Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
MASALAH BARU


__ADS_3

Karma. Satu kata yang akan membuat ingatan berputar ke masa lalu dimana kesalahan pernah terjadi.


Bukan tanpa sebab aku berpikir bahwa kisah cinta antara aku, Daffin, dan juga Reena adalah sebuah karma karena sebelumnya orang tuaku dan juga ibunya Reena mengalami kisah yang hampir sama seperti diriku. Bedanya, aku adalah istri kedua sedangkan ibuku adalah istri pertama. Saat ini, aku hanya berpikir bahwa hidup sedang menegur sikap acuh ayahku terhadap ibuku yang telah memberikan kebahagiaan padanya hanya karena dia lebih mempercayai selirnya itu. Dan kini, Daffin lebih memilih aku yang jelas-jelas hanyalah selirnya. Daffin bahkan rela menceraikan Reena serta meninggalkan semua kenangan mereka berdua. Hal itu jelas lebih menyakitkan dari apa yang telah di lakukan ayahku terhadap ibuku.


Ayah? Ibu? Ah, aku terlalu asing dengan keduanya, tapi aku harus mulai terbiasa karena ke depannya aku pasti akan lebih sering mendengar kedua kata itu.


"Kau dan aku ... mungkinkah karma?"


Pertanyaanku seketika membuat Daffin tak berkutik. Dia begitu terpana dengan pemikiranku yang luar biasa hingga tak mampu berkata-kata dan hanya menatapku dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Aku tidak tahu ini karma atau bukan, tapi satu yang pasti bahwa aku sangat mencintaimu." ungkap Daffin, setelah kesadarannya kembali.


"Bosan!" Aku berdiri dan menyentakkan kakiku.


"Kau bosan? Kenapa? Ingin pulang sekarang?" tanya Daffin bingung.


Aku mendengus kesal. "Bosan mendengarmu mengatakan cinta!"


Tiba-tiba seringai jahat muncul di wajah maskulin Daffin. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita mempraktikkan apa itu cinta?"


Perasaanku tidak enak. Pasti Daffin sedang mencoba untuk membodohiku. Dia tahu betul bahwa aku tidak akan mengerti hal-hal yang seperti itu, jadi dia pasti sedang mencoba untuk mengambil keuntungan dariku.


"Tidak!" tolakku dengan mata yang memicing ketika menatap Daffin. "Aku ingin pulang." ungkapku.


"Baiklah, ayo, kita pulang!" Daffin menggenggam tanganku dan mendekapnya di dada bidangnya.


***


Tak terasa, waktu sudah sangat larut ketika aku dan Daffin sampai di rumah. Kami juga dikejutkan dengan sosok Maya yang tertidur di sofa dengan posisi meringkuk.


"Selamat malam, Tuan. Selamat malam, Nyonya," sapa Shaka, dia tiba-tiba muncul entah darimana.


"Malam, Shaka," jawabku santai, lalu menatap ke arah Maya yang masih tertidur pulas.


"Kenapa kau membiarkan Maya tertidur di sini, Shaka?" tanya Daffin, nada bicaranya datar dan tenang. Namun, aku yakin dia sangat marah pada Shaka saat ini.


Shaka menunduk. "Maaf, Tuan, tapi nyonya besar bersikeras ingin menunggu anda dan nyonya kembali."


"Tapi kau bisa menyuruhnya untuk menunggu di kamarnya! Apa kau tiba-tiba menjadi bodoh seperti ikan buntal itu?" oceh Daffin seraya melirik ke arahku.


Aku memutar bola mataku dengan malas melihat tingkah Daffin yang mulai mencari masalah kembali denganku. "Aku ikan buntal, dan anakmu nanti teripang."


Gelak tawa pecah dari bibir Daffin saat dia melihat wajahku yang sudah kesal dan rasanya ingin sekali aku meledakkan bom atom di otaknya itu.


"Jangan marah, My Starfish! Aku hanya bercanda. Lagi pula, walaupun kau seperti ikan buntal ataupun bintang laut, aku akan tetap -" Rayuan Daffin tak sampai selesai karena aku langsung memotong kata-katanya.

__ADS_1


"Berhenti! Aku sudah tahu apa yang akan kau katakan." selorohku seraya mencebik.


"Memangnya apa yang akan aku katakan?"


"Aku akan tetap mencintaimu. Itu yang akan kau katakan, apa aku benar?"


"Aku juga sangat mencintaimu, Nyonya Stevano." Daffin kembali menatap Shaka. "Kau lihat! Catat tanggal ini! Ini pertama kalinya nyonya Stevano mengutarakan perasaannya padaku." titah Daffin.


Ya Tuhan, setiap hal yang di lakukan dan di ucapkan oleh si Plankton selalu penuh dengan jebakan.


"Aku tidak mengatakan hal itu!" hardikku, kemudian melemparkan bantal ke wajah Daffin.


"Baiklah, anggap aku tuli! Tapi apa kau mendengar apa yang di katakan nyonyamu tadi, Shaka?" tanya Daffin, aku melihat dia melirik ke arah Shaka.


Shaka mengangguk pasti dan membungkuk hormat sebagai jawaban serta dukungannya terhadap Daffin.


