudah menjadi terdakwa dalam hal ini. "Apalah arti sebuah nama, Kak? Daffin hanya menyukai nama Shaka. Bukan berarti kami ingin menghidupkan kembali Shaka di antara kami karena hal itu sangat mustahil terjadi. Dan jika Rania masih belum bisa melupakan Shaka meski kau sudah mencobanya, itu artinya kau telah gagal merebut hatinya. Semua itu bukan kesalahan Daffin ataupun putraku!"
"Tapi, Ayasya -"
"Kak, jika kau mencintai Rania, buktikan! Jangan memaksakan hatimu padanya!" selaku, tanpa menunggu Ersya menyelesaikan ucapannya.
Melihat kebungkaman Ersya, aku langsung mendekati Shaka yang nampaknya tak peduli dengan keributan yang sedang terjadi.
"Sayang, sedang apa?" tanyaku, seraya berjongkok di hadapan Shaka.
Shaka menatapku dengan mata birunya yang memikat. "Bermain puzzle, Mommy!"
Aku tersenyum dan mengusap kepala Shaka. "Ayo, masuk! Daddy dan Gil sudah menunggu kita untuk makan bersama."
"Nyonya ...."
Aku menoleh dan melihat Rania sudah menunduk di hadapanku. Wajahnya nampak di liputi banyak perasaan bersalah.
"Kak, bisa bantu aku bawa Shaka ke dalam?" pintaku pada Ersya yang masih berdiri di tempatnya. "Aku ingin bicara berdua saja dengan Rania."
Walaupun terlihat ragu, tapi Ersya akhirnya tetap masuk dan membawa Shaka bersamanya.
"Duduklah, Rania!" titahku lalu duduk di kursi yang ada di taman. "Katakan padaku yang sejujurnya, kenapa kau menolak kak Ersya? Dan sejak kapan kalian memiliki hubungan?" tanyaku.
Rania terus tertunduk. "Sebenarnya, Nyonya ...."
"Katakan, Rania! Keluarkan semua keraguanmu! Aku akan membantumu." Tanganku meraih tangan Rania yang terasa dingin.
"Nyonya, saya merasa tidak pantas bersanding dengan tuan Ersya." Air mata Rania tiba-tiba jatuh. "Tuan Ersya berasal dari keluarga baik-baik, sementara saya hanyalah anak sebatang kara yang tidak tahu dimana keberadaan keluarga saya. Lagipula, saya takut jika keluarga tuan Ersya tidak akan menerima hubungan kami. Saya sudah sering menolak tuan Ersya, tapi dia terus saja mengejar saya hingga saya pun tidak bisa lari lagi." jelasnya.
Aku menghapus air mata Rania. "Kau gadis yang baik, pintar, dan memiliki kualitas, Rania. Tidak ada gadis sebaik dirimu yang pantas bersanding dengan kak Ersya! Kau ingat, Rania? Aku juga hanya wanita sebatang kara yang tidak tahu asal-usulku saat Daffin dan kak Erlan menikahiku, tapi pada akhirnya aku bisa menemukan kelurgaku dan hidup bahagia seperti hari ini. Percayalah pada takdir yang di tuliskan Tuhan untukmu! Jika kak Ersya memang jodohmu, aku yakin kalian akan menemukan kebahagiaan kalian sendiri. Dan tentang keluarga Kencana, kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu! Aku yang akan mengurusnya. Aku hanya perlu tahu satu hal, apakah kau mencintai kak Ersya?"
Tatapan Rania menatap jauh ke depan sebelum akhirnya dia memberikan jawaban yang benar-benar keluar dari hatinya.
"Saya mencintainya, Nyonya ...."
Hallo semuanya π€
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI π
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
I β€ U readers kesayangan kuhh
__ADS_1