
Rasa kecewa yang telah di torehkan Daffin di dalam hatiku sudah membuat sebuah lubang yang menganga di sana. Amarahku rasanya sudah seperti gunung berapi yang siap untuk memuntahkan laharnya. Namun, aku harus menahan semua itu sampai saatnya tiba. Untuk saat ini, aku akan mengesampingkan perasaanku demi kesembuhan Shaka.
Air mata yang mulai mengering di pipiku sedikitnya sudah mengurangi rasa sesak di dadaku. Dengan satu helaan nafas panjang, aku berusaha untuk berdiri dan menghadap cermin.
Mata sembab dengan rambut yang berantakan dan juga pakaian yang sedikit kusut membuatku terlihat sangat menyedihkan.
"Tidak, Ayasya! Jangan lemah! Jika kau menangis, itu sama saja seperti kau mengaku kalah dari gurita betina itu." Aku menatap pantulan wajahku di cermin layaknya lawan bicara.
Walau hatiku masih terasa begitu sakit, aku tetap harus menghadapi ini. Aku tidak akan membiarkan gurita betina itu menyemprotkan tinta hitamnya ke dalam hidupku lagi.
BYUURRR ...
Aku membasuh wajahku dengan cepat hingga seluruh wajahku tersapu air. Bergegas aku keluar dari kamar mandi dan melihat Rania masih berada di dalam kamarku dengan wajah yang di penuhi kekhawatiran.
"Nyonya ...," Rania melangkah mendekatiku.
"Bantu aku mengganti pakaianku, Rania! Dan ya, apa kak Ersya sudah pulang?" tanyaku seraya berjalan menuju walk in closet tanpa menghiraukan tatapan cemas Rania.
Langkah kaki Rania terdengar mengikutiku. "Tuan Ersya masih disini, Nyonya, tapi detective yang di panggil tuan sudah pergi."
Aku mengangguk paham. "Oh, baiklah! Ayo, bantu aku!"
Rania melangkah melewati aku dan membuka almari yang berisi deretan gaun mewah yang telah di siapkan oleh Daffin, nyaris seperti sebuah butik.
"Silahkan, Nyonya," ucap Rania ketika dia berbalik menghadapku.
"Pilihkan saja yang mana menurutmu bagus untukku! Ah iya, pilihkan gaun yang sedikit terbuka!" titahku, tanpa memperhatikan raut wajah Rania.
Sementara Rania memilih pakaian untukku, aku sibuk memainkan ponselku dan menghubungi seseorang.
"Hallo, Lily," Suara seseorang di seberang panggilan.
"Hallo, Om, bisa bantu aku?"
***
Langkah kakiku menapaki anak tangga dengan perlahan. Di bawah sana, aku melihat Daffin masih terlibat pembicaraan dengan Ersya. Tak jauh dari tempat mereka, ada ayah dan ibu yang sedang berbincang.
"Lily ...," panggil ayah, segera aku menghampiri ayah dan ibu.
Aku memeluk ayah sekilas. "Kapan datang, Yah?"
"Baru saja, Sayang," jawab ayah lalu menatapku tajam. "Kau mau kemana, Lily?" tanyanya.
__ADS_1
Bibirku menyunggingkan senyuman. "Aku ingin melihat kondisi Shaka sekaligus bertemu dengan om Rei, Ayah."
"Apa!!!"
Tiba-tiba aku di kejutkan oleh teriakan Daffin. Ketika aku menoleh, aku melihatnya sedang berjalan ke arahku.
"Kenapa kau tidak memberitahuku? Bukankah kau mengatakan jika kau lelah tadi? Lalu kenapa sekarang kau ingin pergi menemui dokter Reinhard?" tanya Daffin, sorot matanya begitu tajam.
Beradu pandang seperti ini dengannya, membuatku kembali teringat apa yang telah Daffin lakukan padaku. Kecemburuannya seperti sebuah garam yang di taburkan di atas lukaku. Sikap posesifnya tidak berjalan beriringan dengan prinsip cintanya.
"Aku lelah. Memang benar! Tapi sekarang aku sudah tidak lelah. Aku berpikir mungkin Shaka akan senang jika aku mengunjunginya. Dan sekalian saja aku bertemu dengan om Rei. Lagi pula, ada hal yang harus aku bicarakan dengan om kesayanganku." Aku membalas tatapan tajam Daffin dengan senyuman sinis. "Ayah, Ibu, aku pergi sekarang. Jangan menungguku untuk makan malam! Mungkin aku akan makan malam di rumah sakit." ucapku seraya melangkah untuk melewati Daffin.
Kakiku bahkan belum melangkah menjauhi Daffin, tapi tangan besar Daffin sudah menahan tanganku. Dia bahkan mencengkram tanganku dengan kuat hingga aku nyaris meringis, tapi beruntung aku berhasil menyembunyikannya.
"Ganti pakaianmu! Aku akan menunggu disini!" titah Daffin datar dengan wajah dinginnya.
Aku berusaha menahan emosiku dan tersenyum kecut. "Kenapa aku harus menggantinya? Ini sangat cantik dan aku menyukainya."
Cengkraman tangan Daffin semakin kencang ketika pandangan matanya bertumpu pada bahuku yang terbuka. "Jangan menguji kesabaranku, Nyonya Stevano!"
Apa katanya? Aku menguji kesabarannya? Huh! Yang benar adalah dia yang mencoba membangkitkan amarahku lagi.
Nafasku menderu karena sekuat tenaga aku menahan emosiku, tapi aku tetap menarik senyuman di sudut bibirku meski dengan sangat terpaksa.