"Lihat! Shaka pun mendengarnya." seru Daffin penuh semangat.


Lihat saja kau, Kanebo! Suatu hari nanti, aku akan membalas semua kekesalan ini padamu. Kapan kira-kira saat itu tiba? Ah, aku terlalu banyak berharap pada diriku sendiri.


Di tengah perdebatan konyol antara aku dan Daffin yang di wasiti oleh Shaka, tiba-tiba Maya bergumam dan membuka matanya.


"Kalian sudah kembali?" tanya Maya dengan suara parau.


"Iya, Maya, tapi kami tidak tega untuk membangunkanmu." jawab Daffin, dia sudah menghampiri Maya.


Sebenarnya, ingin sekali aku memeluk Maya dan mengatakan bahwa aku bersyukur karena akhirnya Tuhan mempertemukan aku dengan dirinya. Namun, aku terlalu malu dengan sikapku yang kurang baik sebelumnya terhadap Maya.


"Belum. Sejak tadi nyonya Stevano merasa mual dan di pesta juga dia tiba-tiba menghilang." jawab Daffin, dia memasang wajah memelas yang membuatku semakin kesal melihatnya.


"Aku bosan di pesta, Daffin, jadi aku keluar untuk mencari udara segar." sergahku, tak terima dengan pernyataan Daffin.


Daffin menatapku dengan tajam. "Itu artinya kau ingin datang hanya karena pria itu?"


Aku bisa merasakan kecemburuan pada pertanyaan Daffin, tapi aku tak berniat untuk menghiraukannya. "Tidak juga. Aku hanya tidak nyaman berada di tempat yang terlalu banyak orang. Lagi pula, acara-acara seperti itu sangat membosankan."


"Kau harus terbiasa, Sayang, karena selain menjadi istri dari pemilik DS Corp, kau juga akan mengambil alih perusahaan ayahmu." tutur Maya lembut.


"A- Apa katamu?" Kerongkonganku tercekat akibat kalimat terakhir Maya. "Aku tidak ingin apapun yang dimiliki oleh suamimu." sanggahku.


"Benar, Maya! Aku masih mampu menghidupi istriku. Lagi pula, apa yang di miliki keluarga Kafeel hanyalah separuh dari apa yang aku miliki." ucap Daffin bangga.


Dasar Plankton sombong!!!


"Aku tahu, Daffin, tapi aku ingin putriku mendapatkan apa yang seharusnya menjadi miliknya." jelas Maya, aku melihat sosok lain dari dirinya.

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak ingin menjadi bagian dari keluarga Kafeel. Aku ingin menjalani hidupku dengan tenang." tolakku, lalu berjalan untuk menuju kamarku.


"Ada apa dengan pipimu, Maya?" tanya Daffin khawatir.


Suara Daffin yang terdengar panik, seketika membuatku menoleh dan melihat Daffin sedang memandangi pipi Maya.


"Tidak apa-apa, Daffin, aku hanya -" elak Maya, ucapannya yang terbata membuatku meyakini satu hal.


"Mendapat tamparan dari seseorang!" sahutku seraya melangkah kembali untuk mendekati Maya dan juga Daffin.


Daffin terkejut dan menoleh ke arahku sebelum kembali menatap Maya. "Apakah itu benar, Maya?"


Maya memalingkan wajahnya, tanda bahwa apa yang aku katakan adalah benar. Dia juga menghindari kontak matanya denganku.


"Shaka!!!" teriak Daffin, aku rasa rumah ini akan runtuh jika dia terus berteriak seperti itu.


"Ini bukan salah Shaka, Daffin," ucap Maya, mencoba menenangkan Daffin.


"Tidak, Maya! Aku memintanya untuk menjagamu, tapi dia bahkan membiarkanmu terluka." sergah Daffin emosi.


"Maaf, Tuan," lirih Shaka.


Aku bisa mendengar penyesalan yang teramat dalam dari kata-kata Shaka. Pria itu bahkan tidak berani menaikkan pandangannya.


"Kau membuatku kecewa, Shaka," ucap Daffin, dia kembali menatap Maya. "Katakan, Maya! Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Daffin.


Kegelisahan langsung terlihat jelas di wajah Maya. Dia juga terlihat salah tingkah serta enggan menjawab pertanyaan Daffin.


"Maya, jawablah!" desak Daffin.


"Reena." jawab Maya lirih.


"Reena?" Daffin menaikkan sebelah alisnya. "Apa dia datang kesini? Dimana para pengawal yang berjaga?" tanya Daffin tak sabaran.


"Daffin! Daffin! Dengar! Bukan mereka yang salah, tapi akulah yang datang ke Kafeel Corporation." jelas Maya.


Sontak saja, hal itu mengejutkan aku dan juga Daffin hingga kami hanya saling pandang tak tahu harus berkata apa.


"Kenapa kau kesana, Maya?" tanya Daffin pasrah.


"Aku ingin mencari keadilan untuk putriku." jawab Maya, dia terlihat begitu terpuruk.


"Dan kau mendapatkannya?" tanyaku yang di balas gelengan kepala oleh Maya. "Itu artinya kau hanya mencari masalah untukku."


Hallo semuanya πŸ€—

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2