Dijebak Menikah CEO Beristri

Dijebak Menikah CEO Beristri
LUKA TERTAHAN


__ADS_3

Perasaan terkadang memang tidak sejalan dengan pikiran. Apa yang di inginkan hati, selalu sulit untuk di pahami oleh otak dan dilema seperti itu sedang aku alami saat ini.


"Daffin, lepaskan tanganku!" teriakku seraya menarik tanganku yang di genggam Daffin.


"Ada apa ini?" tanya Maya, dia tiba-tiba muncul dari arah dapur.


Aku melihat tangan Maya yang di penuhi oleh nampan berisi kue-kue yang kelihatan lezat dan menggugah selera.


"Tidak ada apa-apa," sergahku kemudian berlalu meninggalkan Maya bersama Daffin yang masih termangu karena aku baru saja menghempaskan tangannya.


"Tunggu!"


Suara Daffin menghentikan langkahku, tapi tak cukup membuatku kembali kepadanya.


"Bukankah ada yang ingin kau sampaikan pada Maya?" tanya Daffin, aku memang tak melihat wajahnya. Tapi aku yakin, Daffin sedang mencoba untuk memojokkanku.


"Aku?" Aku berbalik seraya mengarahkan telunjuk ke wajahku sendiri. "Aku tidak berkata begitu," sanggahku.


Daffin terkekeh. "Kau benar! Aku yang akan mengatakannya. Maya, sebenarnya -"


"Sebenarnya, kau tidak harus lelah bekerja seperti itu karena kami sudah memperkerjakan pelayan." Aku segera menyambar ucapan Daffin sebelum dia mengatakan hal yang begitu menyakitkan bagi Maya.


Sial! Kenapa aku masih saja mengkhawatirkan wanita jahat itu? Dia bahkan sudah tidak mengingat tentang diriku.


Aku merasakan mata biru Daffin menatapku dengan tajam, tapi kali ini tatapan itu seolah mempertanyakan tindakanku.


"Kau yakin itu yang ingin kau katakan?" selidik Daffin, bola matanya seolah tak ingin melepaskan diriku.


"Tentu! Aku tidak ingin ada tamu yang bekerja di rumahku." sinisku, lalu melemparkan senyuman terpaksa kepada Maya. "Jika rumah ini memang milikku," sambungku.


"Tapi Maya bukan tamu, Ayasya, dia sudah seperti ibuku. Kehadirannya membawa berkah bagi kita." ucap Daffin, dia terlihat lebih terluka daripada Maya.


"Dia seperti ibumu, tapi dia bukan ibuku." Aku melanjutkan langkahku dan meninggalkan Daffin serta Maya di belakangku.


***


"Apa yang sebenarnya kau inginkan?" tanya Daffin sinis, dia sudah bergabung denganku yang tengah menikmati udara sore hari di tepi kolam.


"Aku tidak mengerti," elakku, rasanya aku begitu enggan membicarakan masalah yang sama secara berulang-ulang.


Tangan besar Daffin menangkup kedua pipiku dan membuat pandangan kami bertemu. "Katakan! Apa yang kau sembunyikan dariku?"

__ADS_1


"Apa?" tanyaku balik.


"Aku tahu, kau menyembunyikan sesuatu. Kau tidak akan mungkin tiba-tiba bersikap seperti itu pada Maya. Aku ingat betul bagaimana kau dan Maya begitu dekat, tapi kenapa sekarang kau bersikap seolah kau membenci Maya?" tanya Daffin lagi, dia terlihat begitu penasaran dengan perubahan sikapku.


'Aku memang membenci wanita itu! Sangat!!!'


"Aku tidak membencinya, Daffin! Jika aku membencinya, aku tidak akan menahanmu untuk mengusirnya." sanggahku.


"Itu juga yang membuatku tidak mengerti. Sebelumnya kau ingin agar Maya keluar dari rumah ini, tapi mendadak kau mencegahku untuk meminta Maya pergi." ucap Daffin, aku melihat kekesalan yang membuncah di matanya.


"Kau marah padaku?" tanyaku, tak kalah kesal daripada Daffin.


Daffin menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Tidak, My Starfish, aku hanya ingin memastikan apa yang sebenarnya kau inginkan."


"Aku ingin ... kau menjauh dariku!" lontarku kesal.


Bukan tanpa sebab aku bersikap seperti itu, karena setiap kali melihat wajah Daffin aku selalu mual dan ingin sekali melemparkan sandal ke arahnya.


"Tidak mungkin! Kau sedang hamil dan aku takut kau membutuhkan sesuatu." sergah Daffin, dia benar-benar terlihat berbeda.