"Maka dari itu, Daffin, jangan terus bersabar dalam menghadapiku! Keluarkan saja semua amarahmu! Aku sudah terbiasa." Tanganku menepis tangan besar Daffin.
"Ayo, Rania!" Aku sudah berbalik dan melangkah menjauhi Daffin lalu menghampiri Ersya. "Kak, apa kau masih akan disini? Jika tidak, bisakah kau mengantarku? Aku pikir sepertinya suamiku sedang sibuk dengan semua rahasianya." sindirku.
Ersya langsung berdiri dan menatapku. "Tentu! Aku akan mengantarmu."
Aku tersenyum senang. "Kalau begitu, ayo!"
Langkah kakiku beriringan dengan Ersya, sementara Rania berjalan di belakang kami.
"Tunggu, Nyonya Stevano!" teriak Daffin, tubuh raksasanya sudah berada di hadapanku.
Aku menoleh pada Ersya dan Rania. "Kalian pergi lebih dulu, aku akan menyusul!"
Setelah Rania dan Ersya keluar, aku pun menatap Daffin yang sudah diliputi amarah. Jika saja ayah dan ibu tidak disini, aku yakin dia akan melakukan hal yang tidak-tidak.
"Apa maksud semua ini?" tanya Daffin datar.
"Kau pikir apa? Bukankah otakmu besar?" jawabku santai.
__ADS_1
Daffin meraih tanganku, tapi aku segera menepisnya hingga dia berdecak. "Katakan apa kesalahanku?"
"Kau tidak pernah salah, Daffin! Akulah yang selalu bersalah." Kakiku sudah siap melangkah.
"Jika kau keluar dari rumah ini, aku tidak akan pernah memintamu untuk kembali!" ancam Daffin.
Bagaikan anak panah yang melesat cepat menembus jantungku, aku kehilangan nyawaku saat ini. Ternyata pria yang aku cintai tak pernah benar-benar mencintaiku. Buktinya dengan mudah dia mengatakan hal itu padaku di saat aku sedang mengandung putranya. Dia pikir aku takut? Huh! Aku tidak takut! Dia yang sudah memulainya! Akan sangat mengecewakan jika aku tidak melayaninya.
"Akhirnya ...," Aku menghembuskan nafas kasar. "Kau melepaskan aku juga!" tegasku.
"Lily!!! Daffin!!!" teriak ibu, lalu setengah berlari menghampiriku. "Apa yang kalian lakukan?" tanya ibu panik.
Ayah dan ibu menatap bingung padaku dan juga Daffin, tapi aku bersikeras untuk tetap bungkam.
"Maya, aku hanya -" Daffin tak bisa menyelesaikan kata-katanya karena ibu langsung mengangkat tangannya dan menampar wajah Daffin.
PLAK ...
Suara yang memekakan telinga. Dimana aku dan ayah hanya bisa menganga melihat sikap ibu yang tidak terduga.
"Maaf, Daffin! Aku memang menyayangimu dan menganggapmu sebagai putraku, tapi aku tidak akan tinggal diam jika kau menyakiti putriku." Ibu menggenggam tanganku. "Jika Lily bersalah, aku akan diam. Namun, jika Lily tidak bersalah, aku tidak akan diam saja melihatmu memperlakukannya seperti ini! Kau ingin Lily pergi? Baiklah, aku akan membawanya pergi ke rumah ayahnya. Mungkin aku memang seharusnya melakukan hal ini sejak lama." Ibu sudah menarik tanganku untuk mengikutinya.
"Tunggu dulu, Maya! Aku tidak bermaksud memintanya untuk pergi. Aku hanya mencoba untuk menahannya." Daffin membentangkan tangannya untuk menghalangi jalan kami.
Kali ini, entah mengapa aku tidak ingin mengatakan apapun. Tidak seperti biasanya dimana aku akan terus mengoceh tidak jelas bahkan tanpa arah, tapi situasi ini sangat berbeda. Terlebih amarah ibu membuatku cukup terkejut. Selama ini, ibu tidak pernah sekalipun marah baik padaku ataupun Daffin. Amarahnya sungguh menakutkan walaupun ibu tidak berteriak seperti yang biasa aku lakukan ketika aku marah.
"Kau menahan Lily hanya untuk menyakitinya! Kau bahkan tidak mencoba mencari tahu apa yang telah membuat istrimu bersikap seperti itu. Bukankah kau membenci sikap Reyno yang tidak pernah mencari tahu kebenarannya? Kenapa sekarang kau melakukan hal yang sama? Kau mengecewakan aku, Daffin!" sergah ibu.
Daffin menundukkan kepalanya. "Maaf, Maya ...."
"Kau tidak bersalah padaku, Daffin! Kau bersalah pada Lily. Selama kau belum mendapatkan maaf darinya, dengan berat hati aku tidak bisa membiarkan Lily untuk tetap bersamamu." Ibu mendorong tubuh Daffin ke samping.
Ajaibnya, tubuh tinggi menjulang Daffin yang bagaikan raksasa langsung bergeser walaupun ibu hanya mendorongnya dengan sedikit tenaga.
Sebelum melangkah keluar, pandanganku sempat bertemu dengan Daffin. Dalam hatiku, aku menjerit, menangis, dan meronta. Meratapi nasib rumah tangga dan juga cinta pertamaku yang kandas karena ketidakterbukaan Daffin kepadaku.
"Ayah ...," lirih Daffin ketika dia berhadapan dengan ayah.
Aku sempat menoleh dan melihat ayah menyentuh bahu Daffin. "Menangkan hatinya! Maka aku akan membuka jalan bagimu."
Hallo semuanya π€
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk DiMenCI π
__ADS_1
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
I β€ U readers kesayangan kuhh