
"AYASYA!!! AYASYA!!!"
Pagi-pagi sekali aku sudah mendengar keributan yang berasal dari lantai bawah rumahku. Dengan mata yang masih enggan terbuka, aku pun keluar dari kamarku dan dengan langkah gontai menuruni tangga.
"Siapa yang pagi-pagi buta sudah mengacaukan tidurku?" tanyaku sambil menuruni tangga. Tanganku sibuk mengikat rambutku yang terurai, sedangkan mataku fokus kepada anak tangga yang berada di bawah kakiku.
"Kau memang tidak berperasaan! Kau masih bisa tidur nyenyak dalam situasi seperti ini," teriak seseorang yang berada di bawah tangga.
Mataku langsung terfokus pada sosok Reena yang sedang berdiri sambil menatapku. "Oh, Kak Reena? Seharusnya aku sudah menduganya," Satu anak tangga terakhir membuatku berhadapan dengannya.
"Dimana, Daffin?" tanya Reena dengan nafas yang menderu-deru, menahan emosi rupanya.
"Tidak tahu," jawabku santai sembari melangkah melewatinya.
"Bukankah hari itu kau bersamanya?"
"Kau juga bersamanya," selorohku tak mau kalah.
"Tapi kau yang terakhir bersamanya, Ayasya!"
"Benarkah?Bukannya Daffin kembali ke rumahmu?"
Hari itu, saat terjadinya kepiting tumpah di kantor Daffin. Aku memang memintanya untuk menemaniku, tapi dia tidak datang. Dan jujur saja, aku memang sedikit khawatir padanya. Sudah hampir satu bulan dia menghilang. Aku juga sudah meminta bantuan Ersya untuk menemukannya, tapi Ersya masih belum memberikan aku jawaban.
Flashback on...
Udara malam yang dingin semakin menusuk tulangku, bahkan pakaian yang aku kenakan pun tak mampu menghalau udara dingin yang menerjang malam ini.
Aku masih menunggu Daffin di rooftop rumahku, sesuai dengan permintaannya.
"Baiklah, aku akan menemanimu malam ini. Tapi aku ingin kau menungguku di rooftop rumahmu dan pandanglah langit sambil menungguku."
Entah sudah berapa lama aku menatap langit, yang pasti tubuhku sudah mulai tak mampu menahan terpaan angin malam yang begitu menusuk.
Aku melirik jam di tanganku dan waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam. Ini adalah waktu terlama aku menunggu seseorang.
"Nyonya muda, ini sudah larut malam," Suara Rania mengejutkanku yang sedang terhanyut dalam lamunan.
"Ah, Rania! Aku masih menunggu Daffin. Entahlah, dia akan menepati janjinya atau tidak." ucapku tanpa melihat Rania.
"Mungkin tuan sudah kembali ke rumahnya, Nyonya muda," celetuk Rania yang langsung menarik manik mataku untuk menatapnya. "Ma- Maaf, Nyonya muda, saya tidak bermaksud ...."
Aku menghembuskan nafas kasar. "Sepertinya kau benar, Rania,"
__ADS_1
Dengan perasaan hampa, malam itu aku kembali ke kamarku dan membiarkan cairan bening itu mengalir dari mataku.
Flashback off...
Sorot mata Reena yang menatapku dengan tajam membuatku berpikir bahwa dia juga tidak mengetahui keberadaan Daffin, karena hari ini bukan pertama kalinya dia mencari Daffin ke rumahku. Beberapa hari sebelumnya juga Reena datang dan mencari Daffin, tapi aku juga tidak bisa memberikan jawaban apapun padanya.
"Lalu, dimana Daffin, Ayasya?" tanya Reena, air mata sudah menganak sungai di matanya.
Apa yang harus aku katakan pada wanita ini, Tuhan? Aku saja bahkan harus sekuat tenaga menahan air mataku agar tidak ada yang tahu bahwa aku merindukan sosok Plankton yang menyebalkan itu.
"Kenapa tidak kau cari dia ke kantornya?" jawabku santai sembari meneguk teh hangat yang sudah di siapkan oleh Rania.
PRANG!!!
Reena menepis cangkir yang berada di tanganku. Pecahan cangkir itu berserakan dimana-mana karena terlempar begitu keras.
"Apa yang kau lakukan, Nyonya Stevano?" tanyaku dengan tatapan penuh kekesalan.
"Nyonya Stevano? Heh!" cebik Reena. "Aku akan merebut kembali sebutan itu darimu!"