"Jangan menjadikan kehamilanku sebagai alasan! Kau tahu, bahkan anak ini tidak ingin dekat dengan dirimu." Aku mengusap perutku yang masih rata.


"Tidak! Dia mengatakan ingin jauh darimu. Dia takut wajahmu akan menurun padanya." selorohku.


"Tentu saja! Wajahnya harus mirip denganku karena aku daddynya. Lagi pula, bukankah wajahku ini sangat tampan?" tanya Daffin, dia sedang menyombongkan diri.


"Bagaimana jika dia seorang wanita? Apakah dia juga harus mirip denganmu? Bukankah itu akan sangat mengerikan?" selorohku yang di iringi tawa ringan.


Daffin menatapku tanpa berkedip. "Jika dia seorang wanita, aku ingin wajahnya persis seperti dirimu."


"Kau yakin?" tanyaku bermaksud menggoda.


"Sangat yakin! Karena wajahmu begitu lembut dan menenangkan, sama seperti wajah Maya." jawab Daffin lembut. Dia tak menyadari bahwa jawabannya kembali memancing amarahku.


"Aku dan dia tidak ada hubungan sama sekali. Jadi, jangan pernah mengatakan bahwa wajahku mirip dengannya!" hardikku, tak ayal hal itu membuat Daffin mengerutkan dahinya.


***


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali aku sudah bangun dan bersiap untuk sarapan. Sebelum turun, aku melihat kamar Daffin yang berada di sebelah kamarku masih tertutup rapat.


Ya! Atas permintaanku, akhirnya aku dan Daffin tidur di kamar terpisah karena aku malas melihat wajahnya. Dan semakin aku dekat dengannya, semakin aku merasa mual dan aku juga takut tidak bisa mengendalikan diri untuk melemparkan sandal ke wajahnya.

__ADS_1


"Selamat pagi, Ayasya!" sapa Maya, dia baru saja mencapai anak tangga teratas.


"Pagi," jawabku, kemudian mengambil nampan berisi sarapan yang di bawa Maya. "Kau tidak perlu bersikap seperti ini, atau kau sebenarnya ingin menjadi pelayan di sini?" tanyaku sinis.


"Jaga bicaramu, Ayasya!!!" bentak Daffin, sosok tinggi besarnya memenuhi ambang pintu kamarnya yang baru saja terbuka.


"Kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapanku?" tanyaku masa bodoh, tak sedikitpun merasa bersalah.


"Kemarin kau mengatakan Maya adalah tamu dan aku bisa memaklumi hal itu, tapi sekarang kau mengatakan bahwa Maya adalah pelayan dan aku tidak bisa lagi mentolerirnya!" tegas Daffin, kemarahan begitu jelas di matanya.


"Lalu? Apa yang akan kau lakukan!!!" teriakku seraya melemparkan nampan yang ada di tanganku.


*PR*ANG ...


Pecahan piring dan gelas berserakan di lantai bersamaan dengan sarapan yang di bawakan Maya.


Tangan besar Daffin mengepal, otot-otot wajahnya menegang, begitu juga dengan rahangnya. Dan jujur saja, hal itu bukanlah sesuatu yang baru bagiku.


"Kau!!!" Daffin mengarahkan telunjuknya kepadaku.


"Kenapa aku?" Aku mencebik. "Akhirnya, sandiwaramu hanya bertahan beberapa saat saja. Aku sudah menduganya. Kau tidak akan semudah itu berubah. Dan lihat! Kau mulai memperlihatkan sifat tiranmu lagi."


"Kau mencoba memprovokasi diriku, Ayasya!" sergah Daffin, aku masih melihat kemarahan di matanya.


Sekarang aku mengerti, setiap kali dia marah maka Daffin akan menyebut namaku yang begitu sakral baginya.


"Aku? Sejak awal aku selalu menjadi sasaran kemarahanmu, Tuan Stevano yang terhormat. Jika wanita itu lebih penting bagimu, maka biarkan aku tenang menjalani hidupku!" Kekesalan akhirnya memberikan kekuatan bagiku.


Aku melangkah dan tanpa sadar kakiku menginjak pecahan kaca hingga membuat luka yang cukup dalam.


"Astaga! Kakimu terluka, Ayasya," jerit Maya, matanya terfokus pada kakiku.


"Jangan mendekat!" teriakku dengan tangan terangkat ketika Daffin hendak mendekatiku. "Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!" teriakanku semakin kencang saat Daffin mengangkat tubuhku.


"Maafkan aku, *My Starfis*h, karena aku tidak bisa mengontrol emosiku. Tapi, aku mohon! Jangan siksa aku dengan melihatmu terluka seperti ini."


Hallo semuanya 🤗


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2