Setelah mengatakan itu, Reena pergi dan meninggalkanku dengan sejuta pertanyaan yang bersarang di pikiranku.
***
Saat ini, aku dan Ersya sedang terlibat perbincangan di sebuah cafe yang tak jauh dari rumahku.
"Menurutku, tuan Stevano baik-baik saja, Ayasya." jawab Ersya tenang. Bibirnya menyeruput minuman dingin yang menyegarkan itu.
"Apa kau yakin, Kak?" tanyaku lagi, masih belum memahami maksud dari ucapan Ersya.
"Tentu! Saham DS Corp masih stabil. Itu artinya, tuan Stevano masih memegang kendali penuh atas bisnisnya. Kemungkinan terbesar hilangnya tuan Stevano adalah karena keinginannya sendiri." jelas Ersya.
Jika di pikir kembali, mungkin benar apa yang di katakan Ersya. Sebulan Daffin menghilang entah kemana, tapi tak satu pun orang terdekatnya mencari kecuali Reena. Bahkan, Shaka pun tak terlihat batang hidungnya.
"Kalau begitu, aku tidak perlu mengkhawatirkannya." lontarku sembari menyeruput minumanku.
"Kau ... khawatir padanya?" tanya Ersya, dengan nada yang terdengar sedikit aneh di telingaku.
Aku menatap manik mata Ersya. "Apakah aku tidak boleh mengkhawatirkannya, Kak?"
"Bukan begitu, Ayasya! Hanya saja, itu artinya kau memiliki perasaan terhadapnya." sergah Ersya, membuatku tertegun dengan ucapannya.
Benarkah aku memiliki perasaan terhadap Daffin? Tidak!!! Ini pasti hanya karena aku belum mendapatkan buku nikah palsu itu.
__ADS_1
"Tidak, Kak! Aku tidak memiliki perasaan apapun terhadap Daffin!" Aku menghardik ucapan Ersya tanpa menatapnya.
"Buktikan!" tukas Ersya.
Aku mengerutkan dahi. "Apa?"
"Buktikan jika kau tidak memiliki perasaan terhadapnya!" ucap Ersya tajam.
"Bagaimana caranya?"
"Temukan buku nikah kalian!"
***
Sepanjang perjalanan pulang, aku terus memikirkan ucapan Ersya yang memintaku segera menemukan buku nikah itu. Namun, aku masih belum tahu bagaimana caranya.
"Apa yang Anda pikirkan, Nyonya muda?" tanya Rania yang sedang fokus mengemudi.
"Tidak ada," elakku dengan tatapan nanar keluar jendela.
"Anda bisa membagi keresahan Anda dengan saya, Nyonya muda," desak Rania.
Aku menoleh dan melihat kesungguhan di matanya. Aku tidak begitu yakin Rania bisa di percaya atau tidak, tapi setidaknya aku harus mencobanya karena selama ini dia cukup baik dengan tidak mengadukan semua niat burukku pada Daffin meskipun Rania mengetahui semuanya.
Aku menghela nafas sebelum mengutarakan isi hatiku pada Rania. "Aku kehabisan akal, Rania, bagaimana caraku mendapatkan buku nikahku dengan Daffin? Aku saja tidak tahu ada dimana pria menyebalkan itu."
"Anda tidak bisa bertanya pada tuan, tapi Anda bisa mencurinya dari tuan 'kan, Nyonya muda?"
Mataku terbuka lebar ketika Rania mengucapkan itu. "Maksudmu?"
Rania menepikan mobilnya dan menatapku penuh keyakinan. "Karena tuan tidak di ketahui keberadaannya, maka nyonya Reena dan orang-orang kepercayaannya pasti sibuk mencari tuan." Aku menganggukkan kepalaku menyetujui ucapan Rania. "Inilah waktu yang paling tepat untuk menyusup ke dalam rumah besar Stevano dan mencuri buku nikah Anda, Nyonya muda," jelas Rania.
Otakku berputar, mencerna semua ucapan Rania. "Benar juga! Kenapa aku tidak terpikirkan hal itu sebelumnya?" Senyumku mengembang.
Wajah sumringah Rania membuatku semakin semangat untuk menjadi pencuri. Tidak masalah, kan? Aku mencuri di rumah suamiku sendiri. Ya, anggaplah untuk kali ini bahwa Daffin adalah suamiku.
"Kalau begitu, ayo, kita mencuri!!!"
Hallo semuanya 🤗
Jangan lupa di tap jempolnya 👍dan juga tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh
__ADS_1